Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H di SMPM 12 Spemudas Paciran tetap membludak jamaahnya, meskipun dipindah ke halaman sekolah dari lokasi semula yang ditentukan dalam rapat, yakni lapangan sepak bola Kopen Sendangagung.
Perubahan lokasi dilakukan atas pertimbangan khawatir kondisi lapangan becek, sementara curah hujan masih cukup tinggi di kawasan Desa Sendangagung yang dikenal sebagai sentra pengrajin batik dan perhiasan emas.
Sejak Pagi Jamaah Mulai Memadati Lokasi Salat
Sudah sejak pagi pukul 05.15 WIB, Jumat (20/3/2026), warga Desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, mulai terlihat bergerak menuju SMPM 12 Paciran. Sebagian datang menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, dan ada pula yang berjalan kaki meskipun jarak tempuhnya cukup jauh.
Ratusan jamaah Salat Idulfitri yang didominasi warga Muhammadiyah Sendangagung berbondong-bondong memadati jalan raya sepanjang Pos Kamling Sutho hingga Ponpes Al-Ishlah Sendangagung.
Sebelum memasuki lokasi salat, mereka lebih dahulu menuju lapangan pondok untuk memarkir kendaraan yang jaraknya tidak jauh dari halaman SMPM 12 Paciran tersebut.
Jamaah Membludak karena Warga Lokal dan Perantau Pulang Mudik
Membludaknya jumlah jamaah Salat Idulfitri ini tidak hanya disebabkan banyaknya warga Sendangagung yang hadir, tetapi juga karena sejumlah warga perantauan sengaja pulang mudik untuk menikmati Lebaran di kampung halaman.

Di antara jamaah yang datang, terdapat perantau asal Sendangagung dari berbagai daerah, seperti Malang, Blitar, Nganjuk, Bojonegoro, Gresik, Surabaya, dan daerah lainnya. Kehadiran para pemudik ini turut menambah padat suasana pelaksanaan Salat Idulfitri di lokasi.
Khutbah Soroti Umur yang Singkat dan Bekal Taqwa
Pada pelaksanaan kali ini, salat dipimpin oleh imam dan khatib Ustadz Mudzakir Husain M.Pd.I, alumnus MA Al-Ishlah tahun 2001 asal Cumpleng, Brondong, Lamongan.
Dalam khutbahnya, ayah empat anak ini menyoroti empat hal penting. Pertama, umur manusia terbatas dan singkat, sementara perjalanan akhirat begitu jauh dan melelahkan.
“Mari kita manfaatkan sisa hidup kita yang singkat ini untuk memperbanyak amal saleh, prioritas akhirat itu penting karena itu akan menolong urusan dunia, berbuat baik sebagaimana lakukan terhadap kita,” ajak pria kelahiran Lamongan, 5 Maret 1982 ini.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat 77:
“وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَاتَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَاتَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَايُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ”
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan).” (Q.S. Al-Qasas: 77).
Kedua, ia menekankan pentingnya mempersiapkan bekal takwa menuju akhirat. Ketiga, ia menjelaskan bagaimana Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an tentang kondisi orang yang kurang bekal takwa ketika detik-detik sakaratul maut.
Adapun yang keempat, ia menyampaikan kabar gembira yang Allah subhanahu wa ta’ala siapkan bagi orang yang istiqamah mempersiapkan bekal takwa sampai akhir detik kematiannya.





0 Tanggapan
Empty Comments