Semangat Ramadan terasa begitu kuat di Pimpinan Cabang Aisyiyah Jenangan Barat. Pada Rabu, (19/2/2026) bertepatan dengan 2 Ramadan 1447 H, ratusan kader dan simpatisan memadati Gedung Dakwah Sulaiman Dahlan dalam gelaran KADAR (Kajian Dua Ramadan) yang berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan.
Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tanggal dua Ramadan ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperdalam spiritualitas.
Tahun ini, seluruh sembilan ranting hadir dengan penuh antusias: Ranting Aisyiyah Plalangan, Wonosari, Nglegok, Bakayen, Trenceng, Jali, Setono, Singosaren, dan Ngrupit. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan wujud nyata komitmen untuk terus belajar dan berkhidmat di bulan suci.
Ada pemandangan menarik yang mencuri perhatian. Rombongan peserta dari luar Plalangan datang bersama-sama menggunakan rombongan mobil terbuka atau dalam istilah Jawa disebut kol.
Perjalanan kolektif itu bukan sekadar soal transportasi, tetapi simbol kekompakan dan semangat kebersamaan. Di tengah kesejukan pagi Ramadan, wajah-wajah penuh semangat tampak turun dari rombongan mobil, membawa tekad untuk menimba ilmu dan memperkuat gerakan dakwah perempuan.
Pengajian Anjangsana
Sebagaimana tradisi yang telah berjalan, sistem anjangsana menjadi ciri khas kegiatan ini berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya sebagai tuan rumah. Jika pada bulan-bulan biasa pengajian anjangsana dimulai pukul 09.30 hingga menjelang dhuhur, maka khusus Ramadan waktu dimajukan menjadi pukul 07.30 pagi. Penyesuaian ini memberi ruang lebih luas bagi para peserta untuk tetap produktif tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah puasa.
Kajian utama disampaikan oleh Dr. Syarifan Nurjan, M.A., dengan tema “Keistimewaan Ibadah di Bulan Ramadan.” Dalam paparannya yang sistematis dan menyentuh, beliau menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan tiga unsur utama: jasad, jiwa, dan ruh.
Jasad membutuhkan asupan yang halal dan thayyib. Jiwa memerlukan ketenangan dan pengendalian diri. Sedangkan ruh hanya akan hidup dan bercahaya melalui ibadah. Ramadan, menurut beliau, adalah momentum penyelarasan ketiganya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana pendidikan ruhani agar manusia kembali pada fitrahnya.
“Jika jasad berpuasa, jiwa dididik, dan ruh dikuatkan, maka lahirlah pribadi muttaqin,” tegasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan penuh perhatian.
Tak hanya kajian keagamaan, KADAR tahun ini juga menghadirkan sentuhan pemberdayaan dan kepedulian sosial. Bazar BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah) menjadi ruang promosi dan penguatan ekonomi anggota. Aneka produk olahan dan kerajinan tersaji rapi, mencerminkan kreativitas kader perempuan dalam membangun kemandirian ekonomi keluarga.
Pojok Sehat
Di sudut lain, Pojok Sehat ramai dikunjungi peserta. Layanan cek tensi, kolesterol, asam urat, dan gula darah diberikan sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan jamaah. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan kualitas ibadah, tetapi juga sebagai momentum menjaga amanah kesehatan tubuh.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa Aisyiyah bukan sekadar organisasi perempuan, melainkan gerakan dakwah yang memadukan spiritualitas, intelektualitas, kesehatan, dan kemandirian ekonomi. Di bulan suci yang penuh berkah ini, semangat belajar dan berorganisasi justru semakin menyala.
KADAR Ramadan 1447 H di Jenangan Barat pun menjadi bukti bahwa ketika ilmu, kebersamaan, dan pengabdian bersatu, Ramadan tak hanya menjadi agenda rutin tiap tahun, melainkan gerakan transformasi menuju pribadi dan masyarakat yang lebih berdaya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments