Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jawab Badai VUCA, Pascasarjana UMG Dampingi SMAM 8 Gresik Terapkan Agile Leadership

Iklan Landscape Smamda
Jawab Badai VUCA, Pascasarjana UMG Dampingi SMAM 8 Gresik Terapkan Agile Leadership
Peserta dan narasumber Workshop & Pendampingan: Leadership Agility bagi Kepemimpinan Sekolah di SMAM 8 Cerme, Gresik, Kamis (15/1/2026). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Tantangan dunia pendidikan di abad ke-21 tidak lagi cukup dijawab dengan metode kepemimpinan konvensional.

Menyadari hal tersebut, Program Studi Magister (S2) Manajemen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat yang strategis bertajuk “Workshop & Pendampingan: Leadership Agility bagi Kepemimpinan Sekolah” di SMA Muhammadiyah 8 (SMAM 8) Cerme, Gresik, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang transfer ilmu, melainkan sebuah respons taktis terhadap kompleksitas pengelolaan sekolah modern.

Menghadirkan dua pakar manajemen pendidikan, Dr. Eva Desembri Anita, MM. dan Dr. Abdul Kholid Achmad, M.Pd., acara ini membedah secara tuntas bagaimana prinsip agility (ketangkasan) dapat diterapkan dalam manajemen sekolah yang memiliki diversifikasi program seperti SMAM 8.

Kepala SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Emi Faizatul Afifah, M.Si, menyambut hangat inisiatif pendampingan dari Pascasarjana UMG ini.

Dalam sambutannya, Emi menegaskan bahwa kegiatan ini adalah momentum penting bagi sekolah untuk melakukan introspeksi dan pembenahan manajerial.

“Kami menyadari bahwa SMAM 8 saat ini sedang berlari kencang dengan berbagai program unggulan. Tantangan yang kami hadapi di lapangan sangat dinamis, mulai dari pengelolaan asrama hingga kemitraan vokasi. Oleh karena itu, kami tidak bisa lagi menggunakan kacamata lama dalam memimpin,” ungkap Emi.

Ia menambahkan bahwa kehadiran para pakar dari UMG diharapkan dapat membuka wawasan para pimpinan unit di sekolahnya.

“Ilmu tentang Agile Leadership ini adalah angin segar bagi kami. Harapan saya, setelah kegiatan ini, mindset kami berubah dari sekadar menjalankan rutinitas menjadi lebih responsif, kolaboratif, dan berani melakukan terobosan demi pelayanan terbaik bagi siswa dan wali murid,” tuturnya.

SMAM 8 Cerma, Gresik memiliki profil unik yang membedakannya dari sekolah menengah pada umumnya.

Berdasarkan data dan profil sekolah, SMAM 8 bukan hanya menjalankan kurikulum reguler, tetapi juga mengelola program Muhammadiyah Boarding School (MBS), Kelas Olahraga, Program Tahfidz, hingga program Vokasi (Double Track).

Keberagaman program ini menciptakan tantangan manajerial yang tinggi. Pengelolaan asrama santri menuntut pengawasan 24 jam, sementara program Double Track mengharuskan sekolah beradaptasi cepat dengan kebutuhan dunia industri.

Dalam konteks inilah, gaya kepemimpinan hierarkis yang kaku dinilai tidak lagi relevan. Jika setiap keputusan—mulai dari kerusakan fasilitas asrama hingga inovasi kurikulum vokasi—harus menunggu persetujuan berjenjang dari Kepala Sekolah, maka pelayanan pendidikan akan melambat.

Dalam sesi pertama, Dr. Eva Desembri Anita  membuka wawasan para pimpinan dan staf SMAM 8 mengenai realitas dunia saat ini yang disebut sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

“Pimpinan sekolah hari ini tidak bisa lagi hanya melihat apa yang ada di depan mata secara parsial. Mereka harus mampu melihat secara holistik. Di era VUCA, perubahan kebijakan pendidikan, pergeseran perilaku siswa, hingga ketidakpastian ekonomi global adalah keniscayaan. Kuncinya bukan menolak perubahan, melainkan meresponsnya dengan tangkas,” tegas Eva.

Dia menekankan perlunya transformasi fundamental dari gaya kepemimpinan “Heroic” menuju “Post-Heroic” atau Agile Leader.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Pemimpin tipe heroic (tradisional) cenderung sentralistik, memberikan instruksi satu arah, dan memandang dirinya sebagai satu-satunya pusat solusi.

Sebaliknya, Agile Leader di SMAM 8 didorong untuk mendistribusikan wewenang (distributed decision making).

“Dalam konsep Agile, wewenang pengambilan keputusan didistribusikan kepada tim yang paling dekat dengan masalah. Misalnya, pembina asrama MBS harus diberdayakan untuk mengambil keputusan taktis terkait santri tanpa harus melalui birokrasi panjang, selama masih dalam koridor visi sekolah. Ini mengubah fokus dari sekadar efisiensi dan kepatuhan (tradisional) menjadi inovasi dan kecepatan adaptasi,” tambah Eva.

Melengkapi kerangka berpikir tersebut, narasumber kedua, Abdul Kholid Achmad masuk ke ranah teknis implementasi melalui materi “Manajemen Proyek Adaptif Berbasis Prinsip Agile”.

Kholid menyoroti kelemahan metode manajemen lama atau yang dikenal sebagai model Waterfall, di mana perencanaan dibuat sangat detail di awal tahun dan kaku terhadap perubahan.

“Sekolah seringkali terjebak pada rencana kerja tahunan yang kaku. Ketika di tengah jalan ada situasi mendesak atau peluang baru, sekolah lambat merespons karena ‘tidak ada dalam rencana awal’. Agile leder mengajarkan sebaliknya. Perencanaan itu adaptif dan dilakukan bertahap,” papar Kholid.

Dia memperkenalkan jargon penting dalam dunia Agile: “Fail fast, learn faster”. Artinya, sekolah tidak boleh takut mencoba program baru.

Jika ada program kesiswaan atau metode pengajaran yang kurang efektif, segera evaluasi dan perbaiki, jangan menunggu hingga akhir tahun ajaran.

Kholid juga menjabarkan karakteristik pemimpin yang tangkas, yaitu mereka yang memprioritaskan individu dan interaksi di atas sekadar prosedur (software/tools), serta lebih mengutamakan kolaborasi dengan pelanggan (wali murid dan siswa).

“Bagi SMAM 8 yang memiliki program Double Track, kolaborasi adalah kunci. Kurikulum vokasi mungkin berubah setiap enam bulan mengikuti tren industri. Jika sekolah menggunakan metode tradisional yang kaku, lulusan kita akan tertinggal. Namun dengan pendekatan Agile, kurikulum bisa disesuaikan secara dinamis (sprint review) untuk memastikan kompetensi siswa tetap relevan,” jelasnya.

Kegiatan pendampingan ini diharapkan menjadi titik balik bagi tata kelola SMA Muhammadiyah 8 Cerme. Dengan mengadopsi Leadership Agility, SMAM 8 diproyeksikan mampu menjadi institusi pendidikan yang tidak hanya bertahan di tengah persaingan, tetapi juga menjadi trendsetter sekolah modern yang responsif.

Selain itu, kegiatan yang berlangsung antusias ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi SMA Muhammadiyah 8 Gresik untuk mempertahankan posisinya sebagai sekolah unggulan yang berdaya saing global, serta mampu merespons perubahan zaman dengan cepat dan tepat sesuai dengan visinya.

Kombinasi antara visi strategis EvaDesembri Anita tentang pergeseran budaya kepemimpinan dan panduan teknisAbdul Kholid Achmad mengenai manajemen proyek adaptif, memberikan bekal lengkap bagi jajaran pimpinan SMAM 8.

Harapannya, sinergi antara unit sekolah, asrama, dan program vokasi dapat berjalan lebih cair, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi (solution-oriented), demi mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu