Era digital memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap generasi muda, karena mereka akrab dengan handphone ( Hp ) yang isinya sangat menggoda. Mereka kuat berjam-jam bermedsos ria dengan hp tersebut. Pelarangan hp ketika jam pembelajaran di sekolah adalah usaha yang terpuji, agar mereka fokus belajar.
Di sisi lain, kita sadari setiap zaman mempunya tantangan yang berbeda. Kini ada istilah baru yang berkaitan dengan pengaruh medsos yang dapat merugikan para generasi muda yang diharapkan dapat menggantikan untuk memimpin bangsa.
Istilah baru itu merupakan singkatan FOMO kepanjangan dari Fear Of Missing Out, takut ketinggalan tren. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tren artinya suatu fenomena yang sedang populer di kalangan masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu.
Di sinilah akan menjadi berbahaya, bila generasi muda takut dikatakan tidak ngetren, kalau tidak mengikuti gaya hidup yang terbaru.
Hal ini dapat berakibat mereka berbuat tanpa perhitungan. Mereka mengukur prestasi tertinggi bila dapat mengikuti tren.
0leh karena itulah sangat dibutuhkan bimbingan kepada mereka agar tifak terjebak dalam tindakan yang salah, hanya karena ingin ngretren.
Fomo adalah jebakan hidup yang merugikan diri sendiri, sebab mengikutinya akan membawa derita yang disebabkan kurang pengetahuan dan dasar agama yang ini menjadi pangkalnya. Untuk memperkecil pengaruh budaya ngetren ada beberapa poin:
Satu, melatih mereka berķecukupan yang ada istilah lain Qana’ah. Just need anymore. Para kader muda harus terlatih merasa cukup dengan pemberian Allah Subhaanahu wa Ta’ala, hal ini akan memiliki peluang yang besar menjadi hamba yang bersyukur dan mampu mengatasi gejala Fomo,
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Memandang kepada orang yang lebih rendah dalam masalah dunia dan harta akan membawa seseorang menyukuri nikmatnya dan tidak meremehkannya.
Dua, menambah ilmu pengetahuan mereka. Kepemilikan ilmu dalam diri akan mampu memilah dan menyaring mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan. Sebab semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam Qs Al Isro’ : 36, ” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Pada ayat ini kita dapat menyerap bahwa mengetahui dengan ilmu merupakan hal yang wajib agar tidak mudah terpengaruh pada hal-hal baru yang menyesatkan.
Hal ini dijelaskan pula dalam firman Qs Al Baqarah: 48 ” Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”
Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa pada hari kiamat seorang hamba akan ditanya “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Tiga, pembimbing yang bijaksana. Agar kehidupan kader muda yang masih label, dan mudah terpengaruh sesuatu yang ngetren, kiprah para guru, orang tua, tokoh mayarakat, sangat diperlukan untuk mengarahkan dan membimbing mereka, agar mereka tidak terjebak dalam kehidupan yang dianggapnya modern atau ngetren.
Disamping itu, para pembimbing, orang tua wali murid, guru, tokoh masyarakat harus percaya juga masih banyak kader muda yang fokus mengembangkan pengetahuan mereka dan tidak terjebak gaya yang menyesatkan.
Semoga tulisan yang sederhana ini mampu menggugah kesadaran untuk tidak takut dikatakan tidak ngtren . (*)





0 Tanggapan
Empty Comments