Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Abdullah Ahmad yang Menginspirasi Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Jejak Abdullah Ahmad yang Menginspirasi Ahmad Dahlan
Abdullah Ahmad (1878-1934); Pendidik dan Jurnalis Teladan, Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : M. Anwar Djaelani peminat masalah pendidikan dan penulis 14 buku
pwmu.co -

Abdullah Ahmad dikenal sebagai pelopor pembaruan pendidikan Islam dan jurnalis Muslim pertama di Sumatera, yang gagasannya menginspirasi lahirnya gerakan pembaruan hingga berdirinya Muhammadiyah.

Lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 1878, Abdullah Ahmad tumbuh sebagai sosok pembaharu yang berpengaruh besar dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia.

Dedikasinya di bidang keagamaan bahkan mendapat pengakuan internasional melalui penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Mesir pada 1926.

Perjalanan Intelektual dan Reformasi Pendidikan

Pada 1899 dia kembali ke Indonesia dan langsung mengajar agama di Surau Jembatan Besi – Padang Panjang, Sumatera Barat. Model pembelajarannya, menurut sistem tradisional.

Belakangan, Abdullah Ahmad merasa sistem itu sudah tidak relevan dan kurang produktif. Oleh karena itu, kemudian dia menggantikannya dengan sistem klasikal yaitu madrasah.

Rupanya, masyarakat belum siap menerima sistem baru yang diperkenalkannya. Dia mendapat kritik dan tantangan keras. Melihat ketidakmungkinan untuk melanjutkan pendidikan sistem barunya di Padang Panjang, dia memutuskan pindah ke Padang.

Di Padang dia berhasil mewujudkan gagasan barunya. Pada 1909 dia sudah berhasil mendirikan sekolah agama atau madrasah dengan sebutan Adabiyah School.

Dalam perjalanan sejarahnya, Adabiyah School mengalami beberapa perubahan bentuk. Tahun 1915, sekolah tersebut menjadi HIS Adabiyah sampai masa kemerdekaan. Sejak masa kemerdekaan, HIS Adabiyah diubah menjadi SD, SMP, dan SMA Adabiyah.

Pelopor Jurnalisme Islam Modern

Abdullah Ahmad merasa belum cukup jika gagasan-gagasan barunya hanya dituangkan ke dalam bentuk pendidikan formal. Oleh karena itulah pada 1911 dia menerbitkan Majalah Al-Munir bersama-sama dengan Haji Abdul Karim Amrullah.

Walaupun masa terbit Al-Munir hanya 5 tahun, yaitu 1911 sampai 1916, namun gagasan-gagasan barunya (baik dalam bidang pendidikan maupun pemahaman keagamaan) sudah cukup tersebar luas.

Pada 1919, tiga tahun setelah Al-Munir berhenti terbit, ada lagi aktivitasnya yang baru. Bersama dengan beberapa pemuka agama lainnya, Abdullah Ahmad mendirikan organisasi keguruan yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Ini menunjukkan betapa Abdullah Ahmad gigih dalam memperjuangkan kemajuan intelektualitas umat.

Berkat kerja keras maupun prestasinya dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan, dia mendapat aprsiasi. Pada 1926, bersama-sama dengan Haji Abdul Karim Abdullah dia memperoleh anugerah Doktor HC dalam bidang keagamaan dari Universitas Al-Azhar – Mesir (Ensiklopedia Islam Indonesia, 1992: 16-17).

Kolaborasi dengan Haji Rasul

Abdullah Ahmad bersahabat dengan Haji Abdul Karim Amrullah (yang populer disapa Haji Rasul). Sangat erat hubungan kedua orang itu. Mereka sama sepaham dalam hal agama. Boleh dikatakan, gerakan Kaum Muda kala itu terdiri dari unsur ”pena” Abdullah Ahmad dan ”lidah” Haji Rasul.

Hubungan Haji Rasul dan Abdullah Ahmad begitu erat. Apa saja pemikiran besar yang diteorikan oleh Abdullah Ahmad akan mudah sampai ke masyarakat kalau disuarakan oleh Haji Rasul yang mahir berorasi.

Perhatikanlah, saat ide mendirikan Adabiyah School dinyatakan oleh Abdullah Ahmad kepada Haji Rasul. Kemudian, rencana itu mereka hadapi berdua. Mereka mengumpulkan uang derma dari seluruh Sumatera.

Simaklah, ketika Abdullah Ahmad menerbitkan Majalah Al-Munir. Haji Rasul berperan sebagai Pembantu Tetap-nya. Lihat juga, ketika Abdullah Ahmad berkeinginan hendak menghadiri Muktamar Khilafah di Mesir.

Hal itu baru dapat terwujud setelah disampaikan kepada orang banyak dengan lidah Haji Rasul. Orang banyak lebih tertarik kepada uraian lisan Haji Rasul tentang niat baik Abdullah Ahmad itu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kelebihan Abdullah Ahmad, kata Hamka, dia luas pergaulannya. Sikapnya tenang, layak menjadi diplomat. Karangannya amat bagus, tidak seperti karangan rata-rata kaum agama pada waktu itu yang terpengaruh oleh susunan bahasa Arab.

Karyanya banyak, antara lain sekolah yang dari lembaga itu lahir banyak intelektual di Sumatera Barat. Masih kata Hamka, selain berjuang lewat sekolah, Abdullah Ahmad juga mendirikan Rumah Pengasuhan Anak Yatim dan Miskin.

Pengakuan Internasional dan Warisan Intelektual

Berdakwah lewat tulisan adalah pilihan cerdas. Tujuannya membimbing umat Islam ke arah ajaran yang benar, menambah pengetahuan, dan mempererat tali persaudaraan.

Saat Abdullah Ahmad pada 1911 menerbitkan Majalah Al-Munir di Padang, sejatinya itu bisa dibilang sebagai bagian dari matarantai panjang gerakan dakwah. Semangat yang dibawanya serupa dengan Al-Iman, Al-Manar, dan majalah-majalah barisan pembaharu lainnya.

Matarantai dakwah lewat tulisan, kurang-lebih, sebagai berikut: Majalah Al-Urwatul Wutsqa (terjemahnya, Tali yang Kokoh), didirikan Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh di Paris pada 1884. Lalu, Majalah Al-Manar didirikan Rasyid Ridha pada 1898 di Mesir (Rasyid Ridha murid dari Muhammad Abduh).

Berikutnya, Majalah Al-Imam didirikan di Singapura pada 1906. Selanjutnya, Majalah Al-Munir didirikan Abdullah Ahmad di Padang pada 1911.

Meski Al-Munir diterbitkan di Padang tetapi persebarannya sampai ke Jawa. Salah satu pelanggan setianya adalah Ahmad Dahlan. Lebih dari itu, Ahmad Dahlan menerjemahkan beberapa artikel Al-Munir ke dalam bahasa Jawa, tentu untuk kemudian disebarkan.

Pemikiran-pemikiran yang ada di dalam Majalah Al-Munir ternyata berpengaruh luas, terutama di Jawa. Pengaruh itu termasuk pula terhadap Ahmad Dahlan. Lalu, bagaimana respons Ahmad Dahlan?

Ahmad Dahlan menangkap semangat pembaruan tersebut. Lalu, hal itu semakin menebalkan semangat yang sudah didapat dari sumber-sumber lain sebelumnya. Pendirian Muhammadiyah pada 1912 adalah sebentuk usaha untuk memberikan peluang lebih besar mewujudkan gagasan-gagasan pembaharuan.

Lewat Muhammadiyah, banyak yang bisa dikerjakan. Misal, berdakwah lewat bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-kemasyarakatan.

Bahkan, dakwah dengan tulisan yaitu lewat majalah Suara Muhammadiyah juga dikerjakan secara istiqomah, sejak didirikan 1915 hingga entah sampai kapan. Disebut “hingga entah sampai kapan”, karena sampai saat tulisan ini dibuat majalah yang telah berusia lebih dari seabad itu tetap terbit.

Inspirasi Sepanjang Zaman

Hamka menambahkan, semasa hidup Abdullah Ahmad, telah dikeluarkannya beberapa media Islam. Selain Al-Munir, Abdullah Ahmad juga menerbitkan Al-Akhbar dan Al-Ittifaq wal Iftiraq.

Konon, juga Majalah Buka Mata yang diterbitkan atas nama orang lain untuk menentang Ahmadiyah. Sebenarnya, Abdullah Ahmad yang berdiri di belakang majalah itu (Hamka, Ayahku, 2019: 531).

Sungguh, jejak perjuangan Abdullah Ahmad terutama di bidang pendidikan dan dakwah sangat panjang. Khusus jejaknya di bidang dakwah lewat tulisan, Hamka menyimpulkan bahwa Abdullah Ahmad adalah jurnalis Muslim pertama di Sumatera.

Maka, meski beliau telah wafat pada 1934, jejak dakwah itu masih akan terus hidup. Abdullah Ahmad insya Allah akan terus menginspirasi siapa pun dan kapan pun.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu