Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Bung Tomo di Muhammadiyah: Dari Radio Pemberontakan hingga Teras Ki Bagus Hadikusumo

Iklan Landscape Smamda
Jejak Bung Tomo di Muhammadiyah: Dari Radio Pemberontakan hingga Teras Ki Bagus Hadikusumo
Maisarah, Fatmawati, Aisyiyah Hilal, dan Bung Tomo. Sumber: Fatmawati Sukarno, Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I. Foto: Sinar Harapan/PWMU.CO
pwmu.co -

Di balik pekikan heroik “Allahu Akbar!” yang membakar semangat rakyat Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945, tersimpan kisah panjang yang jarang terungkap tentang sosok Bung Tomo. Bukan hanya tentang keberaniannya di medan tempur, tetapi juga tentang pergulatannya sebagai manusia, pejuang, dan tokoh yang memiliki kedekatan spiritual dengan gerakan Islam modern seperti Muhammadiyah.

Perjalanan Diakui sebagai Pahlawan Nasional

Sekitar dua tahun setelah Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur mengusulkan agar sang orator perjuangan itu dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Namun, usulan tersebut ditolak. Menteri Sosial saat itu, Nani Soedarsono, menyampaikan penolakan itu secara resmi melalui surat kepada istri Bung Tomo, Sulistina.

Alasan yang tercantum dalam surat itu membuat hati Sulistina hancur. Pemerintah menilai Bung Tomo belum layak diberi gelar Pahlawan Nasional karena dianggap hanya sebagai “pahlawan lokal”. Membaca alasan tersebut, Sulistina sontak naik pitam. Ia begitu kecewa dan marah.

“Terang saya, waktu itu saya sangat emosi dan marah sekali… surat bersampul amplop cokelat itu aku sobek-sobek,” kenangnya dalam buku yang ia tulis kemudian.

Bagi Sulistina, tudingan bahwa perjuangan suaminya bersifat lokal sungguh tak masuk akal. Pertempuran Surabaya, yang menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap penjajah, melibatkan pejuang dari seluruh penjuru Nusantara.

“Mosok sih, banyak orang Indonesia datang… kok dikatakan lokal. Gitu kok dibilang lokal,” ujarnya dengan nada getir.

Waktu berlalu. Emosinya mereda, dan penyesalan datang. “Aku menyadari betapa bodohnya aku… mestinya surat itu tetap kusimpan sebagai bukti kenangan,” tutur Sulistina. Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Desakan berbagai pihak terus bergema hingga akhirnya, pada 2008, pemerintah menetapkan Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008. Gelar itu diserahkan langsung oleh Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, kepada Sulistina bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Kedekatan Bung Tomo dengan Muhammadiyah

Namun di balik kisah perjuangan dan pengakuan itu, ada sisi lain Bung Tomo yang jarang tersentuh oleh publik—hubungannya dengan Muhammadiyah.

Fakta menarik ini diungkap oleh Prof. Purnawan Basundoro, sejarawan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga periode 2020-2025. Dalam telaahnya terhadap arsip surat kabar Koran Al Jihad edisi 10 April 1946—koran yang kala itu diterbitkan Partai Masyumi dan banyak dikelola tokoh Muhammadiyah—terdapat berita tentang kunjungan Bung Tomo ke kantor Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta.

Bung Tomo datang bersama stafnya dan disambut hangat oleh Ki Bagus Hadikoesoemo, tokoh penting Muhammadiyah sekaligus salah satu peletak dasar gerakan Islam modern di Indonesia. Pertemuan itu berlangsung di teras kantor, dalam suasana akrab dan kekeluargaan.

Dalam perbincangan singkat tapi bermakna itu, Bung Tomo menyampaikan dua pesan penting. Pertama, agar Muhammadiyah memperkuat kiprahnya di bidang sosial. “Tentang kesosialan hendaknya diperhebat,” demikian bunyi pernyataannya yang dikutip Koran Al Jihad.

Pesan kedua ia tujukan kepada Majelis Aisyiyah. Ia berharap organisasi perempuan Muhammadiyah itu mengambil peran lebih besar dalam memberi pedoman bagi kaum perempuan Indonesia untuk turut membela agama, nusa, dan bangsa. Pandangan ini menunjukkan betapa jauh visi Bung Tomo dalam melihat pentingnya pemberdayaan perempuan.

Sebelum berpamitan, PB Muhammadiyah memberikan sebuah mushaf Al-Qur’an terjemahan Bahasa Indonesia kepada Bung Tomo. Hadiah yang sederhana namun sarat makna itu diterima dengan penuh haru. “Alhamdulillah,” ucap Bung Tomo dengan pandangan mata yang khusyuk, sebagaimana tertulis dalam laporan koran tersebut.
Ia kemudian menyalami seluruh pengurus Muhammadiyah dengan tulus. Pertemuan itu bukan sekadar seremoni, tetapi simbol ukhuwah yang kuat antara pejuang republik dan gerakan dakwah Islam.

Kedekatan Bung Tomo dengan lingkaran Muhammadiyah juga terekam dalam foto bersejarah yang diambil di Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta, sekitar lima bulan setelah Pertempuran Surabaya. Dalam foto itu, Bung Tomo tampak duduk santai mengenakan pakaian pejuang, berbincang dengan Fatmawati—istri Presiden Soekarno. Di samping Fatmawati terlihat dua perempuan berkebaya: Maisarah, cucu pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, dan Aisyiyah Hilal, putri beliau yang juga pimpinan Aisyiyah Yogyakarta.

Foto tersebut termuat dalam buku Fatmawati Sukarno: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Jakarta: Sinar Harapan, hlm. 143). Ia menjadi saksi bisu tentang jalinan sosial dan spiritual antara pejuang republik, tokoh perempuan nasional, dan keluarga besar Muhammadiyah.

Kisah ini memperlihatkan bahwa perjuangan Bung Tomo tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kekuatan sipil Islam yang ikut mengawal lahirnya republik ini—sebuah gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari kebodohan dan ketertinggalan sosial.

Kini, puluhan tahun setelah suara “Allahu Akbar” yang bergema dari Radio Pemberontakan di Surabaya berhenti, kisah tentang mushaf Al-Qur’an dari Muhammadiyah untuk Bung Tomo mungkin hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah besar bangsa. Namun justru di situlah nilai pentingnya.

Bahwa perjuangan bukan semata soal senjata dan darah. Ada doa yang menyertainya. Ada iman yang menuntunnya. Dan ada ukhuwah yang menguatkannya.

Dalam mushaf yang diberikan kepadanya, tersimpan harapan bahwa kemerdekaan Indonesia akan terus dijaga—bukan hanya dengan keberanian, tetapi juga dengan keimanan dan ilmu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu