Menjadi dai muda di era digital bukan hanya soal berdiri di mimbar, tetapi juga tentang bagaimana mampu menyuarakan kebaikan di layar gawai yang setiap hari digenggam umat.
Itulah semangat yang terpancar dari wajah-wajah muda peserta Akademi Dai Digital, saat mereka singgah di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Jumat (29/8/2025).
Akademi Dai Digital adalah program prestisius yang digagas oleh Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dari ratusan pendaftar, terpilihlah 100 kader muda Muhammadiyah terbaik melalui proses seleksi ketat.
Mereka datang dari berbagai penjuru negeri, mulai dari Surakarta, Sumbawa, Banjarnegara, Kalimantan, hingga Sulawesi. Semua dipertemukan oleh satu misi: menjadi dai yang tak hanya paham teks, tetapi juga piawai menggerakkan narasi dakwah di ruang digital.
Sore itu, pukul 15.40 WIB, rombongan tiba di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran setelah menempuh perjalanan panjang dengan travel dan kereta. Sambutan hangat marbot masjid seakan meredakan lelah perjalanan. “Silakan istirahat, teh dan kopi sudah siap,” ucapnya penuh ramah.
Senyum-senyum merekah, apalagi setelah nasi kotak khas Jumat Berkah masjid turut hadir mengisi perut mereka. Bagi para tamu muda ini, sederhana namun berkesan.
Selama dua hari, Sabtu–Ahad (30–31 Agustus 2025), mereka akan mengikuti sesi-sesi intensif di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur.
Materi yang disiapkan tak main-main: mulai dari Strategi Distribusi Konten Dakwah, Teknik Menulis Konten Dakwah, Produksi Video Konten Dakwah, hingga pemahaman SEO dan Literasi Digital: Digital Safety.
Semua dirancang agar para kader bukan hanya fasih berdakwah di dunia nyata, tetapi juga tangguh di ruang maya.
Kebanyakan peserta adalah aktivis muda Muhammadiyah dari berbagai latar belakang. Namun keberagaman mereka sungguh terasa: ada yang datang dari pelosok Sumbawa, ada pula yang meninggalkan kampung halaman di Kalimantan dan Sulawesi, bahkan ada yang berasal dari Banjarnegara.
Mereka disatukan dalam satu ruang belajar, dengan semangat kolaborasi dakwah lintas daerah.
Jejak perjalanan ini menunjukkan bahwa dakwah adalah kerja panjang yang menuntut kesungguhan. Di tengah derasnya arus digital, para dai muda Muhammadiyah ini hadir sebagai jawaban: tenang menghadapi tantangan, tapi tak pernah berhenti berjuang.
Dari mimbar masjid hingga layar media sosial, mereka siap menjaga cahaya Islam tetap bersinar di setiap ruang kehidupan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments