Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Ramadan di Usia yang Bertambah

Iklan Landscape Smamda
Jejak Ramadan di Usia yang Bertambah
Wahyudi Kholilullah, Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) 2023-2024 (Foto: Istimewa)
Oleh : Wahyudi Kholilullah, S.T. Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) 2023-2024

Refleksi ini lahir dari kegelisahan kecil yang saya rasakan sendiri, juga dari cerita beberapa kawan yang mengaku mengalami hal serupa: ada suasana yang terasa berbeda saat menyambut Ramadan. Euforia yang dahulu terasa begitu menggebu kini hadir dengan cara yang lebih tenang, bahkan kadang terasa biasa saja.

Pertanyaan pun muncul: apakah semangat itu benar-benar berkurang, atau sebenarnya ada yang sedang berubah dalam diri kita? Bisa jadi Ramadan tidak pernah kehilangan keistimewaannya; kitalah yang sedang bertumbuh dan memaknainya dengan cara yang berbeda.

Pernah suatu ketika saya menanggapi keluhan itu dengan setengah bercanda. “Jangan-jangan iman kita yang makin tipis?” ujar saya kepada seorang teman yang bercerita. Kami tertawa saat itu, tetapi di balik lelucon tersebut terselip pertanyaan yang lebih dalam.

Ketika masih kecil dan tinggal di kampung halaman, Ramadan selalu terasa istimewa. Seolah-olah satu bulan itu memiliki warna yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Menjelang berbuka, jalanan ramai oleh orang-orang yang berburu takjil. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, menunggu waktu magrib dengan penuh semangat.

Malam hari diisi dengan suara tadarus dari masjid yang hampir tak pernah sepi. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang kebersamaan yang hangat. Waktu terasa berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi canda, cerita, dan perjumpaan dengan orang-orang yang akrab.

Kenangan-kenangan semacam itu sering kali melekat kuat dalam ingatan. Namun seiring bertambahnya usia, suasana yang sama tidak selalu hadir kembali dengan bentuk yang sama.

Kini Ramadan sering kali datang di tengah kesibukan, target pekerjaan, serta berbagai tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Jika dahulu hari-hari terasa panjang karena diisi tawa dan kebersamaan, sekarang waktu seakan berjalan lebih cepat, dipenuhi agenda dan kewajiban yang menyita perhatian.

Perubahan ini kadang menghadirkan rasa kehilangan. Ada rindu pada Ramadan yang dulu yang riuh, hangat, dan penuh canda tanpa banyak beban pikiran. Kini berbuka puasa mungkin dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, bahkan terkadang sendiri. Salat tarawih pun tidak selalu dilakukan di masjid yang sama dengan wajah-wajah yang dulu terasa begitu akrab.

Lingkungan sosial juga turut memengaruhi pengalaman tersebut. Seiring bertambahnya usia, lingkar pertemanan berubah. Banyak dari kita merantau, meninggalkan kampung halaman demi pendidikan atau pekerjaan. Ramadan di tanah rantau tentu menghadirkan suasana yang berbeda.

Tidak ada lagi meja makan panjang yang dipenuhi keluarga besar. Tidak ada suara ibu yang membangunkan sahur dengan lembut. Semuanya terasa lebih mandiri, bahkan kadang sunyi.

Namun justru dalam kesunyian itulah kita sering mulai memahami arti kebersamaan secara lebih dalam. Kebersamaan tidak selalu harus hadir dalam keramaian; ia juga bisa tumbuh dalam kesadaran akan betapa berharganya orang-orang yang pernah berbagi waktu dengan kita.

Pada titik ini saya mulai menyadari bahwa mungkin yang berubah bukanlah kebahagiaan Ramadan itu sendiri, melainkan cara kita memaknainya. Pengalaman religius seseorang memang kerap mengalami pergeseran seiring bertambahnya usia. Apa yang dahulu terasa sebagai kegembiraan sosial perlahan berubah menjadi ruang perenungan yang lebih personal.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Doa-doa yang dulu mungkin diucapkan sekadar karena kebiasaan kini terasa lebih berarti karena disadari sepenuh hati. Puasa yang dahulu dipahami sebagai tantangan fisik kini menjadi latihan pengendalian diri di tengah kompleksitas kehidupan.

Dengan kata lain, kebahagiaan Ramadan tidak benar-benar hilang. Ia hanya bergeser bentuk—dari yang riuh dan kasat mata menjadi yang lebih tenang dan berakar di dalam diri.

Refleksi ini terutama terasa bagi mereka yang hidup di perantauan. Jauh dari keluarga dan tradisi yang dulu begitu akrab, Ramadan memang terasa berbeda. Akan tetapi, perbedaan itu tidak selalu berarti kehilangan makna.

Justru di tanah rantau, Ramadan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kedewasaan: belajar mandiri, memperkuat niat ibadah, serta menghadirkan kehangatan dalam kesederhanaan. Kita mungkin tidak lagi merasakan riuh yang sama, tetapi kita tetap memiliki kesempatan untuk menciptakan makna yang baru.

Pada akhirnya, Ramadan tidak pernah berhenti menjadi bulan yang istimewa. Yang berubah adalah diri kita yang terus bergerak mengikuti fase kehidupan.

Jika dahulu kebahagiaan hadir lewat kebersamaan yang riuh, kini ia datang melalui ketenangan dan kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Maka, alih-alih meratapi suasana yang tak lagi sama, barangkali yang perlu kita lakukan adalah menerima setiap fase kehidupan dengan lapang, seraya tetap menyambut Ramadan dengan hati yang penuh syukur.

Barangkali kamu yang membaca tulisan ini juga pernah merasakan hal yang sama. Mungkin kamu diam-diam membandingkan Ramadan tahun ini dengan tahun-tahun ketika segalanya terasa lebih sederhana.

Jika demikian, izinkan diri sejenak untuk bertanya: apakah benar semangat itu hilang, atau hanya berubah bentuk?

Bisa jadi, tanpa kita sadari, kita hanya sedang bertumbuh. Dan dalam setiap pertumbuhan, selalu ada fase penyesuaian. Ramadan tetap hadir dengan kesuciannya; kitalah yang sedang belajar menemukan kembali cara terbaik untuk menyambutnya. ***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡