Rapat Koordinasi Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur digelar di Aula Mas Mansur, Jalan Kertomenanggal IV/1, Surabaya, Ahad (15/2/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum strategis menjelang pelaksanaan ibadah haji 2026, sekaligus upaya menyatukan langkah dan persepsi seluruh elemen penggerak layanan haji Muhammadiyah se-Jawa Timur.
Sebanyak 115 peserta hadir dalam rapat koordinasi tersebut. Mereka terdiri atas Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jatim bidang Haji dan Umrah, pengurus LPHU PDM, pengurus Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) PDM, serta para petugas haji KBIHU tahun 2026, mulai dari Ketua Rombongan, Ketua Regu, hingga Pembimbing Ibadah.
Ketua LPHU PWM Jatim Dr. Sam’un, M.Ag dalam sambutannya menegaskan bahwa rapat koordinasi ini telah direncanakan jauh hari sebelum musim haji tiba.
Tujuannya untuk menyamakan persepsi dan memperkuat koordinasi agar seluruh elemen dapat melihat, mengikuti, dan memantau pelaksanaan ibadah haji secara lebih terstruktur dan terarah.
“Kegiatan ini kita laksanakan menjelang pelaksanaan ibadah haji agar ada kesamaan pandangan. Dengan begitu, kita bisa memantau pelaksanaan di lapangan, terutama KBIH Muhammadiyah se-Jawa Timur,” ujarnya.
Dia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 30 KBIH Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya amanah yang diemban Muhammadiyah dalam membina jamaah haji.
“Karena itu, koordinasi dan konsolidasi menjadi kebutuhan mutlak agar pelayanan berjalan optimal,” jelas Sam’un
Menurut Sam’un, pelaksanaan haji dari tahun ke tahun hampir selalu diwarnai dinamika dan persoalan.
Namun, hal tersebut merupakan bagian yang wajar dari penyelenggaraan ibadah berskala internasional yang melibatkan jutaan jamaah dari berbagai negara.
“Persoalan itu selalu muncul, dan itu biasa. Kita bukan untuk saling menyalahkan. Haji memang selalu menghadapi tantangan. Yang terpenting, kita mampu memberikan solusi,” tegasnya.
Dia menambahkan, tujuan utama dari seluruh ikhtiar ini adalah agar jamaah haji Muhammadiyah dapat menjalankan ibadah dengan lancar, tenang, dan sukses. Kelancaran teknis harus berjalan beriringan dengan ketenangan batin dan kemantapan spiritual.
Sam’un juga menyinggung isu terkait dam (denda dalam ibadah haji) yang kerap menjadi perhatian jamaah.
Dia mengungkapkan, dirinya telah berkunjung ke Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Madinah.
“Dalam kunjungan itu, pihak PCIM menyatakan kesiapan membantu jamaah haji yang tinggal lebih lama di Arab Saudi, termasuk dalam hal-hal teknis yang membutuhkan pendampingan,” ungkap Sam’un.
Langkah ini, menurutnya, merupakan bentuk sinergi global Muhammadiyah dalam mendukung pelayanan jamaah.
Keberadaan PCIM di luar negeri menjadi kekuatan tambahan dalam memastikan jamaah tetap mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang memadai.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa haji bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga ruang dakwah yang sangat strategis.
Jamaah haji, katanya, adalah objek dakwah yang luar biasa. Melalui pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan, nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan dapat semakin mengakar dalam kehidupan jamaah, bahkan setelah mereka kembali ke tanah air.
“Kita terus menggelorakan dakwah. Jamaah haji adalah ladang dakwah yang sangat besar. Semoga kegiatan ini membuka wawasan kita semua,” tuturnya.
Rapat koordinasi ini diharapkan tidak hanya menjadi forum administratif, tetapi juga ruang refleksi dan penguatan komitmen bersama.
Sinergi yang solid antara LPHU PWM, PDM, dan KBIH Muhammadiyah se-Jatim, pelayanan haji 2026 diharapkan semakin profesional, responsif terhadap persoalan, dan berorientasi pada kemaslahatan jamaah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments