Menjelang bulan Ramadan, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah menggelar Ngaji Lingkungan bertema “Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi” pada Sabtu, (14/2/2026) secara daring.
Kegiatan tersebut menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, melainkan juga kesempatan untuk membangun kesadaran ekologis melalui pengendalian konsumsi serta penggunaan energi secara bijak.
Ramadan dan Seruan Green Aisyiyah
Ketua LLHPB PP Aisyiyah, Rahmawati Husein, menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk mengendalikan hawa nafsu sekaligus memperkuat kesalehan ekologis.
“Ramadan adalah momentum untuk mengendalikan diri, memperbanyak amal, dan meningkatkan kesalehan, termasuk kesalehan ekologis melalui pengurangan sampah dan penghematan energi,” ujarnya.
Rahmawati mengingatkan bahwa selama Ramadan, timbulan sampah meningkat hingga sekitar 20 persen.
Karena itu, LLHPB PP Aisyiyah mengajak masyarakat menjalankan gerakan Green Aisyiyah melalui langkah konkret, seperti tidak berlebihan dalam menyediakan takjil, menghindari plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka, menghemat air wudhu dan listrik, serta menggunakan transportasi ramah lingkungan—berjalan kaki, bersepeda, atau memakai kendaraan umum—untuk aktivitas jarak dekat selama Ramadan.
Seluruh langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari praktik ibadah yang selaras dengan nilai Islam agar tidak berlebihan dalam konsumsi.
Puasa sebagai Jihad Akbar
Pada kesempatan yang sama, Ketua PP Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, menegaskan bahwa puasa memiliki makna lebih dalam sebagai jihad akbar atau perjuangan melawan hawa nafsu keserakahan manusia.
“Puasa adalah jihad besar melawan dorongan keserakahan manusia. Ramadan menjadi ajang untuk mengendalikan diri, termasuk dalam konsumsi dan penggunaan energi,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. “Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tegasnya.
Puasa dan Etika Energi
Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Mohammad Nurcholis, turut menyoroti keterkaitan antara konsumsi energi, gaya hidup modern, dan perubahan iklim.
Ia menjelaskan bahwa energi tidak hanya berupa listrik, tetapi juga mencakup proses produksi, transportasi, serta aktivitas sehari-hari.
“Setiap aktivitas kita mengonsumsi energi, termasuk dalam menyediakan makanan berbuka atau mobilitas sehari-hari. Karena itu, puasa menjadi pendidikan moral untuk menggunakan energi secara efisien dan tidak berlebihan,” jelasnya.
Prof. Nurcholis juga menekankan pentingnya keadilan energi, mengingat masih banyak kelompok masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap energi.
Ramadan sebagai Momentum Transformasi
Sebagai penutup, Moderator Prof. Yeni Widowaty, Anggota Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah, menyampaikan bahwa Ramadan memberi ruang bagi masyarakat untuk menata ulang cara hidup. Menurutnya, ibadah puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga membangun tanggung jawab terhadap bumi.
“Jika dilakukan secara konsisten, hal tersebut dapat menjadi kontribusi penting dalam membangun budaya ramah lingkungan di lingkungan keluarga dan komunitas,” ujarnya.
Kegiatan Ngaji Lingkungan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan LLHPB Aisyiyah dari tingkat Pusat, Wilayah, hingga Daerah se-Indonesia, dengan total 89 peserta yang mengikuti secara daring. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments