14 Juli 2025 pagi itu mata tersentak menunjukkan pukul 04:00 WIB, megah merah nampak sendu hendak merilis cahaya hangat pagi. Tepat dihari kelahiran, saya harus bergegas menyiapkan fisik yang letih untuk membasahi badan dengan ritual yang wajib dilakukan sebelum raga ini tertunduk sujud meminta kepada sang agung.
Fisik yang mulai tersentak untuk lekas keluar diantar tetangga, kami dengan kuda besi menelusuri jalanan perkampungan Sidoarjo untuk mencari jalan tercepat menuju bandara Juanda yang hanya berjarak sekitar 13 Km dari tempat tinggal saya.
Bandara dengan ribuan kenangan sejak masa kecil saya yang terlahir di Kota Soto Lamongan dengan keluarga yang mayoritas TKI di Malaysia. Sejak kecil terngiang dalam benak muncul pertanyaan, Siapa Juanda? Kok bisa menjadi nama Bandara?.
Dari TK hingga MTS Muhammadiyah yang mempunyai mata pelajaran Kemuhammadiyahan saya tidak pernah mendengar dan mengingat nama Juanda diajarkan di kelas. Hanya Ahmad Dahlan satu-satunya tokoh yang mempunyai porsi yang paling besar diajarkan dalam setiap jenjang sekolah Muhammadiyah. Benar memang dia pendiri Muhammadiyah tapi bagaimana kisah tokoh Muhammadiyah yang lain.
Juanda menjadi salah satu tokoh yang patut diperbincangkan dengan berbagai jasanya untuk umat Islam dan bangsa Indonesia. Ir. Juanda Kartawijaya yang terlahir di Tasikmalaya 14 Januari 1911. Ia terlahir setahun sebelum Muhammadiyah berdiri. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-11 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu, ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja 1 masa Presiden Sukarno.
Semasa kecil ia mendapatkan Pendidikan sekolah dasar di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europeesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924.
Selanjutnya oleh ayahnnya Raden Kartawijaya, ia dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa, yaitu Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung), dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, mengambil jurusan Teknik Sipil dan lulus tahun 1933.
Seperti tokoh Muhammadiyah lainnya Juanda sejak Muda aktif diorganisasi nonpolitik, yaitu Paguyuban Pasundan (organisasi kedaerahan yang berdiri 1914) dan anggota Muhammadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhammadiyah.
Ia mengawali karirnya sebagai guru besar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, sekolah setingkat SMP) Muhammadiyah di Jakarta dari 1933 hingga 1937. Sekolah Muhammadiyah tersebut menerima murid yang tidak diterima di negeri karena kemampuan bahasa Belanda yang kurang lancar.
Ketika Muhammadiyah bermuktamar Setengah Abad tahun 1962, Ir Djuanda menyampaikan testimoni sebagai berikut:
“Karena mengindahkan petunjuk orangtua saya, saya kenali Muhammadiyah. Bukan sekadar kenal saja, tetapi saya malah dipercaya memasak kecerdasan putra-putri anak didik Muhammadiyah di masa itu. Penderitaan hidup dan pahit getir, bagi Muhammadiyah bukan soal, adanya hanya kepuasan hati karena kerjasama di antara kita dan pengurus Muhammadiyah tetap terjalin dengan ukhuwah Islamiyah yang seerat-eratnya.”
Diatas pesawat yang mengudara menuju Makassar terbentang lautan luas yang mengingatkan saya pada deklarasi Juanda. Yang dicetuskan oleh Ir Juanda saat menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia pada tanggal 13 Desember 1957.
Deklarasi ini menegaskan bahwa seluruh perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Deklarasi Djuanda menjadi dasar bagi konsep negara kepulauan (Archipelagic State) Indonesia dan diakui secara internasional melalui Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) pada tahun 1982.
Sebelum Deklarasi Djuanda, wilayah perairan Indonesia diatur oleh Ordonansi Hindia Belanda 1939 (TZMKO 1939) yang menetapkan batas laut teritorial sejauh 3 mil dari garis pantai masing-masing pulau. Hal ini menyebabkan laut di antara pulau-pulau di Indonesia dianggap sebagai laut bebas, sehingga kapal-kapal asing dapat dengan bebas melintasinya. Kondisi ini dianggap membahayakan kedaulatan dan keamanan Indonesia, terutama karena adanya perselisihan dengan Belanda mengenai Papua (Irian Barat) pada saat itu.
Bentang laut Indonesia kemudian bertambah secara signifikan, dari sekitar 2 juta km² menjadi lebih dari 5 juta km². Deklarasi ini merupakan wujud kedaulatan dan keutuhan Republik Indonesia. Menjadi sumber ekonomi kelautan yang begitu kaya dan yang utama menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Bentang laut kita yang diakui dunia internasional adalah salah satu wujub kiprah seorang kader Muhammadiyah yang mendedikasikan seluruhnya untuk bangsa dan negara Indonesia.
Di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 80. Kader Muhammadiyah harus mampu andil dalam dinamika nasional maupun internasional. Globalisasi hari ini menjadi tantangan bagi Juanda Juanda selanjutnya. Negara yang kaya akan sumber daya alam ini harus mampu dikelola dengan prinsip rahmatan lil alamin. Muhammadiyah hari ini menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dengan negara Indonesia. Diaspora kader menjadi bukti nyata peran Muhammadiyah hari ini. Ketua PWM dan Sekretaris PWM Jatim menjadi teladan kami dalam pengabdiannya untuk bangsa ditengah kesibukan dan harus membagi waktu untuk persyarikatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments