Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Ahad Pagi PCM Gresik Ajak Ratusan Jamaah Pahami Lambang Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Kajian Ahad Pagi PCM Gresik Ajak Ratusan Jamaah Pahami Lambang Muhammadiyah
Kajian Ahad Pagi yang digelar oleh PCM Gresik. Foto: Abizar Purnama/PWMU.CO.
pwmu.co -

Ratusan warga Muhammadiyah Gresik memadati Masjid Taqwa Perguruan Muhammadiyah Gresik, Jalan KH. Kholil nomor 90 pada Ahad (28/9/2025). Kehadiran mereka dalam rangka mengikuti Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Direktur Abdullah Wasian Foundation sekaligus pakar kristologi, Ustadz Masyhud, S.M.

Peserta kajian datang dari berbagai kalangan, mulai dari para guru, pengurus ranting dan cabang Muhammadiyah, Aisyiyah, serta ortom seperti Nasyiatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Hadir juga pegawai SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A dan B, tenaga pendidik SMP Muhammadiyah 1 Gresik, hingga karyawan RS Muhammadiyah Gresik (RSMG).

Suasana kajian berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat, dengan fokus utama pada penguatan ideologi ber-Muhammadiyah bagi seluruh jamaah.

Dalam paparannya, Ustadz Masyhud mengulas secara mendalam makna ideologis yang terkandung dalam lambang Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa 12 cahaya pada lambang Muhammadiyah melambangkan 12 murid Nabi Isa AS (Hawariyun), yakni para pengikut setia yang menyerukan gerakan pemurnian ajaran Nabi Isa. Namun, pada masa itu banyak umat yang justru menyimpang dengan menuhankan Nabi Isa.

“Sebagaimana Hawariyun, Muhammadiyah hadir untuk melakukan pemurnian ajaran Islam. Maka dari itu, tidak mengherankan bila Muhammadiyah kadang mendapat penolakan, bahkan dimusuhi, sebab dakwah pemurnian ini sering berbenturan dengan tradisi atau keyakinan yang telah lama menyimpang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Masyhud mengaitkan simbol tersebut dengan Al-Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 6. Dalam ayat itu, Nabi Isa AS menubuatkan kedatangan seorang rasul setelahnya, yaitu Nabi Muhammad SAW.

“Nabi Isa sendiri bergelar Al-Masih, yang berarti raja, panglima perang, tokoh agama, sekaligus pembebas dari perbudakan. Namun, beliau juga mengabarkan tentang datangnya Nabi penutup, Muhammad saw. Inilah benang merah yang harus kita pahami,” tegasnya.

Selain itu, Ustadz Masyhud juga menekankan pentingnya memahami kalimat syahadat yang tertulis pada lambang Muhammadiyah. Menurutnya, syahadat bukan sekadar bacaan, melainkan komitmen mendalam seorang muslim terhadap Allah SWT.

“Allah tidak membutuhkan manusia maupun makhluk lain. Justru manusialah yang membutuhkan Allah. Maka dari itu, ketaatan kepada Allah adalah nikmat terbesar,” ujarnya sambil mengutip Surat An-Nur ayat 52 yang artinya: Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut dan bertakwa kepada-Nya, maka sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang akan meraih kemenangan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak pernah menduakan Allah dengan menuruti hawa nafsu.

“Sering kali kita mengikuti keinginan, padahal hal itu bertentangan dengan aturan Allah. Hati-hati karena itulah yang bisa membuat kita tergelincir,” pesannya.

Untuk memudahkan pemahaman, Ustadz Masyhud menyelipkan sebuah kisah sederhana. Ia menggambarkan situasi ketika seseorang menemukan dompet temannya terjatuh.

“Pilihan kita akan menentukan apakah mengembalikannya sesuai aturan Allah atau justru menuruti nafsu untuk memilikinya. Inilah ujian sejati,” sambungnya.

Ia juga menyinggung sifat rakus manusia melalui sebuah anekdot.

“Sebuas-buas harimau tidak akan memakan kayu karena bukan kebutuhannya. Namun manusia, ketika menuruti hawa nafsunya, bisa memakan segala hal bahkan yang berlebihan,” ucapnya.

Pada sesi berikutnya, jamaah diajak merenungi awal Surat Ash-Shaff yang menegaskan bahwa seluruh alam semesta, baik langit maupun bumi, senantiasa bertasbih menyucikan Allah. Ustadz Masyhud menekankan bahwa mendustakan Allah hanya akan membawa pada kesengsaraan.

Ia kemudian mengutip Surat Al-Baqarah ayat 39 yang menegaskan bahwa orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah akan menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya.

Ia juga menyitir Surat Thaha ayat 124 yang menyebutkan bahwa siapa pun yang berpaling dari peringatan Allah akan menjalani kehidupan yang sempit di dunia dan dibangkitkan dalam keadaan buta di akhirat.

Kajian Ahad Pagi ini tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat pemahaman warga Muhammadiyah tentang makna perjuangan persyarikatan.

Dengan memahami lambang Muhammadiyah dan tafsir Surat Ash-Shaff, jamaah diharapkan semakin teguh dalam meniti jalan dakwah.

“Lambang Muhammadiyah bukan sekadar simbol. Di dalamnya terkandung pesan perjuangan, pemurnian, dan keteguhan iman. Inilah ideologi yang harus terus kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Ustadz Masyhud. (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu