Selanjutnya, ia menyampaikan enam kewajiban orang yang beriman terhadap Al-Quran, yaitu:
1. Mengimani Al-Quran
Beriman kepada al-Quran berarti percaya dan yakin bahwa al-Quran adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Setiap muslim wajib meyakini kebenaran seluruh isi al-Quran tanpa keraguan sedikit pun.
2. Membaca Al-Quran
Al-Quran diturunkan untuk dibaca dan diamalkan. Membaca al-Quran adalah ibadah yang mendatangkan pahala, baik di masjid maupun di rumah. Selama bulan Ramadan, membaca al-Quran dengan suara lantang diperbolehkan, namun tetap harus menjaga agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
3. Mentadabburi Al-Quran
Membaca Al-Qur’an saja belum cukup, tetapi harus disertai dengan tadabbur (merenungi dan memahami maknanya). Al-Quran adalah petunjuk hidup yang memerlukan pemahaman mendalam agar pesan-pesan di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mengamalkan Al-Quran
Al-Quran bukan hanya untuk dibaca dan dipahami, tetapi juga diamalkan. Al-Quran adalah obat yang paling mujarab, tidak hanya untuk penyakit fisik tetapi juga penyakit hati. Mengamalkan ajaran al-Quran akan membawa ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.
5. Mendakwahkan dan Mengajarkan Al-Quran
Dakwah adalah kewajiban seluruh umat Islam, bukan hanya tugas para ustaz dan kiai. Menyebarkan ajaran al-Quran adalah bentuk kasih sayang terhadap sesama manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 104:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Berdakwah secara berjamaah akan memperkuat dakwah dan menjadikan umat lebih solid.
6. Menolong Al-Quran
Menolong al-Quran berarti memperjuangkan dan membela ajaran-ajarannya. Barang siapa yang memperjuangkan al-Quran, maka Allah akan menolong dan memperteguh imannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Dengan menjalankan enam kewajiban ini, umat Islam diharapkan semakin dekat dengan al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Bulan Ramadan adalah saat yang tepat untuk berderma atau bersedekah. Setiap harta yang dimiliki manusia adalah titipan Allah. Maka, tunaikan hartamu sebelum ajal menjemput. Harta yang disedekahkan hendaknya berasal dari harta yang baik, yakni harta yang kita makan dan nikmati, bukan sekadar sisa dari apa yang kita konsumsi,” tuturnya.
Dr Ari Sudahri juga menyampaikan bahwa berderma sebaiknya diutamakan kepada kerabat dekat, sahabat karib, kedua orang tua, mertua, anak yatim, dan kepada orang-orang yang membutuhkan. Siapa yang berbuat baik, maka dialah yang akan mendapat balasan kebaikan. Semoga Ramadan menjadi momentum hijrah bagi kita untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.(*)
Penulis Sarwito Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments