
PWMU.CO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jiken, Tulangan, Sidoarjo, menggelar Kajian Ahad Sore Ramadan sebagai upaya memperdalam ilmu agama dan memperkuat spiritualitas di bulan suci. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (2/3/2025) ini menghadirkan Direktur RS Siti Fatimah Aisyiyah Tulangan, Sidoarjo, dr Tjatur Priambodo MKes, sebagai narasumber.
Dalam kajian menjelang berbuka puasa tersebut, dr Tjatur mengupas secara mendalam keutamaan puasa Ramadan dari aspek spiritual dan kesehatan. Ia menekankan bahwa siapa pun yang menyambut bulan Ramadan dengan penuh kebahagiaan akan meraih keberkahan luar biasa, bahkan jasadnya diharamkan tersentuh api neraka.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan proses penyucian jiwa dan tubuh. Dalam al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 183, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa agar mencapai ketakwaan. Hal ini menunjukkan bahwa puasa memiliki tujuan besar, yaitu membentuk pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Selain aspek spiritual, dr Tjatur juga menjelaskan bahwa puasa memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan, khususnya dalam proses regenerasi sel tubuh. Ia mengungkapkan bahwa setiap hari miliaran sel dalam tubuh manusia mengalami kerusakan dan perlu diperbarui.
“Jika proses regenerasi ini terganggu, tubuh akan lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Melalui puasa, tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Ini merupakan mekanisme alami yang luar biasa,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa secara medis, regenerasi sel membutuhkan siklus tertentu yang berulang setiap 12 hingga 12,5 hari. Hal ini selaras dengan hikmah puasa Ramadan yang berlangsung selama 29-30 hari setiap tahunnya.
“Seandainya puasa Ramadan tidak diwajibkan, tubuh kita tetap membutuhkan proses pembersihan ini. Artinya, kita tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga memenuhi kebutuhan biologis yang menyehatkan,” ungkap laki-laki yang juga dosen Fakultas Kedokteran UM Surabaya tersebut.
Menepis Mitos: Puasa Justru Menyehatkan
Dr Tjatur membantah anggapan bahwa penderita penyakit kronis, seperti diabetes, tidak boleh berpuasa. Ia menekankan bahwa dengan pola puasa yang tepat, banyak pasien diabetes justru mengalami perbaikan kondisi kesehatan.
“Ada seorang pasien diabetes dengan kadar gula darah mencapai 230 mg/dL yang bertanya apakah ia boleh berpuasa. Jika ia menganggap puasa sebagai beban, ia cenderung mencari alasan untuk tidak menjalankannya. Namun, jika ia memahami bahwa puasa merupakan kebutuhan tubuh, ia akan berusaha menemukan cara yang tepat agar dapat berpuasa dengan aman,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak memandang penyakit sebagai hambatan dalam berpuasa. Sebab, berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa justru dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki metabolisme.
Mindset Positif dalam Beribadah
Salah satu poin utama yang disampaikan dalam kajian ini adalah pentingnya pola pikir positif dalam menjalankan ibadah. Menurut Dr Tjatur cara seseorang memandang suatu hal akan berpengaruh pada kondisi fisik dan emosionalnya.
“Jika kita menganggap puasa sebagai sesuatu yang berat, tubuh akan merespons dengan rasa lemas dan tidak berdaya. Sebaliknya, jika kita meyakini bahwa puasa membawa manfaat, tubuh akan beradaptasi dengan baik,” katanya.
Ia menekankan bahwa banyak penyakit sebenarnya berasal dari persepsi dan pola pikir seseorang. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Kajian yang berlangsung di PRM Jiken ini mengingatkan umat Islam bahwa puasa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga merupakan sarana untuk memperbaiki diri, baik secara spiritual maupun fisik.
“Mari kita jalani Ramadan dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan. Jangan menganggapnya sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan emas untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sehat,” pungkas Dr Tjatur
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna puasa, diharapkan umat Islam semakin bersemangat dalam menjalankannya. Sebab, di balik setiap perintah Allah, pasti tersimpan kebaikan yang luar biasa bagi manusia.
Kajian Ahad sore pertama di PRM Jiken ini disambut dengan antusias oleh seluruh warga Muhammadiyah Jiken. Hal yang istimewa yakni, kajian ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Jiken, Budiyono Anwar, beserta perangkat desa, Ketua RW 03 Bringin, serta para Ketua RT se-Dusun Bringin. (*)
Penulis Zulkifli Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments