Kematian tragis YBS (10 tahun), seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, akibat tidak mampu membeli buku tulis, menjadi alarm keras bagi kemanusiaan kita.
Peristiwa ini bukan sekadar musibah keluarga, melainkan muara dari persoalan sistemik yang saling bertautan.
Syadad Thariq Sukendar SH mengatakan bahwa dari sisi kebijakan dan sosial, meski pemerintah terus mengklaim penurunan angka kemiskinan, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya “lubang hitam” dalam distribusi bantuan sosial.
Secara sosial, peristiwa ini mencerminkan kegagalan jaring pengaman kolektif. Kemiskinan ekstrem telah menciptakan tekanan sosial yang begitu berat. Di mana kebutuhan dasar pendidikan berubah menjadi beban hidup yang mematikan bagi keluarga prasejahtera.
Dari Perspektif Psikologi Perkembangan Secara psikologis, anak usia 10 tahun berada pada tahap Operasional Konkret (Piaget) dan fase Industri vs Inferioritas (Erikson).
Inferioritas Mendalam
Pada usia ini, anak memiliki kebutuhan besar untuk merasa kompeten di sekolah. Ketika sarana dasar seperti buku tulis tidak terpenuhi, muncul rasa rendah diri (inferioritas) yang mendalam.
“Ditambah dengan kondisi otak yang belum matang dalam mengendalikan impuls, anak cenderung mengambil keputusan drastis saat merasa menjadi beban bagi orang tuanya (perceived burdensomeness)” ujar M Dipo Marihdina P SPsi.
Pandangan Umum dan Fakta Terbaru Masyarakat luas melihat tragedi ini sebagai tamparan bagi keadilan sosial di Indonesia.
Hingga hari ini, perkembangan terbaru menunjukkan adanya desakan kuat bagi pemerintah untuk melakukan pemutakhiran data kemiskinan secara total.
Pihak kepolisian dan psikolog telah diturunkan untuk memberikan pendampingan bagi keluarga, sementara gerakan solidaritas dari berbagai organisasi.
Termasuk elemen mahasiswa, mulai menggalang advokasi agar tidak ada lagi “YBS lain” yang kehilangan nyawa hanya karena ketiadaan pena dan buku.
Aksi PC IMM Sidoarjo
Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Sidoarjo menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi bunuh diri yang menimpa YBS (10), siswa SD di Ngada, NTT, yang dipicu ketidakmampuan membeli alat tulis.
Kejadian ini dinilai bukan sekadar musibah, melainkan kegagalan sistemik negara dalam melindungi rakyatnya yang paling rentan.
Lebih lanjut, IMM Sidoarjo menyoroti kontradiksi antara klaim penurunan angka kemiskinan pemerintah dengan realitas di lapangan.
“Negara gagal hadir ketika seorang anak harus menukar nyawanya demi sebuah buku tulis. Ini bukti bahwa Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) masih bocor dan tidak menyentuh akar rumput” ujar Dipo dan Syadad dalam kajian mereka di bidang KPK IMM Sidoarjo.
Perspektif Psikologi hingga Sosial
Secara psikologis, anak usia 10 tahun berada pada tahap Industri vs Inferioritas. Ketidakmampuan memiliki alat sekolah memicu rasa rendah diri yang ekstrem.
Di usia ini, pusat emosi otak berkembang lebih cepat dari pada kontrol logika, sehingga anak sangat rentan terhadap tindakan impulsif saat merasa menjadi beban keluarga (perceived burdensomeness).
Adapun dari sisi sosial, masyarakat hari ini menyaksikan kemiskinan yang telah terstruktur. Kemiskinan bukan lagi sekadar urusan perut, tapi sudah mengancam kesehatan mental generasi penerus.
PC IMM Sidoarjo memandang perlu adanya jaring pengaman sosial yang lebih peka terhadap biaya operasional pendidikan, bukan hanya sekadar gedung sekolah gratis.
Langkah Konkret
Hingga hari ini, desakan untuk pemutakhiran data bansos terus menguat secara nasional. Sebagai bentuk respons nyata, PC IMM Sidoarjo telah melakukan diskusi bersama bidang Kajian Pengembangan dan Keilmuan (KPK) dan menyatakan:
- Instruksi Kader: Melakukan pendataan mandiri terhadap anak terancam putus sekolah di wilayah dampingan di Sidoarjo.
- Kolaborasi LazisMu: Menginisiasi program beasiswa “Alat Tulis untuk Negeri” guna memastikan tidak ada anak di sekitar kita yang mengalami kendala serupa.
- Audiensi: Akan segera menemui Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo untuk memastikan akurasi data kemiskinan agar tragedi serupa tidak terjadi di Sidoarjo.
PC IMM Sidoarjo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepekaan sosial. “Jangan biarkan tetangga kita kelaparan atau anak-anak kita putus asa di tengah hiruk pikuk pembangunan” tutup pernyataan tersebut.






0 Tanggapan
Empty Comments