Tidak semua pelajaran hidup datang dari ruang kelas. Ada yang lahir dari rukuk dan sujud, dari jeda panjang antara takbir dan salam.
Di Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya, Ahad (2/11/2025) pagi, jamaah Kajian Matahari Terbit PCM Gubeng diajak menelusuri perjalanan batin menuju kesadaran diri.
Ustaz Dr. Syamsul Ma’arif, M.PSDM, Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, berdiri di hadapan ratusan jamaah dengan suara tenang. Tak banyak retorika, hanya kalimat pelan namun dalam makna. Ia membuka kajian dengan firman Allah dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 tentang orang beriman dan ilmu yang meninggikan derajat manusia.
“Belajar itu tidak berhenti di sekolah. Orang beriman belajar seumur hidup. Bahkan shalat pun harus terus dipelajari,” ujarnya.
Ia mencontohkan shalat sunnah rawatib yang berjumlah 14 rakaat, qobliyah Subuh yang nilainya setara seisi dunia, dan shalat ghairu muakkad setelah Zuhur yang pahalanya besar. Menurutnya, ibadah itu bukan sekadar menambah amal, melainkan latihan disiplin spiritual yang melatih hati agar peka.
Di tengah materi, Ustaz Syamsul berbagi pengalaman pribadi.
“Saya belajar shalat lebih dari empat puluh tahun, dan tetap saja kadang lalai,” ungkapnya. “Jihad terbesar bukan di medan perang, tapi di sajadah. Jihad melawan lupa, melawan syaitan khanzab yang menipu dalam kekhusyukan.”
Suasana masjid hening. Jamaah terdiam mendengarkan setiap kalimatnya.

Ia kemudian berbicara tentang kematian, bukan untuk menakuti, tetapi menyadarkan. “Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Siap atau tidak, pasti mati. Maka bersiaplah, siapkan amal dan bekal terbaik. Jangan tunggu sempurna, tapi mulai dari kesadaran.”
Ia mengutip QS. Al-Hasyr ayat terakhir, agar setiap orang beriman menilai dirinya sebelum ajal menjemput. Dalam bahasa lembut, ia menegaskan bahwa shalat bukan sekadar gerakan, melainkan komunikasi dan mujahadah batin antara makhluk dan Khaliq.
“Apakah hati kita bergetar ketika berdiri di hadapan Allah?” tanyanya pelan. “Karena sesungguhnya orang beriman itu hatinya bergetar saat nama Allah disebut.”
Dalam kajian itu, Ustaz Syamsul juga mengajak jamaah merenungi makna perjalanan. Ia menyinggung negeri-negeri seperti Jepang, Singapura, dan Eropa.
“Kita sering terpukau dengan kebersihan dan kedisiplinan mereka. Padahal Al-Qur’an sudah mengajarkan, ‘Berjalanlah di muka bumi dan makanlah dari rezeki-Nya’ (QS. Al-Mulk: 15). Menjelajah bumi itu ibadah, asal untuk mengenal ciptaan-Nya,” tuturnya.
Kajian diakhiri dengan pesan penutup. “Jangan bosan rukuk dan sujud,” ujarnya. “Karena setiap kali kita rukuk, sejatinya kita sedang melatih diri untuk tunduk — bukan pada dunia, tapi pada Sang Pencipta.”
Acara ditutup dengan pembacaan QS. Al-Fajr ayat 27–30, doa penutup majelis, dan pembagian sembako kepada jamaah ibu-ibu. Wajah-wajah lelah berubah menjadi tenang.
Pagi itu, bukan hanya matahari yang terbit di Surabaya. Kesadaran pun terbit di hati banyak orang: bahwa belajar sejati tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi terus hidup dalam rukuk yang khusyuk dan amal yang bernilai. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments