Kajian kitab Nashaihul Ibad memasuki pertemuan keempat belas dengan tema “Nasihat tentang Enam Perkara”.
Kegiatan ini dilaksanakan setelah salat Subuh berjemaah pada Jumat (6/3/2026) di Masjid Al-Falah Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdamu) Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen, Genteng, Banyuwangi, dan disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd.
Mengawali kajian, Ustaz Taslim membuka dengan mengulang penjelasan pada pertemuan sebelumnya.
Pada kajian tersebut, ia menyampaikan bahwa pembahasan berfokus pada atsar dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. tentang enam kenikmatan yang menjadi sebab keselamatan.
“Kenikmatan ada enam perkara yang harus kita jadikan pedoman agar keselamatan senantiasa menaungi kita hingga hari akhir,” ujarnya, seraya membacakan perkataan sahabat Ali r.a.:
“Kenikmatan itu ada enam perkara, yaitu Islam, Al-Qur’an, Muhammad Rasulullah SAW, sehat walafiat, tertutup aibnya, dan tidak bergantung kepada manusia.”
Ia menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang diridai Allah SWT.
“Dari sinilah Islam akan memberikan keselamatan selama para pengikutnya mengikuti rambu-rambu dan menjaga keutuhan bangunannya. Islam dibangun atas lima sendi, yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa Al-Qur’an merupakan lentera yang memberi penerangan saat kita berada dalam kegelapan, atau sebagai tongkat ketika kita berjalan tertatih-tatih.
“Al-Qur’an menaungi setiap aktivitas manusia agar terjaga dari kesesatan yang terus didorong oleh hawa nafsu,” tuturnya.
Selanjutnya, Ustaz Taslim mengatakan bahwa Muhammad Rasulullah SAW merupakan satu-satunya nabi yang mampu memberikan syafaat pada hari kiamat.
Dalam suatu riwayat tentang syafaat, lanjutnya, hal itu pernah ditawarkan kepada nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa, namun mereka menolak karena pernah melakukan kesalahan. Karena itu, umat Islam dianjurkan setiap hari membaca doa berikut:
“Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Muhammad SAW. sebagai rasul dan nabiku, serta Al-Qur’an sebagai pedoman hukum dan panutanku.”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sehat walafiat yang dimaksud ialah sehat secara jasmani dan rohani, termasuk tercukupinya berbagai kebutuhan oleh Allah SWT.
“Aib akan tertutup jika seorang hamba selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga tidak tersesat ke jalan kekafiran,” imbuhnya.
Mengenai ketergantungan kepada orang lain dalam urusan dunia, Ustaz Taslim menjelaskan dengan sabda Nabi dalam hadis qudsi:
“Wahai Bani Adam, habiskanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai Bani Adam, jangan engkau menjauh dari-Ku. Jika engkau menjauh, maka Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan kedua tanganmu dengan kesibukan.”
Usai membacakan hadis qudsi tersebut, Ustaz Taslim menutup kajian kitab Nashaihul Ibad dengan doa kafaratul majelis. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments