Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Abu Hanifah Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) sukses menggelar Kajian Ramadan.
Adapun kegiatan ini sebagai upaya memperkuat kesadaran spiritual kader dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Lebih lanjut, kajian ini merupakan program kerja kolaborasi antara Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman (TKK), Bidang Immawati, serta Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK).
Ruang Refleksi
Kajian Ramadhan yang terlaksana pada Senin (23/02/2026) ini terhadiri oleh kader IMM Abu Hanifah sebagai ruang refleksi dan penguatan nilai keislaman bagi kader IMM.
Kajian menghadirkan Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paciran, Anas Ma’ruf, sebagai pemateri utama.
Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan yang memiliki keutamaan luar biasa dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Ramadan disebut sebagai bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan, di mana setiap amal ibadah dilipat gandakan pahalanya.
Kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan, menurutnya, menjadi nikmat besar yang patut disyukuri. Kesadaran inilah yang menjadi pintu awal untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Lebih lanjut, pemateri menegaskan pentingnya mengisi bulan Ramadan dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan memberikan dampak positif.
Ia mengingatkan agar dalil-dalil agama tidak dipahami secara parsial sehingga justru melahirkan sikap bermalas-malasan dalam berpuasa.
Amalan Sederhana, Bernilai Besar
Kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an, salat berjamaah, mengikuti kajian keislaman, serta menjaga silaturahmi disebut sebagai amalan sederhana namun bernilai besar.
Ramadan juga menjadi momentum untuk mengendalikan diri dari aktivitas yang kurang bermanfaat, termasuk penggunaan smartphone secara berlebihan. Dengan pengelolaan waktu yang baik, harapannya Ramadan mampu membentuk pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Pada penutup kajian, Anas Ma’ruf mengajak kader IMM untuk menjadikan puasa sebagai ibadah yang memberikan perubahan nyata dalam kehidupan.
Kebiasaan bangun lebih awal saat sahur dipandang sebagai latihan kedisiplinan yang dapat dilanjutkan dengan salat tahajud dan subuh berjamaah.
Di samping itu, ia juga mengajak peserta untuk meniatkan Ramadan seolah-olah sebagai Ramadan terakhir, sehingga setiap ibadah dijalankan dengan kesungguhan dan kekhusyukan.
Harapannya, refleksi tersebut mampu menanamkan nilai-nilai Ramadan agar tetap terjaga meskipun bulan suci telah berlalu. Kajian ini menjadi salah satu ikhtiar IMM Abu Hanifah Umla dalam membentuk kader yang beriman, berilmu, dan berakhlak.






0 Tanggapan
Empty Comments