Sabtu (21/2/2026), saya tiba di Universitas Muhammadiyah (UM) Jember sekitar pukul 11.30 WIB. Untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di kampus di Jalan Karimata No. 49 itu.
Siang belum mengurangi antusiasme. Halaman dipenuhi kendaraan, peserta datang bergelombang—sebagian berbatik Muhammadiyah, sebagian lainnya mengenakan jas resmi organisasi.
Kampus ini menjadi tuan rumah Kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim). Kegiatan berlangsung hingga Ahad (22/2/2026).
Agenda tahunan ini dirancang sebagai ruang konsolidasi gagasan yang menghubungkan isu keislaman, kebangsaan, dan kebijakan publik dalam satu rangkaian diskusi terstruktur.
Perjalanan saya dari Surabaya menuju Jember memakan waktu sekitar tiga setengah jam melalui jalur darat. Selepas Pasuruan, lalu lintas mulai lengang. Hamparan sawah dan perbukitan mendominasi pemandangan.
Mendung menggantung sejak pagi, membuat suhu lebih sejuk dari biasanya. Perjalanan berlangsung lancar tanpa kemacetan berarti, memberi cukup waktu untuk membaca ulang tema besar kajian tahun ini.
Memasuki area kampus, penataan acara langsung terlihat. Spanduk besar bertuliskan “Kajian Ramadan 1447 Hijriah/2026 M” terpasang di gerbang utama.
Meja registrasi dibagi berdasarkan daerah asal peserta. Panitia mengenakan tanda pengenal dan membagikan goodie bag berisi buku, tumbler, air mineral, kurma, serta beberapa brosur dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kegiatan dipusatkan di Aula Ahmad Zainuri. Ruangan itu hampir penuh sebelum acara dimulai. Peserta berasal dari 38 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur.
Mereka terdiri atas ketua, sekretaris, hingga unsur majelis, mewakili struktur organisasi tingkat kabupaten dan kota.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa forum ini menjadi bagian dari agenda strategis gerakan, bukan sekadar seremoni tahunan.
Sebuah tenda besar berwarna putih dipasang di pelataran menuju aula untuk menampung peserta yang tidak tertampung di ruang utama. Antusiasme terlihat dari arus kedatangan yang terus mengalir hingga menjelang pembukaan.
Saya belum menemukan catatan resmi mengenai kapan pertama kali Kajian Ramadan PWM Jatim digelar. Namun, sejumlah pengurus Muhammadiyah memperkirakan forum ini telah berlangsung sejak dekade 1990-an.
Artinya, kegiatan ini telah melintasi lebih dari tiga dasawarsa, menjadi ruang konsolidasi pemikiran sekaligus ajang silaturahmi tahunan warga Muhammadiyah Jawa Timur.
Dalam perjalanannya, Kajian Ramadan tidak selalu berlangsung dalam situasi normal. Saat pandemi Covid-19 melanda, agenda ini tidak dapat digelar secara luring sebagaimana biasanya.
Pertemuan tatap muka ditiadakan demi menjaga keselamatan peserta. Pada fase berikutnya, panitia mengadopsi format hybrid—sebagian hadir langsung, sebagian mengikuti secara daring.
Skema ini menjadi jalan tengah agar tradisi keilmuan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kesehatan. Setelah situasi membaik dan pembatasan dicabut, Kajian Ramadan kembali dilaksanakan sepenuhnya secara luring dengan antusiasme yang tetap terjaga.

Tanggung Jawab Keimanan
Tema besar yang diusung tahun ini, “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan”, menjadi titik tekan yang substantif. Ekoteologi dimaknai bukan sekadar istilah akademik, melainkan cara pandang yang menempatkan relasi manusia dan alam sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.
Di tengah Indonesia yang rawan bencana ekologis—banjir, longsor, deforestasi, dan krisis air—tema ini terasa relevan. Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa dakwah tidak berhenti di mimbar, tetapi menjelma menjadi etika kolektif dalam kebijakan, pendidikan, dan perilaku sehari-hari.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam forum ini. Di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2015 Prof. Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu’ti, serta Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya penguatan karakter dalam sistem pendidikan.
Dia menyampaikan bahwa transformasi kurikulum harus disertai pembiasaan nilai integritas, kedisiplinan, dan literasi kritis. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengulas tantangan tata kelola hutan nasional. Ia memaparkan persoalan deforestasi, konflik lahan, serta perlunya sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
Dalam konteks Ramadan, dia mengaitkan isu lingkungan dengan tanggung jawab keagamaan: menjaga hutan berarti menjaga amanah penciptaan.
Dari unsur pimpinan pusat Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni memberikan refleksi tentang posisi Muhammadiyah di tengah dinamika global Islam. Ia menegaskan pentingnya menjaga moderasi dan rasionalitas dalam membaca persoalan keumatan.
Sementara itu, Prof. Din Syamsuddin berbicara mengenai tantangan geopolitik dan konsistensi gerakan dakwah. Ia mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada tradisi ilmu dan etos pembaruan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menyampaikan sambutan secara daring. Ia menegaskan bahwa gerakan harus tetap berpijak pada nilai dasar Islam berkemajuan sekaligus responsif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dari keseluruhan rangkaian, yang terasa bukan sekadar padatnya materi, melainkan kesinambungan antara gagasan dan praksis.
Pendidikan dibicarakan bersama karakter. Lingkungan dibahas dalam kerangka etika keagamaan. Kebangsaan diletakkan dalam tanggung jawab moral.
Di Aula Ahmad Zainuri UM Jember, Kajian Ramadan benar-benar menjadi momentum konsolidasi pemikiran. Isu pendidikan, hutan, geopolitik, dan arah gerakan dirangkai dalam satu garis: bagaimana nilai keislaman diterjemahkan menjadi kebijakan, tindakan, dan orientasi masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments