Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen: Memaknai Cinta kepada Rasulullah

Iklan Landscape Smamda
Kajian SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen: Memaknai Cinta kepada Rasulullah
Kajian rutin SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen di Masjid At-Tanwir Kampus 2 (Foto: Syaiful Efendi/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ia juga menyampaikan kisah para nabi dalam menggapai rahmat Allah SWT yang penuh dengan nilai keikhlasan, kerendahan diri, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah SWT.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi al-Bantani: “Yang selalu mengakui kekurangan diri (dalam ketaatan) adalah orang terpuji, dan pengakuan atas keterbatasan diri (dalam beramal) adalah pertanda diterimanya amal.”

Etos para nabi juga terlihat dari sikap mereka yang mengakui kesalahannya sendiri tanpa menyalahkan orang lain. Nabi Adam dan Siti Hawa, misalnya, saat melakukan dosa dengan memakan buah khuldi tidak menyalahkan iblis, melainkan bersimpuh mengakui kesalahan di hadapan Allah SWT.

Begitu juga Nabi Yunus AS, di dalam gelapnya perut ikan, tidak menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Bahkan, Nabi Muhammad Saw yang sudah dijamin dari segala dosa dan terampuni, masih senantiasa beristighfar dan bertaubat.

Hal ini menjadi teladan kesadaran tertinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Etos para nabi inilah yang mengajarkan kepada manusia untuk tidak menyalahkan siapa pun dalam setiap perbuatan, melainkan mengakui kesalahan diri sendiri.

Ustaz Saiful Amien juga menyampaikan bahwa bentuk cinta kepada Rasulullah Saw bisa diekspresikan dalam banyak cara, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah nenek penjual bunga cempaka yang senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dengan bermodal cinta kepada Rasulullah Saw, seorang Muslim akan dikumpulkan bersama Rasulullah Saw di surga, sebab rahmat Allah SWT akan turun seiring dengan syafaat Rasulullah Saw.

Dalam ungkapan cinta, Ustaz Saiful Amien menyampaikan bahwa cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui sikap. Manusia yang memiliki rasa cinta ditandai dengan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan, juga dengan mengutamakan kehendak orang yang dicintai di atas keinginan diri sendiri.

Sebagai penutup kajian, beliau menyampaikan pesan bahwa manusia tidak bisa hanya mengandalkan amal ibadah untuk masuk surga. Cinta tulus kepada Allah dan Rasulullah SAW yang diekspresikan dalam bentuk ibadah yang baik, tutur kata, dan perilaku yang mulia adalah modal penting yang dapat menyelamatkan manusia kelak di akhirat.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu