Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Subuh Masjid Al-Mizan Smamio: Dari Sepertiga Malam hingga Akhlak Sehari-hari

Iklan Landscape Smamda
Kajian Subuh Masjid Al-Mizan Smamio: Dari Sepertiga Malam hingga Akhlak Sehari-hari
Abdu Dzil Jalali wal Ikram saat memberikan kajian Subuh di Masjid Al Mizan Smamio (Anis Shofatun/PWMU.CO)
pwmu.co -

Masjid Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio) mengadakan kajian bakda shubuh, Ahad (22/2/2026). Kajian ini mengahdirkan Ustaz Abdu Dzil Jalali wal Ikram dengan tema “Isi Ramadan dengan Ilmu”.

Penulis buku Muhasabah Penggugah Jiwa mengajak jamaah memaknai Ramadan bukan sekadar sebagai bulan memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga momentum menata diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam penyampaiannya, Abdu menekankan pentingnya memanfaatkan waktu mustajab saat sahur dan sepertiga malam terakhir untuk berdoa. Ia mengingatkan bahwa pada waktu-waktu tersebut Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon pertolongan dan rahmat.

“Sepertiga malam waktu mustajab, sembari sahur manfaatkan waktu untuk berdoa. Doakan pasangan hidup dan anak-anak kita,” tuturnya.

Ia lalu membacakan doa yang terdapat dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 8:

ربنالاتزققلوبنابعداذهديتنا وهبلنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

Artinya: “Wahai Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk bagi kami. Dan Anugerahkan kepada kami rahmat dari hadiratMu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”.

Di masjid yang terletak di Jalan Raya Mutiara No 95 PPS Suci Manyar Gresik ini, ia mengajak jamaah menata hati agar tidak terjebak pada sikap merasa lebih baik dari orang lain. Menurutnya, Ramadan seharusnya melatih keikhlasan dan kerendahan hati.

“Jangan sampai ramadhan justru membuat kita sibuk membandingkan amalan ibadah dengan orang lain. Aku sudah sekian juz, kamu baru sekian,” katanya memberikan contoh.

Pembelajaran selama Ramadan

Dalam kajian tersebut, Abdu menyampaikan empat pembelajaran penting yang dapat diamalkan selama Ramadan.

Pertama, menjadi pribadi yang hayyin atau rendah hati. Ia menjelaskan bahwa lawan dari tawadhu adalah takabur, yakni sikap merasa paling benar, enggan menerima nasihat, serta meremehkan orang lain.

Ia meneladankan kisah Nabi Adam dan Nabi Yunus yang tidak sibuk menyalahkan pihak lain ketika diuji, tetapi justru merendahkan diri dan memohon ampunan kepada Allah. Sikap tersebut, menurutnya, menjadi teladan bagi umat Islam dalam menyikapi kegagalan maupun ujian hidup. Ramadhan adalah waktu terbaik melatih kerendahan hati, termasuk dalam ibadah dan ketika sedang mengalami kegagalan maupun keberhasilan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua adalah layyin, yakni membiasakan ucapan yang lembut. Ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan, terutama dalam lingkungan keluarga. Ucapan yang tidak terjaga, menurutnya, kerap menjadi awal dari luka batin hingga konflik sosial.

” Anak-anak kita setiap hari bertumbuh, sementara usia kita semakin berkurang. Hati-hati jangan sampai ucapan kita justru melukai. Banyak persoalan besar di masyarakat berawal dari lisan yang tak terjaga,” ungkapnya.

Perkataan itu mempunyai dampak panjang. Maka, ramadhan adalah momen yang tepat untuk melatih berbicara dengan lembut, menenangkan dan tidak melukai perasaan orang lain.

Kenyamanan

Ketiga, qaribin, yaitu menjadi pribadi yang dekat dan menyenangkan bagi sesama. Menurutnya, kehadiran seorang muslim seharusnya dirindukan karena membawa kenyamanan. Murah senyum, ringan menyapa, dan ramah kepada sesama adalah bagian dari sedekah.

Ia menegaskan bahwa orang-orang yang dekat dengan manusia dan memudahkan urusan orang lain akan dijauhkan dari api neraka. Karena itu, Ramadan perlu dijadikan latihan membangun keakraban dan kepedulian sosial. Dai yang bertempat tinggal di Peganden itu selanjutnya membacakan Hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad yang berbunyi:

خير الناس انفعهم للناس

Yang artinya: manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Keempat adalah syahrir, yakni tidak merepotkan orang lain, bahkan berusaha memudahkan urusan sesama. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Di masjid yang baru diresmikan bulan Desember 2025 itu, Abdu kembali mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan kerendahan hati selama Ramadan. Menurutnya, semakin seseorang meninggikan diri di hadapan manusia, justru Allah akan merendahkannya. Sebaliknya, siapa pun yang merendahkan diri di hadapan Allah, derajatnya akan diangkat.

“Mari jadikan ramadhan sebagai sekolah pengendalian diri. Jika lisan kita terjaga, dan merasa rendah hati di hadapan Allah. IsnyaAllah akhlak kita semakin baik dan hidup kita lebih bermakna,” pesannya mengakhiri kajian shubuh Ahad pertama bulan ramadhan 1447H. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu