Pembahasan tentang hari Kiamat kerap diasosiasikan dengan ketakutan dan kecemasan. Namun dalam perspektif Islam, tanda-tanda kiamat justru hadir sebagai peringatan dan pengingat agar manusia tidak lalai dalam menjalani kehidupan.
Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam Kajian Tangguh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kanigoro, Kabupaten Blitar, Rabu (7/1/2026) malam. Kegiatan inio dilaksanakan setiap tanggal tujuh.
Melalui forum kajian yang bersifat reflektif dan mendalam, PCM Kanigoro berupaya mengajak jamaah membaca realitas zaman dengan kacamata iman, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari pertanggungjawaban akhir.
Salah satu tanda kiamat yang disoroti adalah munculnya para pendusta yang mengaku sebagai nabi. Ustaz Ivana Kusuma, Lc, dai dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Blitar, menegaskan bahwa fenomena ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah saw.
Menurutnya, klaim kenabian palsu bukan hanya persoalan aqidah semata, tetapi juga mencerminkan krisis keteladanan dan literasi keagamaan di tengah umat.
Ketika pemahaman agama dangkal, masyarakat menjadi mudah terpengaruh oleh figur-figur yang menyesatkan dengan balutan retorika religius.
“Nabi Muhammad sawadalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelah beliau. Maka setiap klaim kenabian setelah itu adalah kebohongan,” tegasnya.
Ustaz Ivana juga mengulas tanda-tanda kiamat lain yang terasa semakin dekat dengan kehidupan modern. Di antaranya adalah saling mendekatnya pasar, pesatnya perdagangan, serta maraknya aktivitas tulis-menulis dan penyebaran ilmu.
Namun, kemajuan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman. Ilmu yang tersebar luas sering kali kehilangan kedalaman makna, sementara informasi beredar tanpa disertai hikmah. Akibatnya, kebodohan justru tumbuh di tengah banjir pengetahuan.
“Ilmu semakin banyak, tetapi pemahaman yang benar justru semakin sedikit,” ungkapnya.
Kekerasan, Riba, dan Hilangnya Amanah
Fenomena sosial lain yang dikategorikan sebagai tanda-tanda kiamat adalah maraknya pembunuhan tanpa sebab yang jelas, cepatnya waktu berlalu, meluasnya praktik riba, serta hilangnya amanah dalam kehidupan bermasyarakat.
Ustadz Ivana menekankan bahwa hilangnya amanah adalah peringatan yang sangat serius. Ketika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka kehancuran sosial tinggal menunggu waktu.
“Krisis amanah bukan hanya terjadi di level kepemimpinan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari—di keluarga, di tempat kerja, bahkan dalam urusan ibadah,” ujarnya.
Tanda-tanda kiamat sejatinya bukan fenomena baru. Al-Qur’an telah mengingatkan umat manusia sejak berabad-abad lalu. Salah satunya melalui firman Allah SWT dalam Surat Muhammad ayat 18:
فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba. Sungguh, tanda-tandanya telah datang. Maka bagaimana kesadaran mereka apabila hari kiamat itu sudah datang kepada mereka.”
Ayat ini menegaskan bahwa tanda-tanda kiamat telah hadir, dan manusia tidak memiliki alasan untuk terus menunda kesadaran.
Melalui Kajian Tangguh, PCM Kanigoro menempatkan kajian keislaman bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang perenungan untuk membaca zaman.
Tanda-tanda kiamat tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan berlebihan, tetapi sebagai ajakan untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta menjaga amanah dalam setiap peran kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments