Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kalender Hijriyah Global Picu Perdebatan, Muhammadiyah Kembali di Depan

Iklan Landscape Smamda
Kalender Hijriyah Global Picu Perdebatan, Muhammadiyah Kembali di Depan
Kalender Hijriyah Global Picu Perdebatan, Muhammadiyah Kembali di Depan
Oleh : Mahfudz Efendi Guru SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Gresik

Di penghujung Ramadan 1447 H, linimasa terasa gaduh oleh satu hal yang berulang. Orang-orang memperdebatkan kapan Lebaran tiba sama seperti saat menentukan awal puasa dengan nada yang beragam dan saling sindir, makin meninggi.

Sebagian mengutip dalil, sebagian lagi mengandalkan kebiasaan lama. Nama Muhammadiyah ikut terseret ke tengah percakapan. Kalender Hijriyah Global Tunggal tiba-tiba menjadi pusat perhatian.

Padahal ketika pertama kali diperkenalkan, hampir tak ada yang benar-benar peduli. Ia lewat begitu saja seperti berita kecil yang tidak sempat dibaca sampai habis.

Dari Sepi Perbincangan hingga Ramai Perdebatan

Beberapa bulan sebelumnya, tepat saat 1 Muharram 1447 H, suasana masih sepi. Kritik terhadap KHGT hanya datang dari lingkaran yang itu-itu saja.

Para pengamal rukyat menggerutu pelan, selebihnya diam. Tidak ada gelombang besar seperti sekarang. Orang-orang masih sibuk dengan urusan lain yang terasa lebih dekat. Kalender global itu seperti ide yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Sampai akhirnya Ramadan datang dan semua berubah.

Mendekati akhir bulan Ramadan, diskusi terasa semakin rapat. Grup keluarga, ruang obrolan kampus, sampai kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan yang sama.

Tidak sedikit yang bingung harus mengikuti siapa. Ada yang mulai curiga bahwa ini sekadar beda pendapat biasa. Ada juga yang menganggap ini bentuk keberanian yang terlalu jauh.

Di titik ini, Muhammadiyah kembali berada di posisi yang sudah sangat dikenalnya: sendirian di depan, sementara yang lain masih menimbang.

Jejak Sejarah: Dari Penolakan Menuju Penerimaan

Cerita seperti ini bukan barang baru bagi Muhammadiyah. Jauh sebelum organisasi ini berdiri secara resmi, benih keberanian itu sudah tumbuh. Kiai Ahmad Dahlan pernah berdiri di tengah masyarakat yang kukuh dengan kebiasaan lama. Ia meluruskan arah kiblat dengan pendekatan ilmu.

Respons yang datang tidak ramah. Surau yang ia dirikan bahkan sempat dirusak karena dianggap menyimpang. Keputusan meluruskan kiblat kala itu terasa seperti gangguan bagi banyak orang. Mereka merasa ibadah yang selama ini dijalani tiba-tiba dipertanyakan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Namun waktu berjalan tanpa meminta izin. Masjid-masjid mulai menyesuaikan arah. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan berubah menjadi standar. Orang-orang mulai lupa bahwa pernah ada penolakan keras terhadap hal yang sekarang terasa biasa.

Transformasi di Dunia Pendidikan dan Kesehatan

Di bidang pendidikan, kisah serupa kembali terulang. Kiai Dahlan memperkenalkan sistem belajar dengan bangku dan meja, sesuatu yang saat itu identik dengan sekolah Belanda. Tuduhan datang tanpa jeda. Ia disebut meniru orang kafir dan dianggap merusak tradisi belajar agama.

Lambat laun, perubahan itu menemukan tempatnya sendiri. Sekolah-sekolah tumbuh dengan cara yang lebih terstruktur. Murid duduk di kursi, mencatat pelajaran, berdiskusi dengan guru. Hari ini sulit menemukan lembaga pendidikan yang tidak memakai bangku dan meja. Bahkan pesantren pun mengadopsinya dengan cara yang khas.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Langkah berikutnya muncul di sektor kesehatan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit di masa ketika hal itu terasa janggal. Organisasi Islam dianggap cukup mengurus pengajian dan pendidikan. Namun waktu kembali membuktikan. Rumah sakit Muhammadiyah kini berkembang di berbagai kota dan melayani masyarakat luas tanpa sekat.

Kontroversi yang Berulang, Pola yang Sama

Beberapa tahun lalu, Muhammadiyah kembali membuat keputusan yang memancing perdebatan panjang, yakni pemunduran waktu subuh sekitar delapan menit dari ketetapan pemerintah. Kajian dilakukan bertahun-tahun sebelum keputusan itu diambil. Banyak yang meragukan, bahkan menolaknya mentah-mentah.

Namun setelah waktu berjalan, penelitian lanjutan bermunculan dan diskusi menjadi lebih tenang. Tidak sedikit yang akhirnya mengakui dasar ilmiah yang kuat di balik keputusan tersebut. Perubahan pun mulai diterima sebagai alternatif yang rasional.

Kalender Hijriyah Global dan Tantangan Zaman

Kini giliran Kalender Hijriyah Global Tunggal yang diuji. Gagasan ini berangkat dari kebutuhan menyatukan penanggalan Islam secara global. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid merumuskan konsep ini dengan pendekatan hisab hakiki. Prinsipnya sederhana: satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia.

Dalam konsep ini, batas tanggal ditentukan secara global dengan mempertimbangkan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal internasional menjadi acuan teknis. Selama kriteria imkan rukyat terpenuhi di satu titik, seluruh dunia mengikuti hasil tersebut. Tujuannya bukan sekadar teknis penanggalan, tetapi juga kesatuan umat Islam.

Reaksi yang muncul pun beragam. Sebagian merasa ini terlalu jauh dari tradisi, sementara yang lain melihatnya sebagai langkah maju untuk mengurangi perbedaan tahunan yang terus berulang.

Menuju Penerimaan yang Tak Terelakkan

Fenomena ini selaras dengan teori perubahan sosial: penolakan, adaptasi, lalu penerimaan. Muhammadiyah kerap berada di fase awal sebagai pelopor, dengan segala risiko sosial yang menyertainya.

Guncangan yang dirasakan publik hari ini terasa wajar. Kalender global mengusik kebiasaan yang telah mengakar. Perbedaan awal puasa dan potensi perbedaan Lebaran memicu emosi yang tidak sederhana.

Namun sejarah menunjukkan pola yang konsisten. Apa yang dulu dianggap aneh perlahan menjadi wajar. Keyakinan bahwa “pada waktunya semua akan Muhammadiyah” bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari perjalanan panjang ijtihad berbasis ilmu dan keberanian yang pada akhirnya menemukan penerimaan luas di tengah masyarakat.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡