
PWMU.CO – Saat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengubah arah pengembangan program Kampus Merdeka menjadi pendekatan baru bertajuk Kampus Berdampak.
Perubahan ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang menemukan berbagai kelemahan dalam relevansi dan efektivitas pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Kampus Berdampak merupakan program kelanjutan dari Kampus Merdeka. Program ini lebih condong pada peran kampus yang berdaya dan berdampak langsung kepada masyarakat serta Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) untuk mendukung pembangunan nasional.
“Program ini akan menjadikan kampus sebagai solusi atas permasalahan di masyarakat. Kalau MBKM lebih ke bagaimana kampus mendapatkan manfaat ilmu dari DUDI. Tapi ketika sudah mendapatkannya, seharusnya kampus bisa memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Dr Sigit Hermawan SE M.Si.
Oleh karena itu, imbuh Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (DRPM Umsida), Kampus Berdampak hadir agar ilmu yang didapatkan para akademisi bisa langsung menjangkau masyarakat.
“Misalnya masalah kesehatan, kampus bisa mengerahkan apa yang dimiliki di bidang kesehatan agar bisa memberikan solusi terhadap permasalahan kesehatan masyarakat,” katanya.
Dengan begitu, mereka benar-benar bisa memberikan dampak pada industri dan masyarakat. Berbeda dengan program MBKM yang lebih mengutamakan kebebasan mahasiswa. Oleh karenanya, mahasiswa harus memiliki bekal riset dan potensi kampus yang memadai untuk diterapkan kepada masyarakat.
Menurutnya, program ini lebih menekankan pada kesiapan kampus sebelum terjun ke masyarakat agar solusi yang ditawarkan lebih bermanfaat.
“Orientasinya sudah berbeda. Sebelumnya, yang dipilih mungkin industri besar, sedangkan di program terbaru, mahasiswa bisa memilih tempat yang benar-benar membutuhkan solusi,” terang dosen Program Studi Akuntansi itu.
Dengan adanya Kampus Berdampak, imbuhnya, masyarakat sudah pasti menjadi bagian dari kebermanfaatan program karena kampus menjadikan riset dan inovasi sebagai tulang punggung program ini.
Tantangan dan Cara Perguruan Tinggi Terapkan Kampus Berdampak
Wakil Ketua Bidang Hukum dan Etika Bisnis Kadin Sidoarjo itu menerangkan bahwa perguruan tinggi memiliki tantangan dalam hal riset dan inovasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
“Jadi bagaimana kampus bisa memetakan apa saja yang menjadi permasalahan di masyarakat, memikirkan solusinya, dan memiliki grand design terhadap apa saja yang bisa dikembangkan di kampus dan diterapkan di masyarakat,” terang Dr. Sigit.
Lalu, bagaimana Umsida menerjemahkan program Kampus Berdampak ini?
Umsida memiliki dua pendekatan dalam menerapkan program Kampus Berdampak, yaitu secara kelembagaan dan secara individu. Secara kelembagaan, Umsida telah menerapkan beberapa konsep Kampus Berdampak. Umsida harus memiliki riset pengabdian masyarakat (abdimas) dan inovasi yang bisa langsung diterapkan. Untuk riset, Umsida telah berada di tahap pengembangan, hilirisasi, dan komersialisasi.
Oleh karena itu, Umsida telah menjalankan berbagai kegiatan yang selaras dengan program Kampus Berdampak. Misalnya, KKN Umsida yang berfokus pada beberapa sektor potensial di desa seperti wisata, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.
“Misalnya KKN di Desa Wonoplintahan, Pasuruan, yang dijadikan sebagai desa wisata. Wisata tersebut bisa juga menghidupkan ekonomi daerah tersebut,” ujar doktor lulusan Unair itu.





0 Tanggapan
Empty Comments