Perguruan tinggi Muhammadiyah bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ladang pembentukan akhlak dan peradaban. Nilai-nilai juga Islam harus menjiwai seluruh aktivitas akademik agar kampus Muhammadiyah tidak
Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Majelisdikti) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Achmad Jainuri, dikutip dari kanal Youtube UM_GRESIK
Jainuri mengajak para dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk memahami bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter Islami, beretika, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
“Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang etika, tanggung jawab sosial, dan kejujuran dalam bekerja. Nilai-nilai itu harus tertanam dalam seluruh aspek kehidupan kampus, termasuk dalam sistem akademik, pelayanan, dan budaya kerja,” ujar Guru Besar UIN Sunan Ampel ini.
Dalam pandangan Jainuri, pendidikan adalah pilar utama pembentukan masyarakat beradab sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw ketika membangun masyarakat Madinah.
Dia menegaskan, misi pendidikan Islam bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga pembentukan peradaban yang berkeadilan dan berakhlak mulia.
“Ketika Nabi hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya membangun masjid sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, sosial, dan politik. Itu menjadi model bagi kita: pendidikan Islam harus melahirkan masyarakat yang adil, terbuka, dan toleran,” jelasnya.
Menurutnya, universitas Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam meneguhkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan (Islam berkemajuan), termasuk dalam menjawab tantangan global seperti kemajemukan, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang cepat.
Empat Nilai Dasar
Prof. Jainuri menguraikan bahwa bangsa Indonesia dibangun atas dasar empat nilai fundamental yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, yakni kemerdekaan, pluralitas, toleransi, dan keadilan.
Keempat nilai itu, katanya, harus menjadi roh dalam proses pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Kemerdekaan berarti berpikir bebas tapi bertanggung jawab. Pluralitas mengajarkan kita menerima perbedaan sebagai sunnatullah. Toleransi menumbuhkan sikap saling menghormati, sementara keadilan menjadi landasan dalam mengambil keputusan akademik maupun kebijakan publik,” terangnya.
Dia menilai, bila keempat nilai tersebut benar-benar dijalankan, maka universitas akan menjadi ruang yang melahirkan generasi berintegritas, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu menjadi pemimpin masa depan bangsa.
Jainuri juga menyoroti rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa dan dosen.
Ia menilai bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreatif tidak akan lahir tanpa tradisi membaca yang kuat.
“Banyak mahasiswa yang ingin maju tapi enggan membaca. Padahal, Islam adalah agama yang pertama kali memerintahkan ‘Iqra’ – bacalah. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa memahami kompleksitas dunia modern,” tuturnya.
Jainuri juga menyinggung bahwa perguruan tinggi perlu memperkuat atmosfer akademik yang mendorong penelitian, diskusi, dan pembaruan pemikiran Islam.
Menurutnya, Muhammadiyah harus tampil sebagai pelopor dalam menghasilkan ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai wahyu dan rasionalitas ilmiah.
Lebih jauh, Jainuri mengajak sivitas akademika UMG untuk meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad saw yang menempatkan keadilan dan kemanusiaan di atas segala kepentingan kelompok.
Dia mencontohkan bagaimana Nabi berhasil membangun masyarakat Madinah yang majemuk — terdiri dari berbagai suku dan agama — tetapi hidup damai karena dikelola dengan prinsip keadilan dan saling menghormati.
“Nabi Muhammad tidak pernah meniadakan perbedaan. Beliau justru menjadikannya kekuatan dalam membangun masyarakat. Itu pula yang harus kita lakukan di kampus: menghargai setiap perbedaan pandangan, selama tujuannya adalah kebaikan bersama,” ujar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut.
Jainuri juga menyinggung tentang posisi umat Islam di dunia global. Dia mengutip contoh negara-negara maju yang mampu membuka diri terhadap keragaman dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan nasional.
“Amerika Serikat, misalnya, menjadi bangsa besar karena mampu menerima kehadiran berbagai kelompok etnis dan agama. Kita, umat Islam Indonesia, seharusnya bisa mengambil pelajaran bahwa keterbukaan tidak berarti kehilangan identitas, justru memperkaya nilai kemanusiaan,” katanya.
Jainuri berharap Muhammadiyah terus memainkan peran aktif dalam percaturan global melalui kontribusi ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan dakwah yang mencerahkan.
Dia juga berpesan agar seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Gresik menjadikan kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga pusat pembentukan etika dan nilai-nilai keislaman.
“Kampus Muhammadiyah harus menjadi miniatur masyarakat Islam yang ideal — tempat di mana ilmu, iman, dan amal berpadu. Itulah jati diri perguruan tinggi Muhammadiyah yang sesungguhnya,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments