Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kategori Manusia menurut Al-Ghazali dalam Lensa Psikologi

Iklan Landscape Smamda
Kategori Manusia menurut Al-Ghazali dalam Lensa Psikologi
Mirwanuddin. Foto: Dook/Pri
Oleh : Mirwanuddin alumni IMM FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
pwmu.co -

‎​Artikel ini menganalisis empat kategori manusia menurut Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Ihya’ Ulumiddin.

Analisis tersebut memadukan wawasan filsafat Islam, ilmu psikologi modern, serta referensi dari Al-Qur’an dan hadis.

Tujuannya adalah untuk menunjukkan relevansi abadi pemikiran Al-Ghazali dalam memahami karakter dan potensi manusia, baik secara intelektual maupun spiritual.

Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan pemikir besar abad ke-11 M, menyajikan kerangka klasifikasi manusia yang sederhana namun mendalam.

Menurut pandangannya, kemuliaan atau kehinaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, melainkan oleh “tingkat kesadaran diri” terhadap pengetahuan tersebut.

Konsep kesadaran diri ini menjadi benang merah yang menghubungkan kebijaksanaan spiritual Al-Ghazali dengan temuan psikologi modern.

Empat kategori manusia yang Al-Ghazali tawarkan bukan sekadar klasifikasi abstrak, melainkan peta jalan moral dan intelektual.

Ia menuntun kita untuk merenung: apakah ilmu yang kita miliki benar-benar membawa manfaat, atau justru menjerumuskan kita pada kesombongan?

Opini saya, sebuah pemikiran seharusnya tidak berhenti di ruang kajian klasik. Ia harus hidup kembali dalam praktik pendidikan, kepemimpinan, bahkan kehidupan sehari-hari.

Empat kategori manusia

Menurut Al-Ghazali, ada empat kategori manusia, yaitu: ‎​Pertama,  orang yang tahu dan sadar bahwa dirinya tahu.

Al-Ghazali menempatkan kategori ini sebagai yang tertinggi, karena individu ini memiliki ilmu dan hikmah.

Dalam psikologi modern, kondisi ini disebut “metakognisi,” yaitu kemampuan untuk memantau dan merefleksikan proses kognitif diri sendiri.

Seseorang dengan metakognisi tinggi tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memahami batasan pengetahuannya.

Dari perspektif psikologi, individu ini memiliki kepercayaan diri yang sehat dan kesadaran diri yang tinggi.

Mereka adalah pemimpin alami yang mampu membimbing karena mengerti apa yang mereka ketahui dan bagaimana cara menyampaikannya.

Secara spiritual, Al-Qur’an memuliakan orang-orang seperti ini: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Mereka adalah ilmuwan atau ulama yang patuh kepada Allah karena kesadaran penuh terhadap ilmu yang mereka miliki.

Kedua: orang yang tahu tetapi tidak sadar dirinya tahu. Kategori ini adalah orang yang memiliki kompetensi, tetapi tidak menyadari kemampuannya.

Secara psikologis, mereka berada dalam fase kompetensi tidak sadar. Fenomena sindrom imposter sering ditemukan pada individu semacam ini.

Mereka meremehkan bakatnya sendiri dan sering membutuhkan validasi eksternal atau bimbingan dari mentor. Ibaratnya, mereka adalah permata yang belum digosok.

Dari perspektif spiritual, kondisi ini dapat dilihat sebagai kelalaian terhadap potensi diri yang diberikan Allah. Mereka perlu “dibangunkan” agar menyadari fitrah dan ilmu yang ada dalam diri mereka.

Iklan Landscape UM SURABAYA

K​etiga,  orang yang tidak tahu tetapi sadar dirinya tidak tahu. ‎Kategori ini, meskipun tidak berilmu, adalah yang paling menjanjikan.

Kesadaran akan ketidaktahuan adalah modal utama untuk belajar. Dalam psikologi, ini adalah tahap ketidakmampuan sadar, yang menjadi fondasi dari pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Dari perspektif psikologis, individu ini memiliki kerendahan hati, intelektual dan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka adalah pelajar ideal karena tidak malu mengakui kekurangannya.

Mereka melihat “ketidaktahuan” bukan sebagai aib, melainkan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Dari perspektif spiritual, jalan mereka sangat dihargai dalam Islam, seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.”

Keempat: orang yang tidak tahu dan tidak sadar ia tidak tahu. Menurut Al-Ghazali, ini adalah kategori terburuk.

Mereka tidak memiliki ilmu dan bahkan tidak menyadari kekurangannya.

Secara psikologis, mereka adalah contoh klasik dari efek Dunning-Kruger, di mana orang dengan kemampuan rendah secara keliru melebih-lebihkan kemampuan mereka.

Dari perspektif psikologi, orang-orang ini sulit menerima umpan balik, bersikap arogan, tidak menghargai pendapat orang lain, dan merasa paling benar.

Kepercayaan diri palsu ini menjadi penghalang utama untuk setiap bentuk pembelajaran atau perbaikan diri.‎

Dari perspektif spiritual, Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini sebagai kebutaan spiritual: “Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171).

‎‎Kebodohan yang tidak disadari membuat mereka menutup diri dari kebenaran dan petunjuk.

Kategorisasi Al-Ghazali ini bukan sekadar teori, tetapi merupakan cerminan universal tentang kondisi manusia.

Dari sudut pandang psikologi, kategorisasi ini  mencakup konsep-konsep inti seperti metakognisi, sindrom impostor, dan efek Dunning-Kruger.

‎Sementara itu, dari sudut pandang spiritual, pemikiran Al-Ghazali  mengajarkan tentang kesadaran diri sebagai jembatan antara ilmu dan amal. Karenanya, inilah pentingnya DZIKRULLAH.

‎Tulisan ini ingin menegaskan bahwa untuk mencapai derajat tertinggi sebagai manusia, kita harus berupaya menjadi kategori pertama.

Dengan kata lain, seseorang tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga sadar akan anugerah dan tanggung jawab dengan ilmunya tersebut.

Bagi kita yang masih berada di kategori lain, kesadaran adalah kunci untuk beralih dan bertumbuh. Insyaallah.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu