Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikenal bukan hanya sebagai ulama pembaharu, tetapi juga sosok yang menanamkan pandangan visioner tentang peran harta dalam perjuangan Islam.
Beliau pernah berpesan, “Bekerjalah sekeras-kerasnya. Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Pergunakan untuk keluargamu secukupnya. Sisanya buat perjuangan Islam.” Sebuah nasihat sederhana, tetapi sarat makna, yang hingga kini masih relevan untuk umat Islam di era modern.
Dalam pandangan Kyai Ahmad Dahlan, bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan bagian dari ibadah. Seorang muslim dituntut untuk mengerahkan tenaga, pikiran, dan keterampilan agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Ketekunan bekerja adalah wujud kesyukuran kepada Allah Swt sekaligus cara menghindarkan diri dari sifat malas, bergantung pada orang lain, atau bahkan menjadi beban masyarakat.
Bekerja keras dengan niat yang lurus juga menghadirkan keberkahan. Rezeki yang halal akan menumbuhkan ketenangan, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membuka jalan bagi amal sosial. Di sinilah letak filosofi Kyai Ahmad Dahlan: kerja keras adalah pondasi, sedangkan kebermanfaatan adalah tujuan akhirnya.
Harta untuk Perjuangan Islam
Dalam nasihatnya, Kyai Ahmad Dahlan menegaskan bahwa hasil kerja harus pertama-tama diperuntukkan bagi keluarga. Islam memang menempatkan keluarga sebagai amanah utama. Seorang suami, ayah, atau kepala keluarga tidak boleh lalai terhadap kebutuhan anak dan istrinya.
Namun, Kyai Dahlan memberi batas yang jelas: gunakan secukupnya. Artinya, pemenuhan kebutuhan keluarga tidak boleh berlebihan, apalagi terjerumus dalam gaya hidup konsumtif. Kesederhanaan adalah kunci agar harta tidak justru menyeret manusia pada sifat tamak. Dalam bingkai ini, keluarga terjamin kebutuhannya, tetapi juga dididik untuk hidup sederhana, jauh dari sikap bermegah-megahan.
Yang paling menonjol dari pesan Kyai Ahmad Dahlan adalah arah penggunaan harta setelah kebutuhan keluarga terpenuhi : sisanya digunakan untuk perjuangan Islam. Pemikiran ini menunjukkan keluasan pandangan beliau. Harta bukan tujuan, melainkan sarana untuk menegakkan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat.
Sejarah membuktikan, Muhammadiyah lahir dan berkembang bukan karena modal besar dari satu orang kaya raya, tetapi karena semangat kolektif untuk mengorbankan harta demi perjuangan. Kyai Ahmad Dahlan sendiri rela menjual barang-barang miliknya untuk membiayai kegiatan dakwah dan pendidikan.
Kisah Nyata : Menjual Kemeja dan Jam Dinding
Dalam sebuah kisah yang terkenal, Kyai Ahmad Dahlan pernah menjual kemeja putih kesayangannya untuk membantu fakir miskin. Tidak hanya itu, beliau juga pernah melelang jam dinding yang merupakan hadiah istimewa dari seorang muridnya. Uang hasil penjualan itu beliau gunakan untuk membeli bahan pangan bagi orang-orang yang kelaparan di sekitar Yogyakarta.
Bagi Kyai Dahlan, harta benda pribadi tidak lebih penting daripada menyelamatkan manusia dari penderitaan. Beliau bahkan mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa setiap rupiah yang dimiliki harus dipikirkan manfaatnya untuk sesama. Inilah yang membuat gerakan Muhammadiyah kokoh. Berangkat dari semangat pengorbanan nyata, bukan sekadar wacana.
Sering kali muncul pandangan keliru bahwa ulama harus hidup miskin agar dianggap zuhud. Kyai Ahmad Dahlan justru menegaskan, ulama boleh bahkan dianjurkan untuk kaya. Namun, kekayaan itu tidak boleh ditumpuk, apalagi dipamerkan. Kekayaan harus diarahkan pada kemaslahatan umat.
Ulama yang memiliki kecukupan harta akan lebih leluasa dalam berdakwah. Ia tidak tergantung pada pemberian orang lain, sehingga menjaga martabat dan independensinya. Lebih dari itu, kekayaan ulama bisa menjadi inspirasi umat, bahwa kesalehan dan kemakmuran dapat berjalan seiring, selama orientasinya untuk kemanfaatan.
Relevansi untuk Masa Kini
Nasihat Kyai Ahmad Dahlan terasa semakin aktual di tengah arus materialisme. Banyak orang bekerja keras, namun tujuan akhirnya hanya untuk menumpuk kekayaan pribadi atau mempertontonkan kemewahan. Di sisi lain, masih banyak umat yang kekurangan akses pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Jika umat Islam meneladani pesan Kyai Ahmad Dahlan, maka kekayaan yang dimiliki tidak akan berhenti di rekening pribadi. Ia akan mengalir menjadi beasiswa, klinik kesehatan, pembangunan sekolah, pemberdayaan UMKM, hingga program sosial lainnya. Dengan demikian, kerja keras umat Islam tidak hanya menyejahterakan keluarga sendiri, tetapi juga menjadi energi perubahan sosial.
Nasihat Kyai Ahmad Dahlan adalah pesan abadi : “Bekerjalah sekeras-kerasnya. Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Pergunakan untuk keluargamu secukupnya. Sisanya buat perjuangan Islam.” Pesan ini merangkum keseimbangan hidup seorang muslim: kerja keras, tanggung jawab terhadap keluarga, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.
Kyai Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa ulama, bahkan umat Islam pada umumnya, boleh kaya. Tetapi kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada seberapa besar manfaat harta itu untuk perjuangan Islam dan kesejahteraan umat.
Inilah warisan berharga yang sepatutnya kita teruskan di era sekarang. Nashrun minallah wafathun qorib. Wabasyiril mukminin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments