Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kegirangan dan Kengerian di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Kegirangan dan Kengerian di Era Digital
pwmu.co -
Oleh Fikri Haikal Ketua PC IMM Kabupaten Bantul 2023-2024, Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Penulis Buku Paradigma Pendidikan Profetik Kuntowijoyo

PWMU.CO – Di tengah euforia revolusi digital yang memukau dan merambah ke seluruh penjuru kehidupan, manusia justru tergelincir ke lorong gelap peradabannya sendiri. Logika perlahan mati oleh kecanggihan mesin cerdas, aliran notifikasi tanpa jeda, hingga karena sensasi instan di ujung jari.  Semua menjadi simfoni kegirangan sekaligus ironi, penalaran sebagai mahkota kemanusiaannya kian terdegradasi oleh pesta pora informasi dangkal.

Kita sedang menyaksikan tragedi yang sunyi: nalar sebagai senjata utama manusia, kini tergeser oleh insting klik dan ketukan jempol. Dahulu, berpikir adalah laku luhur; kini, cukup merasa lalu membagikan. Rasionalitas yang dulu dibangun melalui dialektika dan kontemplasi kini direduksi menjadi slogan, stiker, dan komentar satu kalimat—cepat, singkat, tapi hampa.

Gairah digital

Di tengah hiruk pikuk digital, banyak individu berhasil mengakses pengetahuan tanpa batas — sehingga mampu melampaui sekat geografis, ekonomi, dan sosial. Kampus daring, kelas virtual, jejaring kolaborasi global; semua membukakan jalan untuk “keadilan logika” dan peluang bagi siapa saja yang ingin melejitkan daya pikir.

Kini, siapapun bisa belajar filsafat dari video daring, mengakses jurnal-jurnal mutakhir, hingga berdiskusi dengan ilmuwan tanpa harus keluar rumah (salah satunya ChatGPT). Kompetensi dan kolaborasi menjadi cuan baru: manusia yang terus memperkaya diri, bukan sekadar dengan data, melainkan melalui dialog sehat, validasi argumen, dan diskusi lintas spektrum.

Sebelumnya, akses terhadap pengetahuan dan forum intelektual di sekat tembok institusi, geografis, atau status sosial. Di era digital ini panggung terbuka bagi siapa pun yang ingin menari dengan nalar. Dan ini bukan prestasi remeh. 

Kegirangan dan kengerian

Ironisnya, bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, kemudahan yang menciptakan kegirangan justru sekaligus menciptakan kengerian. Di satu sisi, akses cepat, data melimpah, dan komunikasi instan membuat segalanya terasa gamblang dan menyenangkan. Tapi di balik tirai kemudahan itu, mengintip kengerian algoritma dan kelelahan digital yang pelan-pelan menerkam logika.

Kita hidup dalam zaman brain rot, penurunan kemampuan berpikir akibat konsumsi konten singkat dan dangkal secara terus-menerus. Alih-alih membaca buku atau berdiskusi, kita memilih scroll tak henti di aplikasi video pendek. Otak yang semestinya diajak berlatih justru dimanjakan oleh gratifikasi instan.

Manusia menjadi lebih reaktif ketimbang reflektif: klik, like, dan share, tanpa sempat mencerna. Naluri primitif menggeser refleksi kritis; opini jadi raja, nalar diasingkan. Kita gampang terseret bias, sesat pikir, dan masuk ke ruang gema digital yang memperkuat satu sudut pandang tanpa ruang bantahan. Dalam ruang seperti ini, kebenaran menjadi ilusi, sebab yang berkuasa bukan logika, melainkan selera mayoritas dan efek viral.

Di jagat maya, yang penting bukan apa yang benar, tapi apa yang terasa benar. Algoritma bekerja seperti tukang sihir: menyingkirkan yang membuat kita ragu dan hanya menghadirkan apa yang membuat kita nyaman. Logika pun lenyap, tergantikan oleh emosi yang terpolarisasi.

Ketergantungan dan harapan

Pemandangan serupa juga terjadi di kampus. Literasi digital dielu-elukan, tetapi literasi logika semakin terpinggirkan. Akademisi berbondong-bondong mengejar kemudahan, menanggalkan kedalaman berpikir filsafat demi riset instan dan aplikasi praktis. Mahasiswa seolah digiring menjadi buruh data, bukan penenun makna.

Kampus yang seharusnya menjadi pabrik logika, kini cenderung berubah menjadi pasar pragmatisme; serba instan, serba hasil, serba “cuan”. Studi filsafat dan kritik sosial mulai termarginalkan karena dianggap sudah tidak menjanjikan nilai komersial. Padahal, tanpa penalaran, ilmu hanyalah sihir yang dibalut jubah akademik.

Banyak yang menyangka literasi digital cukup sebagai penyelamat. Padahal literasi digital tanpa literasi logika hanyalah keterampilan teknis. Bisa scroll belum tentu bisa screen. Bisa akses data belum tentu bisa memilah kebenaran. Kita butuh masyarakat akademik yang bukan hanya pintar klik, tapi juga bijak berpikir.

Persoalannya tidak hanya terletak pada kontennya, tapi pada cara berpikirnya. Kita bisa memiliki perpustakaan di telapak tangan, namun tetap gagal membedakan argumentasi-asumsi, data-opini, logika-sentimen.

Teknologi jangan sampai menggenggam logika

Bukankah seharusnya kita yang menggenggam teknologi, bukan justru menggenggam logika kita sendiri? Jika penalaran tergusur, apa bedanya manusia dengan binatang selain pakaian dan pencitraan?

Andi Hakim Nasoetion pernah menyindir tajam, “Kalau binatang bisa menalar, mungkin yang dilestarikan bukan harimau, tapi manusia”. Di situ terkandung pesan mendalam: nalar adalah garis pemisah antara manusia dan makhluk lainnya. Bila garis itu pupus, kita kehilangan keunikan sebagai homo sapiens.

Jika dunia terus memanjakan impuls dan mengabaikan refleksi, maka kita akan hidup dalam tatanan otomatisasi tanpa otentisitas. Karena itu, peran kita bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi memastikan teknologi tidak menjadi algojo logika.

Ayo kembali ke penalaran

Jadikan penalaran sebagai napas harian, bukan sekadar tema seminar. Kampus dan ruang digital harus menjadi ladang subur bagi percakapan logis; tempat “manusia” tak hanya sekadar label, tapi identitas yang dijaga dengan nalar sehat.

Mari kita lawan banalitas algoritma dengan keberanian berpikir. Kita tolak “hanya” impuls dengan daya kritis. Dan kita ubah jagat maya dari ladang opini menjadi ruang argumentasi.

Jangan biarkan logika terkubur di balik riuhnya timeline dan laju algoritma! Apakah kita akan sekadar menjadi penonton? Atau justru penentu arah; memastikan teknologi menjadi sekutu, bukan algojo logika?

Jika satu-satunya kebenaran yang kita yakini adalah “Saya merasa, maka saya benar”, maka kita bukan lagi manusia, hanya makhluk yang tersesat dalam keramaian digital.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu