
Penulis Silviyana Anggraeni (Aliansi Penulis Muhammadiyah Lamongan)
PWMU.CO – Perekonomian rakyat Indonesia saat ini tengah berada pada suatu kondisi yang mengkhawatirkan. Setidaknya begitulah yang dilansir dari www.cnbcindonesia.com pada Senin, (05/05/2025).
Di sana disebutkan ada 5 tanda Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tanda yang pertama, dapat dilihat dari kinerja manufaktur yang terus menurun hingga level 46,7. Angka tersebut bahkan lebih rendah dibanding saat covid-19 silam. Rendahnya kinerja manufaktur disinyalir akibat perang dagang dunia. Tanda yang kedua, badai PHK yang terus berlanjut. Setelah PHK di bidang tekstil, kini PHK merambah ke bidang perhotelan. Badai PHK ini dinilai sebagai efek dari efesiensi yang dilakukan pemerintah.
Tanda ketiga, masyarakat lebih memilih untuk menabung atau menyimpan uangnya ketimbang membelanjakannya. Fenomena ini lebih populer kita sebut dengan penurunan daya beli. Bahkan jangankan untuk ditabung, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja sulit.
Tanda keempat, deflasi di awal tahun. BPS mencatat deflasi pada bulan januari 2025 sebesar 0,76% dan deflasi pada bulan februari 2025 sebesar 0,48%. Menurut para ekonom kondisi itu jarang terjadi pada awal tahun apalagi awal ramadhan. Tanda kelima, penjualan mobil yang lesu. Penurunan itu mengindikasikan telah terjadi tekanan ekonomi pada rakyat menengah kebawah.
Kemiskinan Bagi Masyarakat Indonesia
Meski demikian BPS tetap menetapkan garis kemiskinan bagi masyarakat Indonesia adalah ketika memiliki penghasilan dibawah angka 595.242 rupiah perbulan yang artinya masyarakat miskin adalah mereka yang kebutuhan perharinya sebesar 21.250 ribu rupiah.
Di atas angka itu mereka bukanlah masyarakat miskin. Dengan demikian BPS mencatat bahwa masyarakat Indonesia yang berada dibawah kemiskinan adalah 25 juta jiwa dari total 284,44 juta jiwa masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Bank dunia yang menetapkan seseorang berada di garis kemiskinan ketika memiliki penghasilan dibawah angka 3.450.000 rupiah per bulan artinya orang miskin tersebut hanya menghabiskan 115.000 per hari dalam memenuhi kebutuhannya.
Dengan demikian jika mengacu pada penetapan bank dunia, masyarakat indonesia yang berada digaris bawah kemiskinan berjumlah 172 juta jiwa dari total 284,44 juta jiwa masyarakat Indonesia. Angka yang jauh berbeda dengan catatan BPS Indonesia.
Mengacu pada penetapan bank dunia soal garis kemiskinan, maka sebanyak 60,3% masyarakat Indonesia adalah miskin. Dengan angka kemiskinan yang besar itu, artinya kemiskinan di Indonesia bukanlah sekedar problem personal tetapi sudah pada tahap problem komunal.
Hal tersebut tentu bukanlah sesuatu yang rasional dan proporsional, melihat sumber daya Indonesia yang sangat banyak, baik sumber daya tanah dan laut. Jadi bukan sesuatu yang berlebihan jika kemiskinan di Indonesia adalah sesuatu yang disengaja, ada tangan-tangan yang menciptakan kondisi itu.
Sayangnya tidak banyak yang peduli dengan kemiskinan sebagai problem komunal tersebut. Orang-orang miskin tidak menyadari bahwa mereka adalah korban dari pada sistem dan kebijakan yang buruk. sedangkan orang kaya sudah cukup nyaman dengan kehidupan mereka tanpa mau di ganggu, bahkan sebagian dari mereka memanfaatkan kondisi itu. Problem kemiskinan yang diciptakan oleh sistem adalah sebuah kejahatan kemanusiaan atau dehumanisme.


0 Tanggapan
Empty Comments