Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kenaikan Gaji DPR di Tengah Kemiskinan Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Kenaikan Gaji DPR di Tengah Kemiskinan Masyarakat
Oleh : Mirwan Ketua Bidang HPKP IMM Ushuluddin Fiad Universitas Muhammadiyah Surabaya
pwmu.co -

Isu kenaikan gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) kembali mengundang keterkejutan publik.

Bukan hanya karena besaran nominalnya yang terkesan berlebihan, tetapi juga karena waktunya yang dianggap tidak etis dan jauh dari nilai kepedulian sosial.

Di tengah kondisi masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, wacana kenaikan gaji wakil rakyat terasa sebagai ironi sekaligus pengkhianatan terhadap amanah yang seharusnya mereka junjung.

Bukankah Indonesia masih berjuang menghadapi tantangan besar dalam mengurangi kemiskinan?

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa jutaan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Lebih lanjut, jumlah masyarakat yang termasuk dalam kategori rentan miskin juga cukup signifikan.

Dengan kata lain, mereka yang bekerja keras setiap hari — seperti petani, nelayan, pedagang kecil, hingga buruh, — masih menjalani hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Harga barang kebutuhan pokok sering melonjak, akses terhadap pendidikan berkualitas masih belum merata, serta pelayanan terhadap kesehatan juga masih belum sepenuhnya tersedia untuk semua.

Karena itu, isu peningkatan gaji DPR yang muncul otomatis menimbulkan luka sosial.

Bagaimana mungkin wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan masyarakat justru terkesan lebih mementingkan kesejahteraan pribadi?

Apalagi jika sudi mencermati, meskipun gaji pokok anggota DPR tidak terlalu besar, berbagai tunjangan yang mereka terima membuat total penghasilan bulanannya mencapai angka yang sangat tinggi.

Belum lagi fasilitas penunjang lain, seperti rumah dinas, kendaraan dinas, dan dana reses.

Dengan segala keuntungan tersebut, kesejahteraan material anggota dewan sejatinya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak, bahkan jauh melampaui rata-rata masyarakat umum.

Ketika mereka tetap mendorong untuk kenaikan gaji, kesan yang muncul adalah sifat serakah dan ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat.

Lebih parah, banyak anggota DPR yang kerap tidak hadir atau memiliki kontribusi yang minim dalam rapat-rapat penting. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah peningkatan gaji tersebut layak diberikan?

Penting dipahami pula bahwa peningkatan gaji DPR tidak sekadar berkaitan dengan angka. Ada aspek etika yang mengiringinya.

Dari sudut pandang moral, wakil rakyat seharusnya mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadinya.

Saat masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan layanan kesehatan, menaikkan gaji para anggota dewan adalah tindakan yang menyakiti hati masyarakat.

Etika kepemimpinan menuntut seorang pemimpin atau wakil rakyat peka terhadap kondisi sosial masyarakatnya.

Ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan ekonomi, seharusnya DPR menunjukkan solidaritas, bukan justru mencari keuntungan sendiri.

Di sinilah letak ketidakpatutan dari rencana kenaikan gaji DPR. Ia tidak sejalan dengan nilai-nilai keadilan sosial yang tercantum dalam Pancasila.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Masyarakat sebenarnya tidak anti terhadap wakil mereka untuk hidup sejahtera. Karena harapannya, jika wakilnya sejahtera pasti tidak akan terjerat dalam praktik korupsi.

Masalahnya sekarang adalah tentang prioritas. Masih banyak hal penting dan mendesak yang harus diperhatikan lebih dahulu daripada menaikkan gaji.

Misalnya, pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil, subsidi kesehatan untuk masyarakat miskin, maupun bantuan modal bagi usaha kecil.

Semua itu jauh lebih mendesak dan lebih berarti dalam memperbaiki kehidupan rakyat.

Memaksakan kenaikan gaji DPR di momentum yang tidak tepat menunjukkan bahwa negara seolah kehilangan arah dalam menetapkan prioritas anggaran.

Keputusan ini mencerminkan kecenderungan untuk lebih mengutamakan kepentingan elit politik dibandingkan kepentingan rakyat kecil yang justru menjadi fondasi kehidupan bangsa.

Kebijakan semacam ini berpotensi memperlebar jurang ketidakadilan antara masyarakat dan wakilnya.

Ketika rakyat merasa diabaikan, tingkat kepercayaan terhadap lembaga legislatif akan merosot, dan posisi DPR di mata publik pun semakin melemah.

Padahal, dalam sistem demokrasi, kepercayaan publik merupakan modal utama yang harus dijaga dan dilestarikan.

Lebih dari itu, keputusan yang tidak selaras dengan realitas hidup masyarakat dapat menimbulkan rasa ketidakadilan.

Di saat banyak rakyat berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka justru menyaksikan para wakilnya hidup dalam kenyamanan tanpa menunjukkan empati pada penderitaan yang mendera rakyatnya.

Kini saatnya introspeksi. Polemik tentang kenaikan gaji dan tunjangan DPR merupakan momentum untuk merenung. Para wakil rakyat (baca: DPR) perlu menyadari bahwa tugas mereka adalah melayani, bukan menguasai atau menjadi penguasa.

Peraturan yang hendak menjadi keputusan seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek hukum, tetapi juga aspek etika.

Masyarakat juga sepatutnya lebih bisa bersikap kritis dan bijaksana saat menentukan wakil-wakilnya di DPR.

Kursi legislatif harus diserahkan kepada yang benar-benar cerdas nalar dan moral, yang peduli dengan nasib negara.

Ingat, kenaikan gaji pejabat di tengah rakyat yang masih berjuang melawan kemiskinan bukan hanya tidak pantas, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan sosial.

Jika DPR ingin dihormati, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menunda bahkan membatalkan rencana kenaikan gaji tersebut, lalu memusatkan perhatian pada upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sebab, pada akhirnya kesejahteraan rakyat adalah penghasilan moral paling mulia bagi setiap wakil rakyat.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu