Nilai kepemimpinan Muhammadiyah yang bertumpu pada kekuatan sistem, bukan figur, menjadi sorotan utama dalam kegiatan Halalbihalal Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Senin (30/3/2026).
Rektor Umsura, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep. FISQua menegaskan, arah kepemimpinannya difokuskan pada penguatan tata kelola kelembagaan serta percepatan digitalisasi layanan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang sehat dan transparan.
“Alhamdulillah, awal kepemimpinan ini kami berfokus pada tata kelola yang baik, terutama soal pendanaan dan digitalisasi layanan. Kami menyadari masih ada pihak yang gagap dalam proses perubahan ini, namun ini adalah langkah penting untuk menciptakan kampus yang sehat dan transparan,” ujar Mundakir.
Menurut dia, transformasi digital bukan sekadar modernisasi, tetapi bagian dari sistem yang memastikan akuntabilitas dan efisiensi dalam pengelolaan perguruan tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Mundakir juga mengutip pesan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, tentang karakter kepemimpinan Muhammadiyah yang khas.
“Salah satu karakter utama kepemimpinan di Muhammadiyah adalah berbasis sistem, bukan sinten atau figur. Inilah kekuatan utama organisasi kita,” tegasnya.
Dia menambahkan, kepemimpinan yang bertumpu pada figur semata berisiko menimbulkan persoalan keberlanjutan. Sebaliknya, sistem yang kuat akan menjaga stabilitas organisasi dalam jangka panjang.
Indikator keberhasilan pendekatan ini, lanjut Mundakir, mulai terlihat dalam setahun terakhir. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya transparansi anggaran, efektivitas kinerja, kesejahteraan staf, hingga tumbuhnya kepercayaan publik terhadap Umsura.
“Tidak hanya berfokus pada aspek internal kampus, Umsura juga berkomitmen memperkuat kontribusi terhadap Persyarikatan Muhammadiyah,” tegasnya.
Salah satunya dengan menjadikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) sebagai laboratorium riset bagi para akademisi.
Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, Ph.D dalam pemaparannya menegaskan sejumlah kriteria penting bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) agar menjadi institusi yang sehat dan maju.
Pertama, penguatan sumber daya manusia dan kultur belajar. Ia menekankan bahwa kader di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus terus belajar dan berinovasi.
Kedua, membangun mentalitas mandiri. Menurutnya, PTMA harus memiliki kemandirian sebagai institusi swasta yang tidak bergantung pada bantuan eksternal.
“Kita harus mandiri, cari peserta didik sendiri, bangun gedung sendiri, bahkan jika ada utang harus dibayar sendiri. Kemandirian inilah yang membuat kita bermartabat,” tegas Sayuti.
Ketiga, menjadikan pelayanan sebagai bagian dari ibadah. Seluruh civitas akademika diminta responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, mulai dari hal sederhana hingga urusan strategis seperti akreditasi.
Keempat, fokus pada kepuasan peserta didik. Sayuti menegaskan bahwa kualitas pembelajaran dan kepuasan mahasiswa merupakan kunci utama keberhasilan perguruan tinggi.
“Perlakukan peserta didik dengan keyakinan penuh. Satu saja mahasiswa yang kita didik dengan baik, bisa menjadi wasilah bagi datangnya ampunan dan pertolongan Allah bagi kita semua,” pungkasnya.
Melalui penguatan sistem, kemandirian, dan pelayanan berbasis nilai ibadah, kepemimpinan Muhammadiyah di Umsura diharapkan mampu menjadi model tata kelola perguruan tinggi yang unggul dan berkelanjutan.





0 Tanggapan
Empty Comments