Kesalehan orang tua menjadi faktor penentu paling kuat dalam menjamin masa depan anak, bahkan lebih berharga daripada harta, jabatan, atau warisan materi. Keberkahan hidup anak-anak diyakini akan terjaga ketika orang tuanya menjaga integritas, ketakwaan, dan amal saleh.
Inilah pesan utama ceramah Drs. H. Qodiron Abdurrohim, Mubaligh Muhammadiyah, yang disampaikan melalui kanal YouTube Masjid KH. Ahmad Dahlan Gresik Official.
“Sebagaimana dicontohkan dalam kisah Umar bin Abdul Aziz yang meninggalkan sedikit harta, namun menghasilkan keturunan yang saleh, makmur, dan diberkahi Allah,” ujarnya.
Melalui dua kisah kontras dari sejarah kekhalifahan Bani Umayyah, Qodiron menggambarkan bagaimana kualitas spiritual dan moral orang tua berdampak nyata pada perjalanan hidup anak-anak mereka.
Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah bergelimang kekayaan, meninggalkan warisan fantastis bagi 11 anaknya. Masing-masing setara Rp 2 triliun. Namun, separo anaknya menjadi pengemis dan separo lagi menjadi pencuri.
Sebaliknya, Umar bin Abdul Aziz, pemimpin zuhud dan adil, hanya meninggalkan warisan 12 dinar (tak sampai Rp 2,5 juta) untuk setiap anaknya. Tapi seluruh keturunannya tumbuh menjadi pribadi saleh, mapan, dan dermawan.
“Yang membedakan adalah kesalehan orang tuanya. Kesalehan itulah yang menjamin keberkahan hidup anak-anak,” ujar Qodiron, mengutip analisis sejarawan dan tafsir Buya Hamka mengenai dua tokoh tersebut.
Qodiron kemudian memaparkan sosok Umar bin Abdul Aziz sebagai teladan kepemimpinan berintegritas.
Ketika naik tahta di tengah kondisi negara yang hancur akibat gaya hidup mewah dan korupsi pendahulunya, Umar langsung membersihkan pejabat nepotis dan mengembalikan kejujuran dalam pemerintahan.
Kesalehan itu dibuktikan ketika sang khalifah menolak permintaan bantuan untuk anak-anaknya. Umar menjawab dengan tegas seraya membaca surah Al-A’raf ayat 196: “Pelindungku adalah Allah… dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.”
Qodiron menegaskan, “Selama kita saleh, selama kita melahirkan anak-anak yang saleh, maka jaminan kehidupan mereka dari Allah.”
Hingga Keturunan Ketujuh
Ceramah juga mengangkat kisah dua anak yatim dalam Surah Al-Kahfi ayat 82, yang mendapatkan perlindungan luar biasa hingga hartanya dijaga oleh Nabi Khidir dan Nabi Musa. Rahasianya hanya satu:
“Wakana abuhuma shalihā — dan ayah mereka adalah orang yang saleh.”
Bukan ayah langsung, melainkan buyut ketujuh. Artinya, keberkahan orang saleh bisa menjangkau keturunan jauh di bawahnya.
“Begitu dahsyat asuransi kesalehan,” tegas Qodiron.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 113–114, Qodiron menjabarkan enam ciri orang saleh yang akan melahirkan generasi kuat dan dijamin Allah:
- Ummatun qā’imatun — jujur, tidak menipu atau berdusta.
- Yatluuna āyātillāhi ānail-layl — rutin membaca Al-Qur’an, terutama malam hari.
- Wahum yasjudūn — membiasakan tahajud.
- Yukminūna billāh wal yaumil ākhir — teguh iman kepada Allah dan hari akhir.
- Ya’murūna bil ma‘rūf wa yanhawna ‘anil munkar — aktif berdakwah, mengajar atau belajar.
- Yusāri‘ūna fil khairāt — berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Jika enam ini kita jalani, itulah asuransi terbaik untuk anak-anak kita,” ujarnya.
Qodiron menutup pesan utamanya dengan ayat penting dalam Surah An-Nisa ayat 9:
Allah melarang orang tua meninggalkan keturunan yang lemah—lemah iman dan lemah ekonomi.
“Maka bangun kesalehan kita, karena itulah yang akan menjaga anak-anak kita nanti,” katanya. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments