Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kesehatan Mental Gen Z: Mental Imagery dan Self-Talk

Iklan Landscape Smamda
Kesehatan Mental Gen Z: Mental Imagery dan Self-Talk
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja M.Pd Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Era digital yang ditandai dengan masifnya pengguna media sosial (medsos), utamanya manusia kategori Generasi Z atau Gen Z  berada dalam kompleksitas persoalan — entah persoalan sosial, agama, ekonomi, maupun spiritualitas.

Akibatnya, mereka cenderung memilih bungkam saat menghadapi situasi sulit. Mereka merasa tidak memiliki pendukung atau tidak ada yang peduli.

Gen Z cenderung memiliki karakter tertutup dan suka menyembunyikan permasalahan hidupnya, mengakibatkan kesulitan menemukan solusi untuk mengatasi masalahnya.

Sehingga seseorang yang merasa terhimpit oleh masalah hidup bisa saja menganggap bunuh diri sebagai jalan keluar.

Hal ini seperti yang terjadi pada seorang mahasiswa Universitas Udayana Bali yang diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari salah satu gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Rabu (15/10/2025).

Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dan mendapatkan perawatan medis, mahasiswa tersebut dinyatakan meninggal dunia.

Dugaan sementara, motif di balik tindakan tersebut adalah perundungan (bully) yang kerap dialaminya dari teman-teman kampus.

Mengacu data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) pada periode Januari–Agustus 2024, setidaknya telah terjadi 849 kali tindakan bunuh diri  di kampus.

75 kasus yang setara dengan 8,8% pelakunya dari kalangan Gen Z (usia 17-25 tahun).

Mental imagery dan Self-talk

Bunuh diri merupakan fenomena kompleks yang menarik untuk dikaji, karena akar permasalahannya tidak dapat ditentukan secara tunggal.

Maraknya kasus bunuh diri di usia produktif, khususnya pada Gen Z, menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada individu tersebut.

Mengutip data McKinsey Health Institute, pada tahun 2022 menunjukkan bahwa Gen Z memiliki kesehatan mental yang buruk.

Oleh karena itu, buruknya kesehatan mental Gen Z perlu diintervensi melalui pendekatan atau mata pelajaran di sekolah. Salah satunya adalah mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK).

PJOK bukan hanya aktivitas fisik teratur sehingga memicu pelepasan hormon positif yang dapat mengalihkan pikiran negatif.

Selain itu sekaligus meningkatkan perkembangan kesehatan mental serta pembiasaan pola hidup sehat melalui latihan mental imagery dan self-talk.

PJOK tidak hanya bermanfaat bagi fisik, tetapi juga mental. Melalui aktivitas fisik teratur, tubuh melepaskan hormon positif yang membantu mengusir pikiran negatif.

Selain itu, latihan seperti mental imagery (membayangkan diri berhasil) dan self-talk (berbicara positif kepada diri sendiri) turut meningkatkan kesehatan mental dan membentuk pola hidup sehat.

Di sisi lain, PJOK juga mengajarkan teknik-teknik mental, seperti:

  • Mental imagery: Membayangkan gerakan atau keberhasilan suatu tindakan di dalam pikiran.
  • Self-talk: Menggunakan kata-kata atau kalimat positif untuk diri sendiri.

Kedua teknik ini membantu meningkatkan kesehatan mental dan membentuk kebiasaan hidup yang lebih sehat secara keseluruhan.

Weinberg dan Gould (2007) mendefinisikan imagery atau imajinasi sebagai bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan sengaja.

Tujuannya untuk membentuk persepsi dengan jalan membentuk imajinasi kreatif di dalam benak seseorang.

Hal ini mendorong munculnya keyakinan positif pada siswa saat mereka menemui masalah dalam memahami pelajaran.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dengan demikian, mereka tumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan.

Ada beberapa tips untuk melakukan imagery secara efektif agar mendapat hasil yang maksimal, antara lain:

  1. Memilih ruangan yang tenang tanpa gangguan dan didampingi oleh psikiater
  2. Memfokuskan pikiran pada satu objek
  3. Membayangkan pengalaman menggunakan semua indera
  4. Menjaga sikap positif dan percaya diri
  5. Mencatat detail imagery yang dilakukan
  6. Mengakhiri dengan gambaran positif

Latihan imagery disarankan dilakukan secara rutin dan teratur untuk hasil maksimal.

Sebuah studi oleh I Nyoman Sukarditana (2019) menunjukkan bahwa penerapan imagery dan self-talk dapat meningkatkan percaya diri dan konsentrasi atlet voli SMPN 15 Surabaya.

Sementara itu, penelitian Satrio Anggoro Putra Wibowo (2016) menemukan bahwa latihan mental imagery memengaruhi kepercayaan diri atlet menembak di Jawa Barat secara signifikan—skor rata-rata mereka naik dari 521,72 menjadi 527,09, atau meningkat 5,37 poin.

Dengan penerapan imagery dan self-talk dalam proses pembelajaran PJOK disekolah, harapannya adalah masalah kesehatan mental para peserta didik dapat teratasi.

Mempunyai mental positif dan tangguh dalam menghadapi problem serta tidak gampang menyerah merupakan manfaat dari penerapan imagery dan self-talk.

Perspektif Islam

Sedang dari sisi religius, Islam mengenalkan cara untuk menjaga kesehatan mental agar tidak mudah runtuh. Dalam Qur’an surah Al-Ankabut ayat 41 Allah berfirman:

 

مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًاۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

 

“Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba betina yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba. Jika mereka tahu, (niscaya tidak akan menyembahnya)”.

 

Bagi Gen Z, ujian hidup terasa tiada habisnya. Masalah datang bertubi-tubi: mulai dari tekanan pekerjaan dan akademik yang menumpuk, persoalan asmara, konflik keluarga, hingga pergolakan batin akibat perubahan diri yang membutuhkan sandaran.

Sadar akan hal ini, sebagai manusia, kita pasti mencari tempat bersandar saat menghadapi cobaan, dan Allah SWT Maha Mengetahui segala yang kita alami.

Tafsir Ibnu Katsir mengibaratkan siapa pun yang mengandalkan selain Allah—seperti manusia, harta, atau jabatan—mirip laba-laba yang membangun rumah perlindungan yang lemah.

Rumah laba-laba itu kelihatannya indah, benangnya halus dan jaringnya simetris. Tapi hanya karena terkena tiupan angin, semuanya bisa runtuh.

Jaring laba-laba tampak  indah dari luar, namun tidak memiliki kekuatan untuk menahan beban.

Terkadang Allah SWT mengangkat masalah yang kita hadapi secara bertahap, agar kita bisa menyadari suatu hal dan mengambil hikmah atau pelajaran.

Jadi, yang penting bukan pada seberapa besar ujiannya tapi dimana kita bersandar. Jika sandarannya kepada sesama makhluk, misalnya kepada sesama  manusia, maka suatu waktu bakal runtuh bersama mereka. Namun jika sandarannya  kepada Allah SWT semata, Insyaallah terpaan badai pun akan lebih terasa hanya seperti hembusan angin sepoi-sepoi.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡