Sombong dalam bahasa Arab disebut al-kibr, yang bermakna merasa lebih besar, lebih tinggi, dan lebih berkuasa. Ketika seseorang lupa kepada Pemberi segala kelebihan yang dimilikinya, perasaan tersebut dapat berubah menjadi kebanggaan diri yang berlebihan. Dari sinilah muncul kecenderungan merendahkan dan meremehkan orang lain.
Pertanyaannya, apakah orang beriman dapat berlaku sombong? Jawabannya, bisa saja. Orang beriman pun dapat tertular penyakit sombong, misalnya dengan membanggakan amal ibadah, keturunan, jabatan, atau kelebihan lainnya.
Sasaran Perilaku Sombong
Kesombongan sering menyasar orang-orang yang memiliki kelebihan, baik dalam ilmu, harta, pangkat, maupun jabatan. Semua itu berawal dari pengingkaran terhadap Pemberi kelebihan, yaitu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika kesadaran ini memudar, keengganan untuk berjalan di atas kebenaran pun menguat. Akibatnya, perilaku menghina, meremehkan, bahkan menindas sesama menjadi sesuatu yang mudah dilakukan tanpa rasa bersalah.
Al-Qur’an telah mengisahkan contoh-contoh nyata tentang kesombongan, seperti Fir‘aun sebagai raja zalim, Qarun yang bangga dengan kekayaannya, serta Namrud, raja penyembah berhala yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Mereka adalah gambaran nyata kesombongan orang-orang besar yang berakhir dengan kehinaan.
Penyakit Sombong Bagaikan Virus
Di zaman ini, perilaku sombong bagaikan virus yang dapat menular kepada siapa saja, kecuali mereka yang memiliki imun kuat berupa iman yang kokoh. Kesombongan dapat dikenali melalui dua tanda utama: pertama menolak kebenaran, dan yang kedua merendahkan orang lain, bila di antara hal ini ada pada diri seseorang, maka sudah cukup dikatakan berbuat sombong.
Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam : Al Kibru Batorul haq ghomtun nass”, sombong itu menolak kebenaran dan merendahan orang lain.
Dampak Sikap Sombong
Perilaku sombong sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesetaraan dan rendah hati. Sikap sombong tidak hanya menunjukkan ketidakpedulian terhadap orang lain, tetapi juga merusak nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi.
Kesombongan membuat seseorang tidak mengakui terhadap kebajikan orang lain dan menciptakan jurang pemisah yang menghalangi untuk kokohnya persaudaraan. Sikap sombong mengakibatkan kufur terhadap nikmat dan lupa pada kekurangan dirinya.
Larangan Berbuat Sombong
Dampak sikap sombong menjalar pada orang lain dan kerugian orang yang melakukannya, oleh karena itulah,
Allah Subhaanahu wa Ta’ala melarang bersikap sombonh sebagaimana firman berfirman dalam Al-Qur’an: Surah Luqman : 18 :
“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Di samping itu, firman-Nya dalam QS.An Nahl : 23
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari dan Muslim.)
Keterangan di atas merupakan dasar yang kuat tentang larangan berbuat sombong bagi orang-orang yang beriman.
Mengobati Penyakit Sombong
Suatu penyakit akan semakin para bila tidak diobati, termasuk juga penyakit sombong yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Ada tiga hal sebagai upaya menutup pintu kesombongan dalam jiwa, sebagaimana di bawah ini :
Pertama: Sadar akan Kekuasaan Allah Subhaanahu aa Ta’ala.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Sempurna, serta Maha Kuasa.Dia kuasa menjadikan orang miskin mènjadi kaya, orang tetkenal jadi tercemar. Kesadaran inilah yang seharus kita miliki sebagai orang yang beriman kepada-Nya.
Kedua: Bersyukur atas Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Bersyukur atas nikmat perlu mendapat prioritas utama, sehingga nikmat kelebihan yang diterima tidak menggoyahkan untuk menyombongkan diri, karena yang kita miliki tidaklah kekal.
Ketiga: Menghitung Diri.
Menghitung diri, setelah melakukan kesombongan, sebab setiap jiwa merasakan akibat perilaku yang kurang baik seperti sombong, jiwa seseoranglah yang menyaksikannya. Dengan langkah tersebut akan timbul penyesalan, puncaknya akan bertobat dengan jalan istighfar.
Semoga tulisan yang sederhana bermanfaat dan membantu dalam mengendalikan sifat GG tercela yang menyelinap pada diri, serta meningkatkan kedekatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments