Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an: “Janganlah engkau terlalu bangga, sungguh Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76).
Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak larut dalam kesombongan. Sebab, pada hakikatnya, manusia hanyalah makhluk yang lemah.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan: “Apa artinya anak Adam membanggakan diri, padahal pada mulanya ia hanyalah setetes air mani, dan pada akhirnya ia menjadi bangkai. Ia tidak dapat menentukan rezekinya sendiri dan tidak dapat menolak kematian.”
Kalimat ini membuat kita merenung dalam-dalam. Bukankah kita sering merasa hebat karena harta, jabatan, atau kepintaran, padahal semua itu hanyalah titipan?
Manusia memang tidak bisa menolak kematian, tetapi Islam tidak mengajarkan kita pasrah tanpa usaha. Rasulullah saw bersabda:
“Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).
Inilah indahnya Islam: kita diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dua orang bisa berusaha dengan cara yang sama, namun hasilnya bisa berbeda. Karena hasil akhir adalah hak prerogatif Allah, bukan manusia.
Kisah Qarun: Simbol Kesombongan
Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun sebagai pelajaran penting. Ia adalah orang kaya raya di zaman Nabi Musa. Kunci-kunci gudang hartanya saja sampai harus dipikul oleh banyak orang. Namun, Qarun sombong, merasa semua kekayaannya adalah hasil dari kepintaran dirinya sendiri.
Allah pun menegur kesombongan itu: “Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (QS. Al-Qashash: 81).
Kisah Qarun adalah ilustrasi bahwa betapapun kuat, kaya, atau berkuasanya seseorang, Allah bisa menghancurkannya seketika.
Dalam kehidupan modern, sifat Qarun ini sering kita lihat. Ada orang yang setelah naik jabatan, tidak lagi menyapa bawahannya. Ada pula yang sombong dengan hartanya, merasa lebih mulia dari orang miskin. Bahkan, ada yang merasa pintar lalu meremehkan orang lain.
Padahal Allah berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).
Ujub: Penyakit Halus yang Mematikan
Ujub (bangga pada diri sendiri) adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia sering datang dengan halus, sehingga orang yang terjangkit pun merasa baik-baik saja. Padahal, ujub bisa menjadi pintu menuju takabur (kesombongan).
Iblis adalah contoh paling nyata. Ia terusir dari surga bukan karena tidak beribadah, tetapi karena kesombongan. Ia menolak bersujud kepada Adam, seraya berkata:
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12).
Kesombongan itulah yang menjerumuskan iblis, meski sebelumnya ia ahli ibadah.
Berbanding terbalik dengan Qarun dan iblis, para sahabat Nabi menunjukkan teladan kerendahan hati. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, misalnya, meski berkuasa atas wilayah luas, tetap hidup sederhana.
Dikisahkan suatu hari beliau sedang tidur di bawah pohon kurma tanpa pengawal. Seorang utusan dari Persia terkejut melihatnya, lalu berkata:
“Engkau berkuasa begitu besar, tetapi engkau tidur sendirian tanpa penjaga. Engkau benar-benar adil, maka engkau aman, wahai Umar.”
Kisah ini menunjukkan bahwa kerendahan hati dan keadilan jauh lebih mulia daripada kesombongan.
Sayyidina Ali berkata: “Keburukan yang engkau lakukan lebih baik daripada kebaikan yang membuatmu berbangga hati.”
Kalimat ini begitu dalam maknanya. Kadang Allah membukakan pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan amalan karena hati kita dipenuhi ujub. Sebaliknya, bisa jadi Allah menakdirkan kita terjatuh dalam dosa, hingga hati menjadi rendah diri dan bertaubat sungguh-sungguh.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam Madarijus Salikin: “Ada hamba yang masuk surga karena dosa yang membuatnya bertaubat, dan ada yang masuk neraka karena ketaatan yang membuatnya sombong.”
Kesombongan adalah sifat yang membuat manusia jauh dari rahmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).
Maka, jalan selamat adalah dengan merendahkan hati. Setiap keberhasilan, kembalikan kepada Allah. Setiap kegagalan, jadikan bahan muhasabah.
Kesombongan menjatuhkan, kerendahan hati mengangkat. Mari kita terus menjaga hati, agar ibadah tidak ternodai ujub, dan amal tidak berubah menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments