Suasana Tarhib Ramadan di Masjid Al Fatah kampus yang dahulu dikenal sebagai UNISMA 45 Bekasi—kini bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia)—berlangsung khidmat. Jamaah memenuhi ruang utama, panitia memastikan acara tertib, sementara jajaran pimpinan kampus dipersilakan menempati barisan depan.
Ketika nama Wakil Rektor III disebut, panitia menyampaikan, “Selamat datang Wakil Rektor III Prof. Sri Atmaja, silakan duduk di depan.”
Namun, Prof. Sri Atmaja justru melangkah menuju barisan belakang dan duduk bersama karyawan serta mahasiswa. Saat panitia kembali mempersilakan ke depan, ia menolak dengan halus.
“Biar duduk di sini saja,” ujarnya singkat.
Keteladanan dalam Kesederhanaan
Di tengah budaya seremonial yang kerap menempatkan jabatan sebagai simbol jarak, sikap tersebut menjadi bentuk keteladanan yang nyata. Tanpa pidato panjang, pilihan sederhana itu menghadirkan pesan tentang makna kepemimpinan.
Nama lengkapnya, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., PG-Certf., Ph.D., P.Eng., IPU., ASEAN.Eng., FIHE, M.ASCE., mencerminkan capaian akademik dan profesional yang tinggi. Namun di lingkungan kampus, ia dikenal karena kesahajaannya.
Setiap waktu Zuhur, ia hampir selalu hadir lebih awal di Masjid Al Fatah tanpa protokol. Seusai salat berjamaah, ia menyalami karyawan dan menyapa mahasiswa. Interaksi tersebut membangun kedekatan yang tulus di luar struktur formal.
Kesederhanaan itu tumbuh dari perjalanan panjang sebagai kader dakwah Muhammadiyah. Saat menempuh studi S1 Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia aktif dalam gerakan kemahasiswaan dan dakwah. Lingkungan kampus membentuk karakter kepemimpinan yang berorientasi pada pengabdian.
Perjalanan akademiknya berlanjut di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan menyelesaikan S2 Civil & Structural Engineering (2004) dan S3 Civil & Structural Engineering (2009). Selama di Malaysia, ia terlibat dalam aktivitas PCIM Malaysia, memperluas pengalaman dakwah lintas negara.
Kepemimpinan yang Mengedepankan Pelayanan
Dalam berbagai organisasi, jabatan sering kali diikuti simbol kehormatan. Namun, Prof. Sri Atmaja memilih menempatkan diri sebagai pelayan institusi. Sikap tersebut mencerminkan kesetaraan di hadapan Tuhan dan tanggung jawab pelayanan kepada sesama.
Sebagai akademisi teknik sipil dan struktur, ia terbiasa dengan ketelitian dan tanggung jawab profesional. Nilai tersebut berpadu dengan etos dakwah Muhammadiyah: ilmu untuk kemaslahatan.
Transformasi kampus menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia tidak sekadar perubahan nama, tetapi juga penguatan misi pendidikan berkemajuan yang memadukan kualitas akademik dan akhlak kepemimpinan.
Peristiwa di Masjid Al Fatah mungkin berlangsung tanpa sorotan berlebihan. Namun dari sikap sederhana itu tersampaikan pesan tentang kepemimpinan yang bersahaja.
Seorang profesor dengan deretan gelar internasional memilih duduk di barisan belakang bersama civitas akademika. Dari pilihan tersebut, tersirat nilai keteladanan yang meninggalkan kesan mendalam.






0 Tanggapan
Empty Comments