Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Keteladanan yang Tak Luntur, Ini Kenangan Dr. Mundakir tentang dr. Mutadi

Iklan Landscape Smamda
Keteladanan yang Tak Luntur, Ini Kenangan Dr. Mundakir tentang dr. Mutadi
dr. H. Mutasi memberikan sambutan saat wisuda. Foto: Um Surabaya
pwmu.co -

Ruang tunggu direktur Akademi Keperawatan (Akper) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) pagi itu begitu hening. Kursi-kursi empuk berwarna biru laut tertata rapi, seolah menunggu tamu penting yang akan datang.

Dinding ruangan dihiasi lukisan-lukisan pemandangan alam yang menenangkan, sementara cahaya matahari menyelinap lembut melalui jendela besar dan memantul di lantai marmer yang mengilap.

Suasana tenang itu menyimpan banyak cerita. Salah satunya tentang pertemuan bersejarah antara dr. H. Mutadi, waktu itu menjabat direktur Akper UM Surabaya kala itu, dengan Dr. Mundakir (kini menjabat Rektor UM Surabaya)

Ketika itu, Mundakir baru saja pindah ke kampus baru di Jalan Sutorejo 59, setelah sebelumnya beraktivitas di kompleks SMA Muhammadiyah 2 Surabaya di Jalan Pucang Adi. Mundakir masih menjadi dosen keperawatan muda yang bersemangat membangun suasana akademik di lingkungan baru.

“Waktu itu kami baru saja menata perkuliahan di kampus baru Sutorejo,” kenang Mundakir.

“Tiba-tiba kami dapat panggilan dari Pak Mutadi untuk datang ke ruangannya. Saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan, tapi nada beliau di telepon terdengar penting. Saya lalu ajak Azis (Prof Azis Alimul Hidayat, kini rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan),” imbuhnya.

Diungkapkan Mundakir, dirinya dan Azis segera memenuhi panggilan dr. Mutadi. Waktu itu, ingat Mundakir, Mutadi berdiri dari kursinya, menjabat tangan keduanya, lalu mempersilakan duduk. Di depan meja besar tampak tumpukan dokumen yang rapi.

Keteladanan yang Tak Luntur, Ini Kenangan Dr. Mundakir tentang dr. Mutadi
dr. H. Mutadi menerima sumbangan buku pustaka dari perwakilan wisudawan pada momen wisufda tahun 1990. Foto: UM Surabaya

Setelah berbincang ringan, barulah Mutadi mengungkapkan maksud pertemuan itu. Dia berkata bahwa menjalankan amanah bukan hal yang mudah.

“Tanggung jawabnya besar. Saya butuh orang yang bisa membantu agar lembaga ini tetap berjalan baik,” ujar Mundakir menirukan ucapan Mutadi.

Mutadi lalu meminta Mundakir dan Azis mencarikan figur pengganti direktur Akper. “Cari orang yang paham dunia kesehatan, tapi juga punya semangat dan loyalitas untuk Muhammadiyah,” pesan Mutadi singkat.

Tugas itu diterima keduanya. Mereka pun mulai mencari sosok yang sesuai dengan amanah tersebut. Suatu hari, mereka bertemu Dr. Mustaqim Fadhil (kini almarhum), yang saat itu menjabat Sekretaris PWM Jatim sekaligus Sekretaris Program Pascasarjana UM Surabaya.

Dalam pertemuan hangat itu, Mustaqim menyebut beberapa nama potensial. “Ada dr. Esty Martina Rachmi dan dr. Rini Krinawati,” katanya saat itu. Namun keduanya menolak karena telah memegang jabatan penting di lembaga lain.

Setelah berpikir sejenak, Mustaqim kemudian menyebut satu nama lain. “Coba hubungi dr. Sukadiono,” ujarnya. “Masih muda, tapi energinya besar. Dia aktif mengelola beberapa klinik di Surabaya,” timpalnya.

Mundakir lalu menghubungi nomor telepon Sukadiono yang diberikan Mustaqim. Singkat cerita, Mundakir dan Azis janjian bertemu dengan Sukadiono di klinik yang terletak di kompleks Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya.

Keteladanan yang Tak Luntur, Ini Kenangan Dr. Mundakir tentang dr. Mutadi
dr. H. Mutadi membersamai KH. Abdurrahim Nur, M.A. Ketua PWM Jatim dan Prof. Dr. Harsono, koordinator Kopertis Wilayah VII Jatim pada acara wisuda sarjana ke 9 tahun 1992. Foto: UM Surabaya

Dalam pertemuan tersebut, Mundakir menyampaikan amanah yang diberikan dr. Mutadi. “Semoga Bapak bersedia menerima amanah sebagai Direktur Akper UM Surabaya,” tutur Mundakir.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mendengar itu, Sukadiono tampak terkejut. “Saya? Direktur Akper?” ucapnya sambil tersenyum heran.

Namun setelah penjelasan panjang tentang kondisi akademi dan tantangan ke depan, ekspresinya berubah lebih serius. “Insya Allah, saya siap,” katanya mantap sambil menjabat tangan Mundakir erat-erat.

Beberapa hari kemudian, Mundakir melaporkan hasil pertemuan tersebut kepada Mutadi. Saat mendengar nama dr. Sukadiono, sang rektor sempat mengernyitkan dahi. “Pak Suko? Dokter klinik itu?” tanyanya, berusaha mengingat.

Mundakir menjelaskan bahwa rekomendasi datang dari Mustaqim Fadhil. Setelah mendengar itu, Mutadi mengangguk pelan. “Kalau begitu, insyaallah bagus,” katanya pendek—tanda restu diberikan.

Tak lama kemudian, Sukadiono datang ke kampus Sutorejo. Ia mengendarai motor Suzuki CDI, berpakaian rapi, dan membawa map berisi surat lamaran. Ia disambut hangat oleh staf dan diarahkan ke ruang rapat, tempat Mundakir menunggunya.

Dalam pertemuan itu, keduanya berbincang banyak tentang kondisi Akper. Mundakir menjelaskan capaian yang sudah diraih, mulai dari akreditasi program studi yang baik hingga kerja sama dengan sejumlah rumah sakit besar.

Namun, ia juga jujur menyampaikan tantangan yang masih dihadapi. “Kami butuh laboratorium yang lebih lengkap dan kurikulum yang lebih kuat agar mahasiswa kami siap menghadapi dunia kerja,” ujarnya kepada Sukadiono.

Sukadiono mendengarkan dengan saksama. “Mahasiswa tidak hanya harus cakap secara klinis,” katanya kemudian, “tetapi juga harus punya empati dan jiwa kepemimpinan.”

Kalimat itu, kata Mundakir, seolah menegaskan arah baru bagi Akper Muhammadiyah Surabaya.

Beberapa waktu kemudian, lamaran dr. Sukadiono resmi diterima. Dari sinilah perjalanan panjang itu dimulai. Menurut Mundakir, pagi setelah menerima lamaran dari Sukadiono, malam harinya di mengantar lamaran itu ke rumah Noto Adam, MM yang saat itu menjabat rektor UM Surabaya.

Menurut Mundakir, proses penetapan Sukadiono menjadi direktur Akper tidak memakan waktu lama.

Kini, ketika kabar duka tentang wafatnya dr. Mutadi menyelimuti civitas akademika, kenangan itu kembali hadir dengan jelas di benak Mundakir.

“Beliau bukan hanya rektor,” katanya pelan, “tapi guru kehidupan. Dari beliau kami belajar tentang keikhlasan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang memanusiakan.” (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu