Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketenangan yang Lahir dari Sajadah

Iklan Landscape Smamda
Ketenangan yang Lahir dari Sajadah
Foto: Unsplash
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat merupakan perintah langsung dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Al-Baqarah ayat 153 dan 45.

Sabar mengajarkan ketabahan dalam menghadapi ujian, sedangkan salat menjadi sarana komunikasi langsung untuk memohon pertolongan dan ketenangan kepada Allah serta mendekatkan diri kepada-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar berarti menahan diri dalam menghadapi kesulitan, godaan, dan cobaan hidup. Termasuk di dalamnya sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menerima takdir yang mungkin terasa berat.

Sementara itu, salat adalah sarana terdekat bagi seorang hamba untuk berkomunikasi langsung dengan Allah.

Di dalamnya, seseorang dapat bermunajat dengan penuh khusyuk, memohon pertolongan, dan mengadukan segala kegelisahan dengan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tempat bergantung dan penolong sejati.

Ketika hati diliputi ketakutan, kesedihan, dan kegelisahan, segeralah berdiri untuk melaksanakan salat. Dengan izin Allah, salat mampu menenangkan jiwa dan menghapus kesedihan.

Rasulullah saw. memberi teladan dalam hal ini. Setiap kali beliau menghadapi kesulitan, beliau memanggil Bilal bin Rabah seraya berkata:

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.”(HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7892)

Hadis ini menunjukkan bahwa bagi Rasulullah saw. dan orang-orang yang mencintai Allah, ketenangan dan kebahagiaan sejati justru terletak dalam salat. Adapun bagi orang yang lalai, salat terasa berat dan melelahkan, sebab hatinya tidak menemukan ketenangan di dalamnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bagi Rasulullah saw., salat adalah penyejuk hati dan sumber kebahagiaan. Saat menghadapi persoalan sulit, beliau memohon pertolongan kepada Allah dengan salat yang khusyuk. Dari sanalah kekuatan, semangat, dan tekad hidup kembali tumbuh.

Bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun, seperti di medan perang, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk tetap melaksanakan salat khauf — salat dalam keadaan takut. Ini menjadi isyarat bahwa sebaik-baik penenang jiwa dan penentram hati adalah salat yang penuh kekhusyukan.

Di zaman modern ini, ketika banyak manusia menderita tekanan batin dan gangguan kejiwaan, salat menjadi obat paling ampuh. Hendaklah manusia kembali mengenal masjid dan menempelkan keningnya ke lantai dalam sujud untuk meraih ridha Allah. Dari situlah ketenangan dan keselamatan sejati akan lahir.

Sebaliknya, mereka yang jauh dari salat akan terus hidup dalam kegelisahan dan kesengsaraan. Kesedihan akan menggerus ketenangan mereka, dan air mata justru menjadi beban, bukan penyejuk jiwa.

Sungguh, salah satu nikmat terbesar dari Allah adalah kewajiban salat lima waktu. Selain menghapus dosa dan meninggikan derajat, salat juga menjadi obat bagi kegelisahan dan penawar bagi berbagai penyakit hati.

Dalam setiap gerakan dan bacaan salat, Allah menanamkan ketulusan iman dan kejernihan hati, hingga seorang hamba pun ridha terhadap segala ketentuan-Nya.

Namun, bagi mereka yang menjauh dari masjid dan meninggalkan salat, hidup akan terasa sempit dan penuh guncangan. Mereka berpindah dari satu kesusahan ke kesusahan lain, tanpa pernah merasakan kedamaian yang hanya bisa ditemukan di hadapan Allah dalam salat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡