Akhirat adalah sebagaimana yang difirmankan Allâh Subhanahu Wa Ta’ala: “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)
Ayat ini menjadi pengingat tegas bahwa apa pun yang kita kejar di dunia—harta, jabatan, popularitas—semuanya bersifat sementara.
Namun, realitas kehidupan sering menunjukkan sebaliknya. Banyak manusia justru menjadikan dunia sebagai tujuan utama, bukan sekadar sarana menuju akhirat.
Dalam sebuah ilustrasi kehidupan, kita sering menjumpai seseorang yang awalnya sederhana dan taat.
Saat amanah jabatan datang, ia mulai sibuk mengejar target, rapat demi rapat, hingga waktu salat sering tertunda. Ketika harta bertambah, gaya hidup ikut naik.
Sedekah yang dulu ringan kini terasa berat. Bukan karena ia miskin, tetapi karena hatinya mulai terikat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan melalui sabdanya:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)
Ilmu menjadi kunci agar manusia tidak salah arah. Tanpa ilmu, harta dan jabatan bukan lagi amanah, melainkan jebakan.
Banyak orang berilmu tinggi namun lupa bahwa ilmu seharusnya menuntun pada ketundukan, bukan kesombongan.
Zaid bin Tsabit ra meriwayatkan sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu ada di hadapannya.”
Kemiskinan yang dimaksud bukan semata kekurangan materi, tetapi rasa tidak pernah cukup. Ada orang yang hartanya melimpah, namun hidupnya penuh kecemasan, takut kehilangan jabatan, khawatir tersaingi, dan gelisah menghadapi masa depan. Tidurnya tidak nyenyak, ibadahnya terasa hampa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Ketamakan manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya.”
Ibarat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan kambing, begitulah dahsyatnya pengaruh cinta dunia terhadap iman.
Sedikit demi sedikit, agama terkikis. Awalnya hanya menunda ibadah, lalu membenarkan cara yang tidak halal, hingga akhirnya yang haram terasa biasa.
Namun Islam bukan agama yang memusuhi dunia. Al-Qur’an dengan indah menegaskan keseimbangan hidup dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia.”
Ayat ini menuntun kita untuk menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Harta dicari dengan cara halal, jabatan dijalani sebagai amanah, bukan alat kesombongan. Dunia digunakan untuk memperbanyak bekal akhirat, bukan sebaliknya.
Dalam kehidupan nyata, kita bisa melihat teladan orang-orang yang sederhana namun tenang. Penghasilannya mungkin biasa, jabatannya tidak tinggi, tetapi hatinya lapang.
Ia mudah bersyukur, ringan membantu, dan istiqamah dalam ibadah. Inilah kekayaan sejati—ketenangan hati karena Allah selalu di depan.
Maka doa menjadi penutup sekaligus harapan:
Yaa Allah, jagalah hati, pikiran, dan sikap kami agar selalu positif.
Yaa Allah, ampunilah kesalahan kami dan kedua orang tua kami.
Yaa Allah, ingatkan kami bahwa kebaikan-Mu lebih besar daripada kesalahan kami.
Yaa Allah, tuntunlah kami untuk senantiasa bersyukur, ikhlas, dan sabar.
Yaa Allah, bukakan pintu rezeki yang berkah dari berbagai arah.
Yaa Allah, mampukan kami mengangkat derajat kedua orang tua kami, memuliakan mereka, bahagia di dunia, dan selamat di akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments