Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Hamka Remaja Dikritik sebagai Tukang Pidato yang Tak Bisa Bahasa Arab

Iklan Landscape Smamda
Ketika Hamka Remaja Dikritik sebagai Tukang Pidato yang Tak Bisa Bahasa Arab
Kiri-kanan: Hamka, Karim Oe, dan Soekarni (foto: koransulindo/ist)

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama Hamka adalah sosok ulama yang multidimensi. Ulama kelahiran Sumatera Barat ini juga juga sastrawan, sejarawan, dan pemikir Islam terkemuka Indonesia. Dikenal sebagai sosok yang punya kemampuan orasi (pidato) memukau, ia juga punya produktivitas yang tinggi dalam hal tulis-menulis.

Perjalannya dalam dunia pidato meninggalkan cerita sendiri. Kebiasaannya untuk berpidato dimulai sejak tahun 1925. Dalam usia 17 tahunan. Tepatnya usai setahun mengembara di Jawa. Berkelana di Yogyakarta, kemudian Bandung, juga Pekalongan, membuatnya bertemu dengan berbagai tokoh pembaharuan Islam saat itu.

“Adalah beberapa guru yang amat mempengaruhi jalan pikiran saya dalam agama… seperti H. Fakhruddin, yang meskipun hanya sekali saja dapat bertemu dengan beliau di kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo…” catat Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup. “K.H. Mas Mansur yang … mendorong saya buat menyelidiki tarikh Islam,” lanjut Hamka.

Setelah setahun di Jawa, pada bulan Juli 1925 Hamka kembali pulang ke Padang Panjang. Di sini, selain menulis di Majalah Chatibul Ummah dan Tabligh Muhammadiyah, ia juga berpidato di berbagai tempat.

Kepiawaiannya dalam berpidato memang diakui banyak pihak. Termasuk ayahnya sendiri, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul. Meski ayahnya ini tidak lupa menyelipkan kritik yang tajam karena menilai pidato Hamka tidak berisi. Dalam hal ini ayahnya memotivasi untuk banyak belajar, meskipun dirasakan Hamka kritik itu cukup pedas

”Perlu apa pandai pidato saja kalau pengetahuannya tidak cukup. Apalah perlunya kalau cuma pandai menghafa syair, bercerita tentang sejarah, sebagai burung beo…” begitu salah satu kritik tajam dari ayahnya sendiri yang ditulis Hamka dalam buku Kenang-Kenangan Hidup.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Pidato-pidato lezing saja percuma. Isi dada dahulu dengan pengetahuan, baru ada artinya pidato itu…” kritik Haji Rasul di lain hari. Selain ayahnya sendiri, Hamka juga mendapat kritikan sebagian ulama karena belum menguasa Bahasa Arab dengan baik.

Kritikan itu memang terngiang di benak Hamka. Kemudian dia mengambil keputusan yang tergolong nekat. Pada Februari 1927, di pergi ke Mekkah tanpa pamit ayahnya. Ia berangkat dengan biaya sendiri. Selain untuk menunaikan ibadah haji, kepergiannya ke untuk memperdalam bahasa Arab dan pengetahuan agamanya.

Sambil bekerja di percetakan Tuan Hamid putra Majid Kurdi, Hamka mengasah kemampuannya dalam berbahasa Arab. Di tempatnya bekerja, ia dapat membaca berbagai kitab klasik, buku, dan berbagai buletin berbahasa Arab.

Dengan berbekal bahasa Arab, dia mempelajari karya ulama dan pujangga besar. Tak heran jika setelah kembali dari Mekkah setahun kemudian, sebutan “tukang pidato” pun menghilang. Apalagi pidato-pidatonya memang berisi, dibarengi dengan tulisan-tulisan ringan berbobot di berbagai majalah dan surat kabar.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡