Dalam perjalanan hidup, setiap manusia tidak pernah lepas dari masalah, kesulitan, dan kekhawatiran.
Ada kalanya kita sudah berusaha sekuat tenaga, merencanakan dengan matang, bahkan menempuh jalan yang dianggap paling tepat.
Namun, hasilnya tetap saja tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pada titik inilah kita sering merasa lelah, putus asa, dan bahkan mempertanyakan takdir.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa setelah usaha maksimal dilakukan, ada satu langkah penting yang harus kita tempuh: berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah hakikat tawakal, yakni menyerahkan hasil dari segala ikhtiar kita kepada Sang Maha Pengatur kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talāq: 3)
Ayat ini adalah janji pasti dari Allah. Barang siapa yang benar-benar menyerahkan urusan hidupnya, baik dunia maupun akhirat, kepada Allah dengan penuh keimanan, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya.
Tidak berarti hidupnya tanpa ujian, tetapi setiap kesulitan akan diberi jalan keluar, dan setiap kekurangan akan dicukupkan dengan cara yang tak terduga.
Nabi Muhammad saw juga menegaskan:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasif atau berpangku tangan, melainkan tetap berusaha seperti burung yang keluar dari sarangnya. Hanya saja, hati kita tidak bergantung pada usaha, melainkan pada Allah yang mengatur hasilnya.
Nama-Nama Allah yang Menjadi Sandaran
Mengapa kita harus menyerahkan segala urusan kepada Allah? Karena Dia adalah:
- Al-Ghaniyy (Maha Mencukupi): Allah tidak membutuhkan apa pun, sebaliknya seluruh makhluk membutuhkan-Nya.
- Al-Qawiyy (Maha Perkasa): Kekuatan Allah tidak tertandingi, dan tiada satu pun urusan yang mustahil bagi-Nya.
- Al-‘Aziz (Maha Mulia): Allah memiliki kemuliaan yang sempurna, sehingga siapa pun yang berlindung kepada-Nya tidak akan hina.
- Ar-Rahim (Maha Penyayang): Kasih sayang Allah meliputi seluruh makhluk-Nya, bahkan seringkali lebih luas dari yang kita bayangkan.
Maka, bersandar penuh pada Allah adalah jaminan bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik menurut hikmah-Nya.
Bayangkan seorang pedagang kecil di pasar tradisional. Setiap hari ia membawa dagangan sederhana: sayur, buah, atau jajanan rumahan. Penghasilannya tak seberapa, bahkan sering tak cukup menutup kebutuhan keluarga.
Namun, ia selalu berusaha jujur, tidak curang dalam timbangan, dan senantiasa berdoa setelah salat subuh: “Ya Allah, Engkaulah Maha Pemberi Rezeki, cukupkanlah untuk hari ini.”
Suatu hari, tanpa diduga, ada pembeli yang datang memborong hampir semua dagangannya. Rupanya pembeli itu sedang mengadakan acara besar.
Dari situ, pedagang kecil ini bisa memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menyisihkan sebagian untuk menolong tetangga yang kesulitan.
Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa rezeki Allah sering kali datang dari arah yang tidak pernah kita perkirakan. Yang terpenting adalah tetap berusaha dengan ikhlas, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tawakal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, Rasulullah ﷺ mencontohkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Dalam satu riwayat, seorang sahabat bertanya:
“Ya Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku terlebih dahulu, lalu bertawakal, atau cukup bertawakal kepada Allah?” Rasulullah saw menjawab: “Ikatlah terlebih dahulu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, tawakal adalah menyerahkan hasil, bukan meninggalkan usaha. Kita tetap harus bekerja, belajar, berdoa, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Tetapi, hati kita tidak boleh melekat pada usaha itu, melainkan yakin bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi jika Allah menghendaki.
Kadang solusi datang seketika, kadang ditunda hingga waktu yang paling tepat menurut Allah. Ketika kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, hati akan lebih tenang menghadapi ujian hidup.
Bayangkan seorang mahasiswa yang sudah belajar keras menghadapi ujian, tetapi tetap cemas menunggu hasilnya.
Jika ia hanya mengandalkan usahanya, hatinya akan terus gelisah. Tetapi jika setelah belajar ia berdoa,:“Ya Allah, aku sudah berusaha, kini aku serahkan hasilnya kepada-Mu,” maka apapun hasil ujian itu, ia bisa menerima dengan lapang dada. Inilah ketenangan yang lahir dari tawakal.
Hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak pasti. Namun ada satu kepastian: barang siapa yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan segalanya.
Jangan ragu untuk berserah diri. Serahkan semuanya kepada Allah dengan hati yang ikhlas, penuh keyakinan, dan tidak terburu-buru menuntut hasil. Sebab, janji Allah tidak pernah meleset.
Seperti doa yang sering kita panjatkan: “Hasbunallahu wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir.” (Cukuplah Allah menjadi penolong kami, Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong).
Dengan doa ini, kita belajar menggantungkan hati sepenuhnya kepada Allah. Karena ketika kita pasrah kepada-Nya, Allah lah yang akan mencukupkan segala urusan kita. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments