Suara tawa anak-anak bersahutan di halaman Rumah Singgah Al Furqon (RSAF), salah satu amal usaha Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Medokan Semampir, yang beralamatkan di Semampir Barat, Perum Tanjung Permai Blok B-66, Surabaya, Jumat (27/2/2026) sore.
Di tengah suasana Ramadan, mereka tidak sekadar bermain, tetapi belajar membaca, berhitung, sekaligus memahami nilai keislaman dan kearifan lokal melalui permainan edukatif berbasis digital.
Kegiatan tersebut merupakan program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) yang didanai melalui Program Hibah Penelitian dan Pengabdian RisetMu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu program pendanaan riset dan pengabdian bagi dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia.
Ketua tim pengabdian, Idhoofiyatul Fatin, menegaskan bahwa pembelajaran dirancang agar anak-anak merasakan belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa belajar itu tidak menakutkan. Belajar bisa dilakukan dengan gembira, bahkan menjadi bagian dari ibadah, terutama di bulan Ramadan,” ujarnya.
Berawal dari Pelatihan Relawan
Program ini tidak hanya menyasar anak binaan, tetapi diawali dengan pelatihan relawan pengajar RSAF mengenai manajemen kelas multijenjang, yakni model pembelajaran yang memungkinkan anak dengan usia dan kemampuan berbeda belajar bersama secara efektif.
Pendampingan kepada anak menjadi tahap implementasi akhir dari pelatihan tersebut.
Menurut Ahmad Mahmudi selaku PIC Pembelajaran RSAF, kehadiran program ini menghadirkan pendekatan baru dalam proses belajar anak-anak binaan.
“Anak-anak di sini berasal dari keluarga prasejahtera. Kami berusaha menghadirkan ruang belajar yang aman dan menyenangkan agar mereka percaya diri untuk terus belajar,” katanya.
Edugames “Rimba Aksara” Ajak Anak Belajar Sambil Bermain
Melalui media pembelajaran Rimba Aksara: Jelajah Literasi dan Numerasi Surabaya, anak-anak diajak belajar menggunakan papan permainan edukatif yang dipadukan dengan pemindaian barcode digital.
Setiap tantangan permainan menghadirkan soal literasi dan numerasi yang dikaitkan dengan ikon Kota Surabaya seperti Kebun Binatang Surabaya, Monumen Kapal Selam, Tugu Pahlawan, Jembatan Suramadu, serta kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo.
Sorak sorai terdengar setiap kelompok berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Relawan pengajar dan mahasiswa pendamping tampak sabar membantu anak-anak memahami soal.
“Mereka sebenarnya punya potensi besar. Yang dibutuhkan hanya pendampingan dan rasa percaya diri,” kata Idhoofiyatul Fatin.
Dukungan Kecil, Harapan Besar
Menjelang berbuka puasa, seluruh peserta—mulai anak binaan, relawan pengajar, pengurus PRM Medokan Semampir, dosen, mahasiswa, hingga mitra komunitas dari LDK Jawa Timur dan Qur’an Best —duduk bersama menikmati hidangan sederhana.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian alat tulis sekolah (ATK) sebagai dukungan nyata untuk memperkuat semangat belajar anak-anak binaan. Selain itu, mereka juga menerima paket sembako dari donatur Qur’an Best guna membantu kebutuhan keluarga selama bulan Ramadan.
Direktur RSAF, Yusfit Effendi, menilai kegiatan ini menghadirkan dampak lebih dari sekadar pembelajaran.
“Bagi anak-anak kami, perhatian seperti ini memberi harapan bahwa mereka tidak sendiri dalam meraih masa depan,” ungkapnya.
Di Rumah Singgah Al Furqon, Ramadan tahun ini tidak hanya diisi ibadah, tetapi juga tumbuhnya keyakinan baru bahwa pendidikan mampu membuka jalan perubahan bahkan dimulai dari permainan sederhana yang menumbuhkan keberanian anak untuk belajar dan bermimpi.
Program ini menjadi bukti bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat menghadirkan pendidikan yang humanis: menguatkan literasi, membangun aqidah, sekaligus menumbuhkan optimisme bagi anak-anak prasejahtera dan disabilitas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments