Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Jati Diri Hilang Oleh Kebiasaan Meniru

Iklan Landscape Smamda
Ketika Jati Diri Hilang Oleh Kebiasaan Meniru
Foto: Project Post Mortem Best Practices Blog
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Latah dalam hidup” mengacu pada sindrom spesifik budaya yang ditandai dengan respons kaget berlebihan terhadap stimulus (rangsangan), sering kali disertai dengan pengulangan kata-kata, frasa, atau gerakan orang lain secara tidak sadar. Ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan dianggap sebagai gangguan gejala kejiwaan.

Karakteristik Utama Latah

Respons latah dapat bermanifestasi dalam beberapa cara:

  • Ekolalia: Mengulangi kata-kata atau suara yang diucapkan oleh orang lain.
  • Palilalia: Mengulangi suku kata atau kata yang diucapkan oleh diri sendiri.
  •  Ekopraksia: Meniru gerakan fisik orang lain secara tidak sengaja.
  •  Koprolalia: Mengucapkan kata-kata tabu atau berkonotasi seksual yang biasanya dihindari.
  •  Kepatuhan yang dipaksakan: Melakukan tindakan yang diperintahkan secara otomatis.

Penyebab latah bersifat multifaktorial, meliputi:

  • Respons Neurologis: Dianggap berhubungan dengan gangguan fungsi otak dalam mengatur tuturan dan gerakan.
  • Faktor Lingkungan/Budaya: Latah sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Respons positif (dianggap lucu atau menghibur) dari lingkungan dapat memperkuat perilaku latah, sehingga sulit disembuhkan.
  • Kecemasan: Tingkat kecemasan yang tinggi juga dapat memicu atau memperburuk latah.
  • Gangguan Perkembangan Mental: Pada anak-anak, latah bisa menjadi gejala dari gangguan spektrum autisme.

Dampak dalam kehidupan sehari-hari:

  • Interaksi Sosial: Meskipun seringkali dianggap lucu dalam budaya tertentu, individu yang mengalami latah mungkin merasa malu dan ingin sembuh.
  • Komunikasi: Latah dapat mengganggu komunikasi yang fasih dan normal, membuat tuturan menjadi tersekat-sekat.
  • Stigma: Orang yang latah mungkin menghadapi stigma atau menjadi bahan ejekan, meskipun ini adalah kondisi di luar kendali mereka.

Latah dapat ditangani dengan pendekatan seperti terapi wicara atau bentuk perawatan khusus lainnya, terutama jika kondisi ini menyebabkan stres signifikan atau mengganggu fungsi sehari-hari.

Dalam perspektif agama, latah yang buruk adalah latah dalam perilaku. Yakni, mudah mengenakan dan meniru-meniru ciri kepribadian umat lain. Karena, itu akan menjadi petaka yang tak mudah reda bagi.

Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa lain.

Dan itulah yang disebut dengan latah, mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.

Sejak zaman Nabi Adam hingga makhluk terakhir ciptaan Allah, tak pernah ada dua orang yang sama persis rupanya.

Maka, mengapa masih ada orang-orang yang memaksa diri untuk menyamakan perilaku dan kepribadiannya dengan umat atau bangsa lain?

Anda merupakan sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak ada seorang pun yang menyerupai Anda dalam catatan sejarah kehidupan ini.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Belum pernah ada seorang pun yang diciptakan sama dengan Anda, dan tidak akan pernah ada orang yang akan serupa dengan Anda di kemudian hari.

Karenanya, jangan memaksakan diri untuk berbuat latah dan meniru-niru kepribadian orang lain, kepribadian umat lain dan agama lain. Tetaplah berpijak dan berjalan pada kondisi dan karakter Anda sendiri.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 148)

Hiduplah sebagaimana Anda diciptakan; jangan mengubah suara, menganti intonasinya, dan jangan pula merubah cara berjalan Anda! Tuntunlah diri Anda dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan kondisi Anda dan membunuh kemerdekaan Anda sendiri.

Anda memiliki corak dan warna tersendiri. Dan kami menginginkan agar Anda tetap seperti itu; dengan corak dan warna Anda sendiri. Sebab Anda memang diciptakan demikian adanya. Kami mengenal Anda seperti itu, maka jangan pernah latah dengan meniru-niru orang lain.

Umat manusia — dengan pelbagai macam tabiat dan wataknya — seperti alam tumbuhan: ada yang manis dan asam, dan ada yang panjang dan pendek. Dan seperti itulah seharusnya umat manusia.

Jika Anda seperti pisang, Anda tak perlu mengubah diri menjadi jambu, sebab harga dan keindahan Anda akan tampak jika Anda menjadi pisang.

Begitulah, sesungguhnya perbedaan warna kulit, bahasa, dan kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pencipta. Karena itu, jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda kebesaran-Nya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu