Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Kelas AIK Bertemu Dunia Digital: Menyiapkan Insinyur Informatika yang Taat, Cakap, dan Berkemajuan

Iklan Landscape Smamda
Ketika Kelas AIK Bertemu Dunia Digital: Menyiapkan Insinyur Informatika yang Taat, Cakap, dan Berkemajuan
Nilam Tri Astuti. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Nilam Tri Astuti Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan
pwmu.co -

Bayangkan seorang mahasiswa magister teknik informatika yang siang hari bergulat dengan algoritma, jaringan, dan kecerdasan buatan, tetapi malam hari tenggelam dalam notifikasi media sosial tanpa kendali.

Di satu sisi, ia sedang menyiapkan diri menjadi profesional teknologi; di sisi lain, ia berisiko terseret arus informasi yang dangkal, hoaks, hingga konten yang menjauhkan dari nilai-nilai tauhid. Di sinilah pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di perguruan tinggi Muhammadiyah menemukan relevansinya sebagai ruang bertemu antara ilmu, iman, dan teknologi.​​

Ketika Kelas AIK Bertemu Dunia Digital

Mahasiswa magister teknik informatika hidup di dua dunia sekaligus. Di kelas, mereka berjibaku dengan algoritma, jaringan, dan kecerdasan buatan; di luar kelas, jari-jemari mereka tak lepas dari gawai, dari notifikasi grup hingga konten hiburan yang tak ada habisnya.​​

Di tengah ritme seperti itu, nilai-nilai agama mudah sekali tergeser ke pinggir. Akses kajian agama memang kian mudah, tetapi bersamaan dengan itu, hoaks, ujaran kebencian, dan tafsir keagamaan yang sempit juga berseliweran tanpa henti. Pertanyaannya, bagaimana perguruan tinggi bisa menyiapkan calon ahli IT yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kuat karakter religiusnya.​​

AIK di Kampus: Ruang Menata Iman dan Pikiran

Di perguruan tinggi Muhammadiyah, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) tidak dimaksudkan hanya sebagai formalitas penggugur SKS. Melalui AIK, mahasiswa diajak memahami Islam sebagai agama yang memadukan tauhid, akhlak, dan kepedulian sosial, sekaligus mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.​​

Penelitian pada mahasiswa Magister Teknik Informatika menunjukkan bahwa pembelajaran AIK di kelas mereka dinilai sangat efektif. Rata-rata skor efektivitas mencapai 4,30 dari skala 1–5, dengan kualitas materi, metode, pemanfaatan media digital, dan evaluasi sama-sama berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.

Bukan hanya itu, karakter religius mahasiswa juga berada di kategori sangat tinggi, dengan rata-rata 4,49 pada aspek ibadah, akhlak, tanggung jawab religius, dan sikap bermedia digital.​

Angka-angka ini memberi pesan sederhana: ketika dirancang dengan serius dan kontekstual, AIK bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa, bukan sekadar “mata kuliah wajib yang penting lulus”.​

Islam Berkemajuan di Ruang Digital

Salah satu sisi menarik dari pembelajaran AIK di kelas tersebut adalah cara dosen memanfaatkan media digital. Materi tidak hanya disampaikan lewat ceramah di ruang kelas, tetapi juga melalui bahan ajar digital, forum diskusi daring, dan berbagai platform yang sudah akrab dengan mahasiswa teknologi.​​

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah: terbuka terhadap sains dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Teknologi ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Kelas AIK mengajarkan bahwa cara kita menggunakan gawai, memilih tontonan, menulis komentar, sampai membagikan informasi, semuanya termasuk wilayah pertanggungjawaban di hadapan Allah.​​

Istilah seperti tabayyun, menjauhi ghibah dan fitnah, dan menjaga lisan kini mendapat terjemahan baru di ruang digital. Bukan hanya soal apa yang diucapkan secara lisan, tetapi juga apa yang diunggah, disebarkan, dan dikomentari di berbagai platform.​​

Dari Coder Menjadi “Insinyur Beradab”

Mahasiswa pascasarjana teknik informatika hari ini adalah calon perancang sistem dan pengembang aplikasi di masa depan. Keputusan mereka akan berpengaruh pada banyak orang: dari urusan keamanan data, sistem pelayanan publik, sampai platform yang dipakai jutaan pengguna.​​

Tanpa fondasi nilai yang kokoh, kecanggihan teknologi dapat berubah menjadi alat yang merugikan manusia, misalnya ketika data pribadi diolah tanpa etika atau teknologi digunakan untuk memperkuat ujaran kebencian.

Temuan bahwa karakter religius mahasiswa berada pada kategori sangat tinggi memberi harapan bahwa pembelajaran AIK bisa ikut menyiapkan “insinyur beradab”: profesional IT yang memandang pekerjaannya sebagai amanah dan ladang ibadah, bukan sekadar sarana mengejar karier.​​

Dalam kerangka Islam berkemajuan, sikap ini penting. Ilmu dan teknologi tidak dipisahkan dari tauhid dan akhlak. Setiap baris kode dan desain sistem dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk menghadirkan kemaslahatan seluas-luasnya.​​

PR Bersama: Merangkul yang Masih Ragu

Meski mayoritas mahasiswa memberikan penilaian sangat tinggi, penelitian juga mencatat bahwa masih ada beberapa responden yang berada pada kategori sedang bahkan rendah, baik dalam menilai efektivitas pembelajaran maupun dalam aspek karakter religius. Artinya, belum semua mahasiswa merasakan dampak AIK secara sama.​

Ada banyak faktor yang mungkin berpengaruh: latar belakang keagamaan yang berbeda, pengalaman mengikuti kegiatan keagamaan yang belum intens, atau motivasi belajar yang naik turun. Karena itu, pembelajaran AIK perlu terus dikembangkan agar lebih dialogis dan personal. Diskusi dua arah, tugas reflektif yang dekat dengan pengalaman harian, serta pendampingan di luar kelas bisa membantu mahasiswa yang masih berada di kategori sedang untuk pelan-pelan naik kelas.​​

Ke depan, kelas AIK di lingkungan teknik informatika berpotensi menjadi “laboratorium nilai digital”. Di sana, ayat-ayat Al-Qur’an dan gagasan Islam berkemajuan dipertemukan dengan persoalan nyata dunia teknologi: dari hoaks, perundungan siber, sampai isu privasi dan kedaulatan digital. Bila ini terus dirawat, kita bisa berharap lahir generasi ahli IT yang tidak hanya piawai di depan layar, tetapi juga jernih hati dan pikirannya ketika menatap masa depan umat dan bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu