Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Sibuk Melihat Aib Orang, Amal Sendiri Hancur Perlahan

Iklan Landscape Smamda
Ketika Sibuk Melihat Aib Orang, Amal Sendiri Hancur Perlahan
Foto: Shutterstock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Al istighlal bi’uyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) adalah penyakit hati yang halus namun sangat berbahaya. Ia bisa merusak amal baik seseorang tanpa disadari.

Orang yang terjangkit penyakit ini mudah menilai, cepat berkomentar, dan sibuk menelanjangi kesalahan orang lain, padahal dirinya sendiri tak luput dari kekurangan.

Kita sering mendengar pepatah, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Inilah potret manusia yang lebih jeli melihat dosa orang lain ketimbang kekurangan dirinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian mampu melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi lupa dengan kayu besar di matanya sendiri.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 592)

Lihatlah di lingkungan kerja atau kampus. Ada orang yang rajin menegur rekan karena datang terlambat, padahal dirinya pun sering tidak menepati janji. Ada pula yang gemar membicarakan kelemahan pimpinan atau teman, seolah dirinya yang paling sempurna.

Padahal, setiap kali lidah ini mengeluarkan kata yang melukai atau menjelekkan, sebenarnya kita sedang menabung dosa dan menghapus pahala sendiri.

Di media sosial pun fenomena ini begitu nyata. Banyak yang menghabiskan waktu untuk mengomentari keburukan orang lain—dari cara berpakaian, gaya bicara, hingga urusan rumah tangga publik figur.

Padahal, energi sebesar itu bisa digunakan untuk memperbaiki diri, menambah ilmu, atau memperbanyak amal kebaikan.

Hobi ghibah atau “rasan-rasan” (menggunjing) tak hanya mencemari hati, tetapi juga bisa membuat seseorang bangkrut di akhirat.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang rajin beribadah tetapi suka menyakiti orang lain dengan lisannya, amalnya akan dipindahkan kepada orang yang ia dzalimi. Jika amalnya habis, dosa orang yang ia zalimi justru akan ditimpakan kepadanya.

Betapa rugi seseorang yang tampak rajin berbuat baik, namun tak menjaga lisannya.
Ia menumpuk pahala dengan salat dan sedekah, tapi di sisi lain menghapusnya sendiri lewat komentar dan gunjingan.

Fokus utama seorang Muslim seharusnya adalah memperbaiki diri, bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Orang yang sibuk menilai orang lain tak akan sempat menata hatinya sendiri.
Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan nasihat yang sangat dalam:

“Jika Allah membukakan untukmu pintu salat malam, janganlah engkau melihat orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa jadi orang yang tidur, yang tidak berpuasa, atau yang tidak berjihad, justru lebih dekat dengan Allah daripada dirimu.” (Madaarijus Saalikiin, 1/177)

Berapa banyak di antara kita yang rajin beribadah, tetapi merasa lebih baik dari orang lain? Seseorang bisa saja bangun malam setiap hari, tetapi hatinya merasa bangga dan meremehkan orang yang masih terlelap.

Ada pula yang rajin bersedekah, tetapi dalam hatinya terselip perasaan ingin dipuji atau membandingkan dirinya dengan yang tak memberi.

Padahal, kata Ibnul Qayyim, “Lebih baik engkau tidur semalam penuh lalu bangun pagi dalam keadaan menyesal, daripada engkau shalat malam penuh namun di pagi hari merasa ujub (bangga diri).”

Ujub, riya, dan merasa paling benar adalah racun halus yang menghapus amal saleh tanpa kita sadari.

Menjaga hati dan lisan adalah kunci agar amal kita tidak rusak. Daripada membicarakan keburukan orang lain, lebih baik kita sibuk memperbaiki kekurangan diri sendiri. Daripada menghakimi, lebih baik mendoakan. Daripada menyebar aib, lebih baik menutupinya.

Kebaikan sejati tidak hanya terlihat dari banyaknya amal, tetapi dari bersihnya niat dan lembutnya hati terhadap sesama.

Intinya, sibuk dengan aib orang lain sama saja dengan menggali kubur bagi amal kita sendiri.
Maka, mari berusaha menjadi hamba yang sibuk memperbaiki diri, bukan menghakimi orang lain. Karena bisa jadi, mereka yang kita anggap “kurang ibadah” justru lebih dekat dengan Allah daripada kita yang merasa saleh. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu