Di negeri yang gemar mengutip dalil tapi malas mengakui tafsir, kita sering menjumpai satu gejala klasik: pemahaman keagamaan diperlakukan seolah-olah wahyu itu sendiri.
Seakan-akan, begitu seseorang berbicara atas nama agama, maka yang keluar dari lisannya bukan lagi tafsir, tapi kebenaran mutlak. Padahal, kalau mau sedikit jujur, yang mutlak itu cuma Tuhan dan firman-Nya. Selebihnya? Ya tafsir manusia yang rawan salah, bias, bahkan kadang melenceng.
Mari kita mulai dari hal yang sederhana tapi sering dilupakan: Islam sebagai wahyu dan pemahaman tentang Islam adalah dua entitas yang berbeda.
Al-Qur’an sebagai teks suci memiliki otoritas kebenaran mutlak. Ia diyakini sebagai kalam Tuhan yang sempurna.
Tapi begitu ayat itu ditafsirkan, diterjemahkan, dipahami, dan dikontekstualisasikan oleh manusia, maka ia sudah masuk wilayah profan: wilayah kemungkinan benar sekaligus salah.
Islam normatif vs Islam Historis
Di sinilah pentingnya membedakan antara Islam normatif dan Islam historis, sebagaimana dijelaskan oleh pemikir Muslim Indonesia, Amin Abdullah. Islam normatif adalah ajaran ideal yang terkandung dalam wahyu: murni, absolut, dan transenden.
Sementara Islam historis adalah bagaimana manusia memahami, menafsirkan, dan mempraktikkan ajaran itu dalam realitas sosial yang penuh keterbatasan.
Campur aduk Teks dan, Tafsir
Masalahnya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Tafsir dianggap sama sucinya dengan teks. Pendapat ulama diperlakukan seperti ayat.
Bahkan, keputusan lembaga keagamaan kadang diposisikan seperti sabda langit yang tidak boleh dibantah. Di titik ini, agama yang seharusnya membebaskan justru berubah jadi alat pembekuan nalar.
Ambil contoh yang cukup hangat: pernyataan KH. Cholil Nafis, Wakil Ketua MUI, yang menyebut bahwa pengumuman hari raya di luar ketetapan pemerintah “menjurus haram.”
Pernyataan ini tentu lahir dari proses ijtihad yakni upaya memahami teks Al-Qur’an dan hadis dalam konteks sosial tertentu. Tidak ada masalah dengan ijtihad. Justru itu bagian penting dari tradisi intelektual Islam.
Yang jadi soal adalah ketika hasil ijtihad itu dipresentasikan seolah-olah sebagai kebenaran final yang mengikat semua orang.
Hasil Tafsir Relatif
Padahal, ijtihad itu sifatnya zanni dugaan kuat, bukan kepastian mutlak. Ia terbuka untuk diperdebatkan, dikritik, bahkan ditolak.
Dalam sejarah Islam, perbedaan penentuan awal Ramadan dan Idulfitri bukan barang baru. Dari metode rukyat sampai hisab, dari perbedaan mazhab sampai perbedaan otoritas negara semuanya menunjukkan bahwa wilayah ini memang ruang tafsir, bukan ruang absolutisme.
Kalau kita pakai kacamata Amin Abdullah, maka pernyataan tersebut berada di wilayah Islam historis yakni hasil konstruksi sosial-keagamaan yang dipengaruhi oleh konteks negara, otoritas kelembagaan, dan kepentingan stabilitas sosial. Ia bukan Islam normatif yang sakral.
Maka, menyebut praktik berbeda sebagai “menjurus haram” tanpa membuka ruang dialog justru berpotensi menutup tradisi intelektual Islam itu sendiri. Ini seperti ingin menyeragamkan warna pelangi jadi satu warna saja rapi sih, tapi kehilangan keindahan.
Lebih jauh lagi, sikap semacam ini bisa berbahaya. Ketika tafsir dianggap mutlak, maka kritik dianggap pembangkangan. Perbedaan dianggap ancaman. Dan pada akhirnya, agama kehilangan wajahnya yang ramah dan dialogis.
Padahal, sejak awal, Islam tumbuh dalam tradisi perbedaan. Para sahabat Nabi saja berbeda pendapat, tapi tidak saling mengharamkan. Imam Syafi’i dan Imam Hanafi punya metode berbeda, tapi tidak saling membatalkan.
Bahkan dalam satu mazhab pun, perbedaan itu dianggap rahmat, bukan musibah.
Jadi, mungkin yang perlu kita lakukan hari ini bukan memperbanyak fatwa, tapi memperbanyak kerendahan hati.
Mengakui bahwa apa yang kita pahami tentang agama belum tentu identik dengan apa yang Tuhan maksudkan.
Karena pada akhirnya, yang mutlak itu wahyu. Yang lain? Ya tafsir. Dan tafsir, seperti manusia yang membuatnya, selalu punya kemungkinan untuk keliru.
Kalau semua orang sadar posisi ini, mungkin kita tidak akan mudah mengharamkan orang laindan tidak terlalu cepat merasa jadi juru bicara Tuhan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments