Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur, Dedi Irwansyah, mendorong kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk aktif berdiskusi, memperluas jejaring silaturahmi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut ia sampaikan dalam agenda Resepsi Milad yang diselenggarakan oleh PC IMM Kota Surabaya di Gedung A 501 Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Jumat (13/3/2026).
Dalam pemaparannya, Dedi menceritakan pengalaman masa kuliahnya di Universitas Negeri Surabaya. Ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan membangun forum diskusi bersama mahasiswa lainnya.
Menurutnya, aktivitas diskusi tersebut justru menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan dan melatih kemampuan berpikir kritis.
“Rumus saya hanya diskusi, silaturahmi, dan bergerak. Itu saja yang saya lakukan sejak dulu,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa pada masa kuliah, forum-forum diskusi yang diikutinya sering digelar secara sederhana, bahkan di area persawahan di sekitar kampus Ketintang.
“Diskusi zaman saya dulu sederhana. Kadang di dekat sawah, kadang di tempat seadanya. Tapi dari situlah banyak ide dan gagasan lahir,” katanya.
Selain menekankan pentingnya diskusi, Dedi juga mengingatkan kader IMM untuk tidak tertinggal dalam memahami perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI yang saat ini berkembang pesat.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, namun juga memiliki dampak yang perlu disikapi secara bijak.
“Perkembangan AI ini tidak bisa dihindari. Di satu sisi membantu manusia dalam pekerjaan teknis, tetapi di sisi lain juga bisa menggerus aspek kemanusiaan jika tidak disikapi dengan bijak,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong kader IMM agar tidak hanya berdiskusi mengenai isu-isu keagamaan, tetapi juga memperluas pembahasan pada perkembangan teknologi dan persoalan kontemporer lainnya.
“Jangan hanya berdiskusi soal ayat atau persoalan keagamaan saja. AI juga harus menjadi bahan diskusi, karena masa depan teman-teman akan banyak berkaitan dengan teknologi itu,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menekankan pentingnya keberanian menyampaikan gagasan di ruang publik. Menurutnya, banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki ide dan pemikiran, tetapi enggan menyampaikan karena takut salah.
Ia menilai sikap tersebut justru dapat menghambat perkembangan diri.
“Kalau takut menyampaikan pendapat, itu yang membuat kita gagal berkembang. Ide yang ada di pikiran harus disampaikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai kemampuan komunikasi dan bercerita atau bernarasi menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh kader organisasi mahasiswa.
Kemampuan tersebut, menurutnya, akan membantu kader dalam menyampaikan gagasan, memengaruhi publik, serta memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai pihak.
Sebagai kader Muhammadiyah yang kini terjun di dunia politik, Dedi mengaku banyak membangun komunikasi lintas organisasi kepemudaan (OKP). Ia menilai silaturahmi dan komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas peran kader di ruang publik.
“Saya tidak punya rumus khusus. Saya hanya rutin berdiskusi, bersilaturahmi, dan terus bergerak. Dari situ banyak peluang terbuka,” tegasnya.
Ia berharap kader IMM dapat terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta jejaring sosial sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
Resepsi Milad PC IMM Kota Surabaya tersebut dihadiri oleh para kader dan pimpinan komisariat di beberapa kampus Surabaya. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran kader dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments