Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Menengah Kecil Muhammadiyah (LP-UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Apt. Tony Firmansyah, menegaskan bahwa gerakan ekonomi Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada tataran wacana.
“Ini bukan lagi sekadar gerakan, tetapi harus menjadi gerak ekonomi. Sudah saatnya muncul orang kaya Islam dari Persyarikatan,” ujarnya dalam sambutan Tabligh Akbar dan launching ITMU–ACMU di kediaman Ketua LP-UMKM PWM Jawa Timur, Imam Sugiri, Tulangan, Sidoarjo, Ahad (26/10/2025).
Tony mengungkapkan bahwa pihaknya telah memulai inisiatif produksi barang dari Muhammadiyah untuk dikelola, digunakan, dan dimajukan oleh warga Muhammadiyah sendiri. “Kami sudah mulai membuat produk. Produk ini dari Muhammadiyah untuk Muhammadiyah dan untuk umat Islam. Harapan kami besar kepada bapak-ibu sebagai episentrum baru,” katanya.
Ia menyebut bahwa tidak hanya ITMU, tetapi juga ACMU kini harus digerakkan sebagai pusat lahirnya pengusaha Muhammadiyah.
Berdasarkan keputusan Muktamar Makassar, pilar ekonomi Muhammadiyah harus hidup,” tegas pengusaha asal Kecamatan Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang juga owner produk skincare SR12 itu.
Target Jangka Panjang: Lahirnya Konglomerat Muslim dari Muhammadiyah
Tony menyampaikan proyeksi optimistis bahwa dalam satu sampai dua dekade ke depan, peta kekayaan di Indonesia harus berubah.
“Sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun ke depan, orang kaya Indonesia tidak lagi didominasi yang non-Muslim. Akan lahir orang kaya Islam dari Muhammadiyah. Itu harapan kita bersama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi Muhammadiyah sudah mulai tampak melalui Sumu (Serikat Usaha Muhammadiyah) yang dibentuk oleh LP-UMKM PP Muhammadiyah, termasuk jaringan Saudagar Muhammadiyah yang digagas Majelis Ekonomi.
“Tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus masuk ke fase akademi pengusaha Muhammadiyah. Karena menjadi pengusaha itu ada ilmunya,” ujarnya.
Mengutip QS Al-Mujadalah ayat 11, Tony menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu. “Karena itu, ke depan pengusaha Muhammadiyah harus lahir tidak hanya perorangan, tetapi melalui konsorsium pengusaha Muhammadiyah,” jelasnya.
Muhammadiyah Dulu Lahir dari Spirit Ekonomi
Dalam refleksinya, Tony mengingatkan bahwa ekonomi bukan hal baru dalam napas Muhammadiyah. “Muhammadiyah berdiri tahun 1912, dan awalnya tumbuh dari gerak ekonomi—dari pembatik, petani, dan pengusaha,” tuturnya.
Ia mencontohkan ayahnya yang mendirikan ranting Muhammadiyah di kampung. “Yang ditemui ayah saya saat membangun ranting bukan orang-orang kantoran, tapi pengusaha, petani, dan peternak. Begitulah Muhammadiyah tumbuh,” kata Tony mengakhiri paparannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments