Siang Ahad itu, udara Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Jawa Timur terasa berbeda. Bukan sekadar derap langkah kaki para santri yang berbaris rapi, tetapi juga semangat baru yang menguar; semangat kebersamaan, kemandirian, dan kaderisasi. Di tempat inilah, Kemah Perdana Santri Muhammadiyah Jawa Timur resmi dibuka, Ahad (14/12/2025).
Kegiatan yang digagas Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) PWM Jawa Timur bersama Kwartir Wilayah Hizbul Wathan (HW) Jawa Timur ini menjadi tonggak sejarah baru bagi pesantren Muhammadiyah di Pulau Jawa. Untuk pertama kalinya, kemah santri tingkat wilayah digelar, mempertemukan santri-santri dari Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Jawa Timur dalam satu arena pembinaan karakter.
Selama tiga hari, 14–16 Desember 2025, para santri tidak hanya berkemah. Mereka ditempa melalui berbagai cabang perlombaan dan kegiatan yang memadukan disiplin kepanduan, kecakapan intelektual, serta pendalaman nilai-nilai keislaman. Parade Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan Semaphore Dance menguji kekompakan dan kepemimpinan. MTQ, MQK, Tahfidz Al-Qur’an, hingga Dirosah Islamiyah mengasah ketajaman ilmu dan spiritualitas.
Pembukaan kemah ini turut dihadiri jajaran pimpinan Muhammadiyah tingkat pusat dan wilayah. Hadir Ketua LP2M PP Muhammadiyah Dr. H. Maskuri, M.Ed., Wakil Ketua PWM Jawa Timur Dr. Syamsuddin, Ketua LP2M PWM Jawa Timur Pradana Boy ZTF, PhD, Ketua Kwarwil HW Jawa Timur, serta para pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah tingkat wilayah.
Dalam sambutannya, Ketua LP2M PP Muhammadiyah Dr. H. Maskuri menegaskan bahwa kemah ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal dari gerakan besar penguatan pesantren Muhammadiyah. Ia menyebut, Kemah Santri Muhammadiyah Jawa Timur merupakan yang pertama di Pulau Jawa.
“Di luar Jawa, kegiatan ini sudah berjalan delapan kali, salah satunya di Sulawesi Selatan. Bahkan pesertanya mencapai 4.000 santri dengan dukungan penuh pemerintah daerah,” ungkapnya.
Maskuri mengapresiasi LP2M PWM Jawa Timur yang berani memulai langkah strategis ini. Menurutnya, meski masih perdana dan belum melibatkan seluruh pesantren Muhammadiyah di Jawa Timur, kemah ini menjadi awal yang sangat baik.

Lebih jauh, Maskuri menguraikan pesatnya perkembangan pesantren Muhammadiyah sejak Muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015. Jika dahulu hanya sekitar 120 pesantren tersebar di 15 wilayah, kini jumlahnya melonjak menjadi 445 pondok pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
“Secara jumlah, Muhammadiyah adalah organisasi Islam dengan pesantren terbanyak. Jawa Tengah memiliki 128 pesantren, disusul Jawa Timur sekitar 80 pesantren,” jelasnya.
Namun, perkembangan kuantitas itu, lanjut Maskuri, harus diiringi peningkatan kualitas. Di sinilah pentingnya kemah santri sebagai ruang pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kaderisasi. Ia menegaskan bahwa pondok pesantren dan sekolah Muhammadiyah wajib menghidupkan ekstrakurikuler Hizbul Wathan, Tapak Suci, dan IPM.
“Melalui kegiatan inilah kita menyiapkan calon pemimpin masa depan ulama yang berkemajuan dan kader persyarikatan yang tangguh,” tegasnya.
Sebagai penanda optimisme ke depan, Maskuri juga menyampaikan kabar penting: LP2M PWM Jawa Timur siap menjadi tuan rumah Kemah Santri Nasional Muhammadiyah II yang direncanakan berlangsung pada akhir Agustus 2026. Sebelumnya, kemah santri tingkat nasional pertama telah sukses digelar di Karanganyar pada 2024.
Dari tenda-tenda sederhana di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Jawa Timur, harapan itu tumbuh. Kemah ini bukan sekadar ajang lomba, melainkan ruang menyemai nilai, menumbuhkan militansi, dan menyiapkan generasi santri Muhammadiyah yang siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan persyarikatan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments