Ketua LPCRPM PWM Jawa Timur, Dr. Hasan Ubaidillah, M.M., menyampaikan kebijakan, prioritas, dan arah strategis LPCRPM PWM Jawa Timur tahun 2026 dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) yang digelar Sabtu (14/2/2026) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Dalam penyampaiannya yang penuh semangat, Hasan menegaskan bahwa Cabang dan Ranting merupakan penghubung utama antara organisasi Muhammadiyah dengan masyarakat. Apa pun kebijakan Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah, ujung pelaksana dan representasinya tetap berada di tingkat Cabang dan Ranting.
“Kita ini penghubung organisasi dengan masyarakat. Representasi nilai dan ideologi Muhammadiyah itu terlihat dari Cabang dan Ranting. Kalau di bawah tidak baik, masyarakat akan menilai Muhammadiyah dari situ,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa Cabang dan Ranting memegang peran strategis dalam menjaga citra, nilai, dan gerakan Muhammadiyah di tengah masyarakat. Karena itu, tanggung jawab yang diemban tidak ringan. Gerakan di akar rumput menjadi wajah nyata Muhammadiyah.
Tantangan: Minoritas, Pertumbuhan Lambat, dan Keterbatasan SDM
Hasan juga memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi. Dari sekitar 3.800 lebih Ranting di Jawa Timur, tidak semuanya dalam kondisi aktif dan hidup. Pertumbuhan Cabang dan Ranting baru pun tergolong lambat. Dalam satu tahun, mendirikan sekitar 15 Ranting saja sudah dianggap luar biasa.
Selain itu, ia menyoroti keterbatasan sumber daya manusia dan belum meratanya kualitas gerakan di berbagai daerah. Prestasi Jawa Timur sebagai juara umum Cabang-Ranting terbaik tingkat nasional memang membanggakan. Namun, menurutnya, sebaran Cabang dan Ranting unggulan masih terkonsentrasi di wilayah tertentu dan belum merata.
“Ini tidak sehat kalau hanya daerah tertentu yang terus menjadi nominasi dan juara. Harus ada pemerataan, sehingga yang kuat menginspirasi yang lain,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi perjuangan para aktivis Cabang dan Ranting di daerah, termasuk di pelosok dan pegunungan, yang tetap istiqamah menggerakkan pengajian dan aktivitas organisasi meski dengan segala keterbatasan.
Fokus Strategis 2026
Dalam arah kebijakan 2026, Pak Ubaid menegaskan beberapa fokus utama:
Satu, Pertambahan jumlah Cabang dan Ranting. Ini menjadi prioritas terdekat untuk memperkuat struktur dan basis gerakan Muhammadiyah di Jawa Timur.
Dua, Penguatan kapasitas dan kualitas Cabang-Ranting. Termasuk pembinaan, penyegaran pimpinan, serta penyederhanaan mekanisme agar kader yang ingin aktif tidak terhambat secara administratif.
Tiga, Penguatan masjid sebagai pusat gerakan. Ia menekankan pentingnya menghubungkan masjid dengan Ranting agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Masjid harus menjadi pusat penguatan iman, ilmu, dan gerakan sosial.
Empat, Penguatan tim dan media. LPCRPM PWM Jatim telah membentuk tim media, tim penulisan buku sejarah perjuangan Cabang-Ranting, serta tim penguatan masjid dan program lainnya.
Lima, Kolaborasi strategis dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. LPCRPM akan menginisiasi pertemuan dengan para rektor PTMA untuk mendorong program KKN tematik berbasis Cabang dan Ranting. Harapannya, setiap KKN dapat bersinergi dan berkontribusi langsung terhadap pengembangan Cabang-Ranting.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi. KKN tematik yang dikoordinasikan dengan Cabang dan Ranting akan sangat membantu percepatan penguatan struktur,” jelasnya.
Menyiapkan Warisan Kepemimpinan
Hasan Ubaidillah juga menyinggung bahwa periode kepemimpinan PWM Jawa Timur akan berakhir pada 2027. Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran LPCRPM untuk menyiapkan legacy yang kuat, terutama dalam memastikan Cabang dan Ranting tetap hidup, berkembang, dan mampu menunaikan amanah organisasi.
Ia berharap, melalui langkah strategis dan kolaboratif, Muhammadiyah Jawa Timur semakin kokoh di tingkat akar rumput, tidak hanya bertambah secara kuantitas, tetapi juga menguat dalam kualitas gerakan.
“Cabang dan Ranting adalah penentu representasi Muhammadiyah. Jika di bawah kuat, maka organisasi ini akan tetap kokoh dan berkemajuan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments